Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Daya Tarik Kebudayaan Jawa Kuno Pikat Mancanegara

Menjaring Mutiara Berkilau yang Terpendam dari Ajang Lomba Pencarian Bakat

Berpikir ’Nol’ untuk Membaca Suasana dan Membuat ’Kaya’ Ruang Belajar

Negara Adikuasa Kebudayaan, Indonesia Tertantang Menjaga Rasa Hormat (Respek) terhadap Kekayaan Budaya

Ada Apa dengan ”Kowe” dan ”Kamu”?

Berkesenian sebagai Sarana Olah Rasa dan Olah Kepekaan

Mau Dibawa ke Mana Peradaban Seni Daerah Istimewa Yogyakarta?

Salah Kaprah Pengenalan Musik, Hambat Tumbuh Kembang Ciri Khas Musik Daerah

Senandung Agus ’Patub’ BN di Balik Jingle Khas Radio di Yogyakarta

Desa Gilangharjo Merealisasikan Program Optimalisasi Sistem Informasi Desa

Menyajikan data ke- 1-10 dari 406 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 31 Agustus 2017
Dibaca: 10362 kali

Film membutuhkan kata-kata untuk mengungkapkan, sastra membutuhkan ruang untuk visualisasi atau presentasinya. Untuk melihat karya sastra yang dialihrupakan sebagai film, mungkin banyak dari kita yang pernah menyaksikan filmnya. Akan tetapi, bagaimana dengan sastra yang diilhami dari film, apakah ada? Apakah ada timbal balik sastra dengan film?

Pertanyaan tersebut dikemukakan Hendi Setio Yulianto (pengamat dan produser), salah satu dari empat narasumber, Brisman HS, Erwito Wibowo, dan Agus Juniarso, pada lokakarya (workshop) sastra film, yang diadakan pada Jumat malam, 25 Agustus 2017, di Kampung Winong, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Hendi belum mendapatkan referensi yang memadai di Indonesia, untuk menjawab hal itu, sastra yang diilhami dari film. Berbeda dengan di luar negeri, dicontohkan dia, kritikus pengamat film David Thompson menyebutkan bahwa sebagian besar karya novelis Ernest Miller Hemmingway berhubungan erat dengan teknik film, yaitu seolah-olah sang penulis terus mencari kata untuk mengganti kamera.

Hubungan film dengan sastra sangat kompleks untuk terus dipelajari. Masing-masing keduanya bisa membangun (construct) atau dibangun (constructed) dari kedua hal tersebut. Pembahasan di antara keduanya bukanlah vis a vis film dan sastra, melainkan secara epistemis, keduanya bisa saling memadukan dan saling memengaruhi, agar terwujud karya yang bermutu.

Ditegaskan Hendi bahwa hubungan sastra dengan film bergantung pada pola pendekatan epistemologisnya, membaca penulis, teks dan konteksnya. Hal ini perlu terus dikembangkan, agar dapat muncul pemahaman baru tentang ilmu pengetahuan (euristika), serta harapan membawa pengaruh baik (manfaat) yang luas bagi masyarakat dan peradaban.

Seperti halnya sastra dan film, yang keduanya terikat untuk menghasilkan karya yang bermutu, demikian pula Serat Sastra Gending, magnum opus atau masterpiece pada masa Sultan Agung. Menarik diungkap bahwa sastra dan gending pun keduanya tidak terpisah sebagai bagian yang utuh untuk membaca konsep harmoni. Antara teori dan praktik, antara ucapan dan tindakan, dan lain sebagainya.

Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta pernah memproduksi sandiwara atau film televisi pada 2017, dengan judul “Sastra Gending”, yang ditayangkan TVRI sebanyak lima episode. Film ini mengarah pada upaya membaca Serat Sastra Gending dalam konteks sosiologis, yang digarap dalam balutan cerita masa sekarang. Permasalahan sosial yang terjadi pada masa kini yang ’diselesaikan’ dengan Serat Sastra Gending. Jadi, mencoba menjabarkan historisitas pada ranah normativitas.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
BIOSKOP JUMAT
Menjaga Semangat Film Danais yang Membawa Harapan (Optimisme) Masyarakat Yogyakarta
Dari Kampung Cepit, Condongcatur, Mengalir Semangat Persahabatan Manusia dengan Sungai
Cukup Sulit, Pemilihan Proposal Sayembara Pembuatan Film Dana Keistimewaan DIY 2018
Pemutaran Film di Desa Semakin Semarak dengan Kendaraan Khusus Film
Nilai Sebuah Film yang Patut Diperhitungkan, Selain Memenangi Festival
Perfilman sebagai Unggulan Industri Kreatif di Daerah Istimewa Yogyakarta
Menuju Industri Film di Daerah yang Sehat dan Beraneka Ragam
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang
Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan
Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00220567
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945