Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Nilai Lain Sebuah Film yang Patut Diperhitungkan, Selain Memenangi Festival

Warna Lain Mainan Tradisional Angkrek di Tangan Seniman Tari

Memahami Seni Tradisi, Seni Kontemporer, dan Seni Populer

Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi

Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa

Perfilman sebagai Unggulan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta

Omzet Miliaran Rupiah, Nilai Animator di Daerah Istimewa Yogyakarta Perlu Digenjot

Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media

Drama Berbahasa Jawa di Sekolah, Berani Memulai dan Bekerja Sama

Pembukaan Pameran Temporer Museum Sonobudoyo 2017

Menyajikan data ke- 1-10 dari 297 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Memahami Seni Tradisi, Seni Kontemporer, dan Seni Populer
« Kembali

Tanggal berita : Minggu, 31 Desember 2017
Dibaca: 280 kali

Wayang kulit, bisa saja awalnya dari seni kontemporer. Kemudian diterima masyarakat, masuk upacara ruwatan, menjadi seni tradisi atau bisa juga seni populer. Perlu diketahui bahwa seni tradisi, berlangsung terus-menerus, sehingga menjadi tradisi masyarakat. Seni kontemporer, seni yang nilainya belum terukur, mau disenangi masyarakat, bagus, jelek, belum diketahui. Sedangkan seni populer, dibentuk supaya populer, dan disenangi masyarakat.

Ketoprak, ungkap R.M. Kristiadi, S.Sn. (seniman dan pemerhati budaya), merupakan seni populer komersial, karena lahirnya dari prakarsa sekelompok orang yang membuat semacam drama dengan lesung, berkeliling desa untuk mencari sesuap nasi. Lama-lama, berkembang menggunakan gamelan. Muncul lakon yang disenangi masyarakat, seperti Suminten Edan, atau Si Buta dari Gua Hantu. Memang demikian orang berkesenian. Tonil disenangi, ketoprak ikut pakai tonil, karena memang ketoprak merupakan seni populer komersial.

Wayang wong di Surakarta, awalnya seni tradisi di Mangkunegaran. Memang seni tradisi, karena dipertunjukkan untuk peringatan ulang tahun raja. Kemudian ditarik oleh seorang pedagang Cina, dan menjual pertunjukannya di Sriwedari, dengan tonil. Untuk menarik minat penonton, dibuat lakon Srikandi Edan, Gatotkaca Kembar Lima, dan lain-lain. Hal ini merupakan kerangka budaya seni populer komersial, bukan tradisi lagi.

Seni tradisi harus melekat pada tradisi tertentu, tidak bisa dengan maksud agar ramai ditonton, dan supaya disenangi orang, gamelan sekaten pakai elektone. Tentu bukan demikian. Seandainya, gamelan sekaten pakai elekton, supaya penonton senang, itu seni populer. Kalau hal itu belum tentu disenangi, disebut seni kontemporer. Kemudian bisa berkembang menjadi seni populer, ketika disenangi.

Melestarikan tradisi, menurut Kristiadi, harus utuh; tradisinya, peradabannya dilestarikan, seni tradisinya pasti lestari, sehingga kesenian tidak mungkin bisa dipisahkan dari masyarakat. Gamelan Kanjeng Kyai Sekati masih hidup, karena tradisi sekaten masih ada. Wayang wong Kraton Yogyakarta masih ada, karena setiap tahun ada upacara yang diiringi dengan pertunjukan wayang wong. Setiap minggu masih ada latihan di kraton. Lain halnya apabila tarian di kraton menghadirkan bintang tamu untuk menyenangkan wisatawan, ini merupakan seni populer, bukan tradisi lagi. Kesenian menjadi kontemporer, populer atau tetap tradisi, tergantung pada masyarakatnya.

Menanggapi sebutan pengembangan seni tradisi, padahal yang dimaksud pelestarian, ditegaskannya bahwa pengembangan bukan pelestarian. Meskipun demikian, hal itu bukan suatu kekeliruan. Dikemukakan lagi bahwa pelestarian itu utuh; peradabannya dilestarikan, kebudayaannya, masyarakat pendukungnya, upacara dilestarikan, keseniannya pasti ikut lestari.

Ketika kita punya kerangka berpikir bahwa suatu seni tradisi, supaya diminati masyarakat, diubah bentuknya, itu menjadi seni populer. Kalau kesenian sudah berubah bentuk, yang aslinya tidak terlihat. Andai gamelan sekaten dicampur dangdutan, gamelan sekaten aslinya tidak kelihatan. Tindakan seperti ini bukan melestarikan, melainkan mengubah gamelan sekaten menjadi seni populer, sehingga seni tradisi gamelan sekatennya hilang.

