Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
TURI SEBAGAI TEMPAT AJANG FERSTIVAL KETHOPRAK TINGKAT KABUPATEN SLEMAN 2018

Pementasan Wayang Kulit Pandowo Kumpul dalam Acara Syawalan Dusun Keyongan Kidul

Bank Sampah" Alam Lestari" Srigading, mengubah sampah menjadi berkah

Kemeriahan Takbir Keliling di Dusun Ceme, Srigading,Sanden,Bantul

Rapat Koordinasi dan Buka Bersama Forum Desa Budaya Srigading

Kursi Taman Limbah Keramik,Hasil Karya Warga Desa Budaya Srigading

Di Balik Penemuan Candi: Kelupaan Sejarah?

Pesona Dunia Bawah Laut dari Rajutan dan Crochet pada Pameran ArtJog 2018

Merosotnya Penggunaan Bahasa Jawa, Laksana Berlayar dengan Kapal Retak

Polemik Tanggal dan Tempat Lahir Wage Rudolf Soepratman, Usik Upaya Pelurusan Sejarahnya

Menyajikan data ke- 1-10 dari 340 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Warna Lain Mainan Tradisional Angkrek di Tangan Seniman Tari
« Kembali

Tanggal berita : Selasa, 9 Januari 2018
Dibaca: 1550 kali

Berawal dari rasa prihatin akan perhatian anak-anak yang terus berkurang terhadap mainan tradisional (salah satunya angkrek), bahkan mereka nyaris tidak mengetahui mainan ini, seniman tari dari Bantul, Anggoro Tri,  berupaya mengenalkan kembali mainan angkrek melalui seni tari. Penghasilan perajin yang terus menurun, juga menyebabkan Anggoro merasa terpanggil (sesama seniman di Kampung Dolanan) ingin membantu dengan caranya sendiri. 

Diakui Anggoro Tri bahwa karya-karyanya sederhana saja, sehingga cukup mudah dibuat. Lucunya, ungkap Anggoro, pada awalnya, penarinya yang rata-rata berusia 12 tahun pun tidak tahu angkrek. Keadaan ini bisa dimaklumi dia, karena mainan tersebut merupakan kegemaran anak-anak tempo dulu. Walaupun mainan tradisional masih dapat ditemukan, sekarang mainan modern menjadi sesuatu yang cenderung dicari-cari mereka. [Angkrek adalah semacam boneka dari kertas karton yang bisa digerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan menarik-narik seutas tali].

Melalui ekplorarsi, kemudian improvisasi, dan dikomposisikan dengn gerakan yang dinamis, rancangan tari Angkrek diselesaikan dalam dua bulan. Dilatih hanya dalam tiga kali tatap muka (latihan), tidak disangka-sangka Anggoro, ketika dipertunjukkan selama tujuh menit pada Festival Tari Nusantara 2017 di Tanjung Redeb, Berau, Kalimantan Timur, dia diganjar dengan penghargaan sebagai penata iringan terbaik. Keikutsertaan dia dan anak-anak didiknya pada festival yang bertema Gelar Koreografi Indonesia tersebut, mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta, dan mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebenarnya Anggoro punya latar belakang pendidikan tari tradisional klasik, namun sebagian besar karya-karyanya punya gerakan-gerakan lucu (komikal). Hal ini diwujudkan dalam tari yang dipertunjukkan anak-anak, padahal biasanya dilakukan remaja atau dewasa. Dia pun tidak mengkhususkan pada anak-anak saja, tetapi kebetulan dalam berproses, karya-karyanya sering kepada anak-anak. Tari remaja yang sering diterapkan pada anak-anak adalah tari cantrik mentrik.

Dia melatih anak didiknya dalam tata gerak (komposisi) dan pendalaman karakter (kebanyakan karakter komikal), dibantu sejumlah pelatih setingkat sekolah menengah atas. Anak-anak yang dididik di sanggarnya, diakui Anggoro punya sumber daya menjanjikan, sehingga masih bisa berkembang lebih lagi. Dengan dorongan, semangat, dan kesabaran, diharapkan bahwa nantinya mereka mencintai kegiatan seni yang dijalani.

Selama ini, penarinya sudah terbiasa, sehingga cukup mudah menyesuaikan diri. Kedekatannya dengan anak-anak dan mampu membangun kepercayaan mereka, ditempa dari pengalaman yang cukup lama mengajar di sekolah dasar di Kota Yogyakarta, seperti Ungaran dan Suronatan, ketika masih berkuliah pada jurusan tari, Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Anggoro tidak neka-neka mengungkap kiatnya bertahan, yaitu berkarya terus, sesuai dengan perkembangan zaman dan kepentingan pasar. Dia pun banyak berkarya diluar lomba, dan sering ikut festival. Membiasakan terus berkarya, tidak terpatok waktu dan kesempatan, misalnya karena ada proyek (mendapat pesanan atau lomba), baru mau berkarya. Gagasan tarinya bisa dari permainan zaman dulu, legenda, dan sejarah, bahkan didapatkan dari mengikuti workshop dan berbagi pengalaman dengan seniman lain. Pergaulannya yang cukup luas juga dari kegiatannya pada paguyuban seniman tari se-Bantul (sebagai wakil ketua), membawa pengaruh pula.

Anggoro punya dua sanggar. Satu sanggar di Kretek, digunakan sebagai bentuk pengabdian masyarakat (latihan dilaksanakan secara gratis). Sedangkan satu lainnya di Pandes, di kawasan Kampung Dolanan, tempatnya membuka jasa pendidikan tari, diusahakan secara mandiri. Dia juga membentuk perkumpulan tari anak-anak yang dinamai ”Cling”.

Berdasarkan pengalamannya melatih anak-anak (kebetulan pesertanya kebanyakan anak-anak), kemampuan mereka menari atau menarik minat mereka dalam menari, biasanya tampak dalam satu atau dua tahun. Penari yang terus bisa bertahan di sanggarnya, kurang lebih selama lima tahun. Meskipun demikian, setelah mereka keluar dari sanggar, dia sering diminta membantu melatih, misalnya  terkait dengan lomba atau kegiatan pertunjukan lain. Dari kegiatan seperti ini, Anggoro semakin dikenal orang.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Kulonprogo Gelar Acara Batik on The Street
Kenali Maestro Subardjo Lewat Pasar Keroncong Kotagede 2016
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Mengenang dan Menghormati S Teddy D
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Eddy Gombloh, Mencari Ketenangan dengan Kembali Ke Yogyakarta
 
Statistik
00220210
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945