Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Pernah Dianggap Bakal Bubar, Wayang Kulit Masih Berkibar

Nonton Bareng, Warga Dirgantara Asri Peringati Sumpah Pemuda

Macam-macam Tingkah Polah Seniman, Biarkan Alam yang Mengurusnya

Semarak Festival Desa Budaya Kabupaten Sleman

Festival Desa/Kelurahan Budaya 2018, Kabupaten Bantul dan Kota Yogyakarta

Daya Tarik Kebudayaan Nusantara Pikat Mancanegara

Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat

Berpikir ’Nol’ untuk Membaca Suasana dan Membuat ’Kaya’ Ruang Belajar

Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Menyajikan data ke- 11-20 dari 420 data.
Halaman « 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Drama Berbahasa Jawa di Sekolah, Berani Memulai dan Bekerja Sama
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 7 Desember 2017
Dibaca: 4125 kali


Tidak mudah mendapatkan lakon drama berbahasa Jawa, untuk siswa atau pelajar di sekolah, dibandingkan dengan yang berbahasa Indonesia. Sejumlah lakon drama berbahasa Indonesia ”terpaksa” dipilih dan diterjemahkan dalam bahasa Jawa. Contoh, karya Heru Kesawa Murti, berjudul ”Buruk Muka, Cermin Dibelah” diterjemahkan dalam bahasa Jawa menjadi dua judul yang berbeda, yaitu Kaca Benggala, dan Pengilon.

Kesulitan mendapatkan lakon drama berbahasa Jawa, berbeda dengan yang berbahasa Indonesia. Sejak awal pertumbuhan drama (teater) di Indonesia, penerjemahan lakon drama (asing) dalam bahasa Indonesia, sudah sering dilakukan, seperti karya Anton Chekov, Molière (nama panggung Jean-Baptiste Poquelin), Sophoklēs, dan George Bernard Shaw. Demikian pula, tokoh-tokoh teater Indonesia, antara lain WS Rendra, Teguh Karya, dan Motinggo Busye, membuat naskah terjemahan, juga karya mereka sendiri, sehingga penerus mereka punya kesempatan belajar dan mendapatkan naskah yang ingin dipentaskan.

Sebuah karya Anton Chekov terjemahan Landung Simatupang, berjudul ”Beruang Menagih Hutang”, dijawakan menjadi ”Tukang Tagih”. Kenyataan demikian menunjukkan bahwa lakon drama berbahasa Jawa memang sulit diperoleh, apalagi lakon drama yang dianggap pas dan menarik dipentaskan. Karena itulah, dalam tulisannya, Hanindawan Sutikno, dramawan dari Surakarta, mengungkap munculnya keterpaksaan itu, bahkan kekhawatirannya bahwa drama berbahasa Jawa justru terasing di negeri sendiri.

Menurut pengamatan Hanindawan pada pentas drama berbahasa Jawa di sekolah, keseharian para siswa/pelajar yang njawani, belum cukup menutupi kegugupan (kagok) melafalkan bahasa Jawa di atas panggung. Pelafalannya sering tidak luwes. Lidah mereka mendadak kelu, kaget, kagok, bahkan tergagap-gagap menghadapi tulisan drama berbahasa Jawa. Hal ini dapat mengganggu penghayatan, pemeranan, bahkan suasana yang sedang dibangun, sehingga mengurangi cita rasa drama berbahasa Jawa.

Boleh saja siswa mimesis atau menirukan penggalan adegan berdasarkan pengamatannya terhadap seni pertunjukan drama Jawa tradisional, atau mengubahnya dalam bentuk baru, sesuai dengan daya cipta mereka. Yang terpenting adalah nilai moral yang terkandung pada pesan drama itu tersampaikan. Meskipun demikian, diungkap Dedek Witranto, pengajar pada Akademi Seni Mangkunegaran Surakarta, yang lebih sulit adalah berani memulainya. Jika pentas harus baik, sulit menumbuhkan keberanian, apalagi untuk pentas. Jika berani pentas, bahkan ketika mutunya jelek, merupakan langkah awal yang bagus untuk langkah selanjutnya. Mereka yang tertarik mendalami teater, disarankan memilih sanggar teater di luar sekolah untuk menyalurkan bakatnya itu.

Dipandang dari sisi pendidikan, seni drama sesungguhnya memiliki peran yang luar biasa, terutama dalam menanamkan nilai-nilai kepribadian. Bukan sebagai seni peran atau unsur seni lain saja, melainkan juga memahami pesan moral sebuah seni pertunjukan, khususnya drama berbahasa Jawa sebagai kearifan lokal. Mengelola kesemua unsur menjadi satu kesatuan itu membutuhkan kerja sama yang baik antar-pendukungnya. Dengan demikian, bukan hanya karya seni yang tersaji atau tergelar dengan baik, melainkan juga kerja sama untuk mewujudkan karya itulah yang penting dan perlu ditekankan dalam pendidikan.(hen/ppsf)

 
° Berita terkait :  
BAF# 1 DIGELAR
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Kekuatan Perempuan Tanpa Kehilangan Kecantikan
TEATER TARI GANDRUNG MANIS : Dalam Bentuk Baru, Ritus Lampah Lemah Digelar
'Rante Emas Mataram' Tampilkan Puluhan Aktor Ketoprak DIY
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Improvisasi Akting Tingkatkan Kemampuan Pemain Teater
Orde Tabung 'Pak Bina' Mbangun Desa Dipentaskan Gandrik di TBY
 
Statistik
00220707
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945