Seni tradisi tidak punya sebutan punah atau tidak punah. Selama masih ada unsur-unsur yang menyokong keberadaan seni tradisi, seperti tersebut di atas, seni tradisi masih terus ada. Tidak ada hubungannya dengan penonton. Golek Menak adalah seni tradisi yang dibuat Sultan Hamengku Buwono yang kesembilan. Kalau itu diangkat kembali, dan pakai dangdutan, bukan merupakan tradisi sultan.

Membangun kesenian tanpa membangun kebudayaan, merupakan hal yang tidak mungkin. Kesenian itu anak kandung kebudayaan (teori kebudayaan yang dikemukakan Umar Khayam). Perkembangan kebudayaan masyarakat berpengaruh terhadap kesenian. Kebudayaan masyarakat Bali, umpamanya, terkenal dengan seni melukisnya. Bila dilakukan diluar Bali dan mendapat pengaruh melukis dari luar juga, dengan maksud mengundang perhatian penonton, hal itu bukan kebudayaan tradisi mereka sendiri. Kebudayaan kesenian Bali bisa hidup, karena kebudayaan peradabannya ada.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Kekuatan Perempuan Tanpa Kehilangan Kecantikan
Banyak Pesan Moral, Wayang Orang Sarana Pendidikan Karakter
Topeng Bentuk Ekspresi Kebudayaan Manusia
Batik Ayu Arimbi Desa Pandowoharjo Merambah Hingga Luar Negeri
Apresiasi Seni Klasik di Panggung Kesenian PMPS
Gelar Persembahan Tari ke 4, Mila Ajak Seniman Ini
Gamelan Kanjeng Kyai Nagawilaga dan Kanjeng Kyai Guntur Madu Ditabuh di Bangsal Ponconiti
Festival Jathilan Warnai HUT ke-70 Desa Condongcatur
Khayalan Oppie Andaresta di Panggung Pasar Keroncong Kotagede Yogyakarta
Pasar Keroncong Kotagede Kembali Digelar di Jogja
Condong Art Festival Explore Potensi Desa Condongcatur
Perajin Batik Kulonprogo Butuh Fasilitasi Pemasaran
Pesta Boneka #5 'Home' Digelar 2-4 Desember
Berikut Para Pengisi Pasar Keroncong Kotagede 2016
Mau Digambar Karikatur? Hari Ini Jos di Stand KR Sekaten
Ada Apa di Anjungan Bantul? Coba Kita Cek
Belasan Gerobak Sapi Ini Dipoles oleh Seniman dengan Berbagai Tema
Sastrawan dan Budayawan Asia Tenggara Kumpul di Omah Kecebong, Apa yang Dilakukan?
Perajin Batik Kulonprogo Perkuat Pasar Lokal untuk Jaga Produksi Tetap Stabil
Sumbu Filosofis Gambarkan Perjalanan Hidup Manusia
Pesta Pertunjukan Karya Pekerja Seni Muda
Bakal Jadi Duta Santri, Slank Tampil 'Sarungan' di Maguwo
Pameran Seni Rupa Nandur Srawung 2016 Berdayakan Difabel
8 Kota Tanah Air Jadi Tempat Kolaborasi Seniman Indonesia-Inggris
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
Improvisasi Akting Tingkatkan Kemampuan Pemain Teater
Sastrawan Melayu Bakal Kumpul di Yogyakarta
Pameran Seni Rupa 'Tanda Mata XI', Bagian Perjalanan Bagi Para Seniman Yogyakarta
Paperu : Membaca Tanda-tanda Masa Depan
Kontingen DIY Pamitan Berlaga di FLSSN 2016
Puluhan Karya dari 12 Provinsi Dipamerkan di Jogja
Kemendikbud Bersama Seniman Kriya Siap Gelar Pameran Kriya di Yogyakarta
Festival Budaya Kontemporer Tatto Istimewa Siap Digelar Akhir Pekan Ini
Berkabung untuk Indonesia lewat Kesenian
PARADE KARYA CIPTA LAGU DAERAH SE-DIY
Kethoprak Diiringi Kearifan Lokal Desa Budaya
Pengenalan Potensi, Pertahankan Etika dan Estetika
Berdayakan Desa Budaya Lestarikan Kethoprak
Tanam Pohon Aren Tandai Bedog Arts Festival
Pembukaan FKY 26
Wayang, Diantarkan dengan Bahasa Belanda
TBY Gelar Rekonstruksi Tari Klasik Kraton Yogyakarta
PENTAS TEATER 'GUNDALA GAWAT'
 
Statistik
00216875
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945