Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Perlakuan Masyarakat Setouchi terhadap Ruang Publik, Bagaimana di Yogyakarta?

Nilai Sebuah Film yang Patut Diperhitungkan, Selain Memenangi Festival

Warna Lain Mainan Tradisional Angkrek di Tangan Seniman Tari

Memahami Seni Tradisi, Seni Kontemporer, dan Seni Populer

Beratnya Upaya Pemulihan Krisis Kepercayadirian Dalang Tradisional Pasca-reformasi

Menyikapi Bahasa Tutur dan Bahasa Baku dalam Bahasa Jawa

Perfilman sebagai Unggulan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta

Omzet Miliaran Rupiah, Nilai Animator di Daerah Istimewa Yogyakarta Perlu Digenjot

Menumbuhkan Naluri Swasensor dan Sedekah Digital dalam Konvergensi Media

Drama Berbahasa Jawa di Sekolah, Berani Memulai dan Bekerja Sama

Menyajikan data ke- 1-10 dari 298 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Tantangan Pelik Garap Wayang Ringkes Dalang Cilik
« Kembali

Tanggal berita : Rabu, 27 September 2017
Dibaca: 4932 kali

Pertunjukan wayang dengan durasi 45 menit itu tidak biasa. Maksudnya, pertunjukan wayang itu biasanya dengan durasi panjang, bisa lima sampai tujuh jam, baik siang maupun malam. Sedangkan untuk lomba, festival dan semacamnya (contoh, lomba dalang cilik Daerah Istimewa Yogyakarta pada 23 Agustus 2017), ungkap Dr. Trisno Santoso, salah satu anggota dewan juri lomba dalang cilik, dan sudah empat kali sebagai juri nasional, dituntut waktu yang pendek, karena jumlah peserta yang kemungkinan lebih dari lima orang.

Menggarap pertunjukan pakeliran pendek itu tidak mudah, karena para sesepuh masih berpegangan pada pathet yang komplit, yaitu nem, sanga, manyura (dan galong untuk Yogyakarta). Sedangkan dari susunan pertunjukan, karena terbelenggu oleh pathet, mengakibatkan penggarapan tokohnya tidak terarah, kurang memikirkan sebab akibat pertikaian tokoh yang sesuai dengan tema garapan lakon. Wayang anak memang seperti ini, sulit dan pelik.

Anak (dalang cilik) hanya melaksanakan konsep yang diajarkan penggarap (pelatihnya), dan selama ini masih sangat jarang. Bekal si dalang cilik, baru ketrampilan tekniknya. Kalau penggarapnya kurang wawasan, hasilnya anak mendalang seperti dalang dewasa, bukan dalang anak. Penulis naskah dalang anak pun sangat langka, seperti yang terjadi pada teater anak, padahal teater terbilang bebas.

Acuan untuk menggarap pakeliran yang hanya berdurasi 45 menit, digunakan konsep pakeliran padat yang tercetus di Surakarta. Sejak 1977, pakeliran padat sudah disebarkan di seluruh Jawa Tengah melalui penataran-penataran dalang, sarasehan, lokakarya, lomba naskah, lomba penyajian pakeliran padat, serta siaran radio dan televisi, kepada kalangan pedhalangan, budayawan, dan masyarakat pecinta wayang.

Pakeliran padat bukan menggeser kedudukan pakeliran semalam suntuk, melainkan untuk memperkaya kehidupan budaya. Bahwa yang digarap dalam pakeliran padat itu meliputi gerak, rupa, suara (Gerak: cepengan, solah, entas-entasan, dll; Rupa: boneka wayangnya, tampilannya, garis-garis dalam solah yang diungkapkan dalam kelir/layar, wanda wayang, tatahan, sunggingan, dll.; Suara: karawitan, tembang, sulukan, dhodhogan, keprakan, dll.). Dalam pakeliran padat, unsur-unsur tadi harus digarap secara dukung mendukung. Maksudnya, hal yang ditampilkan itu ada tujuan yang jelas.

Dalang itu tidak sekadar memainkan wayang, tetapi juga harus menjadi sutradara, pemain, penyusun musiknya, penata gerak, dan lain-lain, sehingga untuk menjadi dalang dibutuhkan kemandirian yang penuh. Terkait dengan dalang bocah, inilah beban beratnya. Wayang itu pertunjukan untuk orang dewasa, maka sampai saat ini masih sangat jarang yang menampilkan wayang kulit untuk anak (yang dimaksud Trisno Santoso di sini, bukan boneka wayang untuk anak, dan membuat boneka wayang baru.

Trisno Santoso melihat bahwa di Yogyakarta masih berpegang pada alur cerita dari para sesepuh dulu, misalnya Kumbakarna Gugur, ya, dipanah oleh Rama mulai dari tangannya, kakinya, atau dipretheli satu-persatu. Dalam Karno Gugur, ditampilkan Patih Adimanggala yang diutus untuk meminta kinang kepada Dewi Surtikanti, dan masih banyak lagi.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Gagal dengan Wayang Rumput yang Mrotholi, Marsono Temukan Wayang Sada yang Lentur
Lakon dan Bentuk Wayang Terus Tumbuh, Mungkin Tak Terbayangkan
Membumikan Wayang, Mengangkat Jagad Pewayangan pada Tataran yang Baru
Bagas Nur Satwika, Dalang Cilik Terbaik DIY 2017
Banyak Pesan Moral, Wayang Orang Sarana Pendidikan Karakter
Topeng Bentuk Ekspresi Kebudayaan Manusia
Dinas Kebudayaan DIY Adakan Festival Wayang Topeng
Ritual Jamasan Kereta Kencana Keraton Yogyakarta, Sekali Setahun Tiap Jumat Kliwon
Wayang Jogja Night Carnival Siap Digelar untuk Semarakkan HUT ke-260 Yogyakarta
Tamu Mancanegara Nonton Wayang ‘Ngebyar’
Sultan: Wayang Potensial Memperkuat Keberadaan NKRI
Pengunjung mengamati berbagai bentuk wayang saat pameran Wayang For Humanity 2013 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Sleman, Rabu (21/8/2013). Pameran wayang dalam berbagai media seperti patung,kain,kulit beserta kongres pewayangan II
Pengunjung mengamati berbagai bentuk wayang saat pameran Wayang For Humanity 2013 di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri UGM, Sleman, Rabu (21/8/2013). Pameran wayang dalam berbagai media seperti patung,kain,kulit beserta kongres pewayangan II
WAYANG FOR HUMANITY 2013
Wayang, Diantarkan dengan Bahasa Belanda
 
Statistik
00217789
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945