Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Caping Gunung

Orang Jawa dan Sains

Sejarah panjang Panjalu: Keselarasan agung Panjalu-kulon dengan Panjalu-wetan

Sudah tidak disenandungkan masyarakat, Lela Ledung dilestarikan di desa/kampung musik

Pamor Nyangku di Situ Panjalu, Ciamis, Lebih dari Seribu Tahun

Dinas Kebudayaan DIY kaji upaya tumbuhkan rasa peduli dan perhatian masyarakat terhadap seni budaya

Manisnya Yogyakarta, Menggugah Para Seniman untuk Berkarya

Menekuni dan Menyebarkan Musik, Semangat Pengabdian Agus ’Patub’ kepada Negeri

Gambar/lukisan purba orang bermain layang-layang di Muna, bisa jadi karena peristiwa alami biasa

Macapat Massal 72 jam

Menyajikan data ke- 1-10 dari 420 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
TEATER TARI GANDRUNG MANIS : Dalam Bentuk Baru, Ritus Lampah Lemah Digelar
« Kembali

Tanggal berita : Selasa, 2 Mei 2017
Dibaca: 10242 kali

(krjogja.com) Yogya - DINAS Kebudayaan DIY akan menggelar pentas Teater Tari Gandrung Manis Ritus Lampah Lemah dengan koreografer Setyastuti di nDalem Pugeran Brongtokusuman (belakang Museum Perjuangan) Jalan Kolonel Sugiyono Yogyakarta, Kamis (4/5/2017) pukul 19.30 WIB.

Menurut Kepala Seksi Seni Kontemporer Disbud DIY Dra Y Eni Lestari Rahayu kepada wartawan di Pendhapa Art Space Jalan Ring Road Selatan, Jumat (28/4/2017), kegiatan ini sudah direncanakan sejak dua tahun lalu, tapi baru lolos pada tahun anggaran 2017. "Saatnya kami harus mempertahankan seni kontemporer yang ada di Yogya," katanya.

Gandrung Manis menurut Eni, identik dengan bedhaya ciptaan Sri Sultan HB VII. Tapi bukan hal itu yang dimaksudkan dalam pementasan ini nantinya. "Bahasa kami, Gandrung Manis sesuatu yang indah, mengolaborasikan berbagai macam cabang seni, yaitu musik, tari, teater, video mapping dan tidak harus berpijak pada klasik. Tempat pentas pun tidak di panggung, karena konsepnya memang di outdoor," imbuhnya.
 
Prof Dr Suminto A Suyuti dan Djadug Ferianto sebagai supervisor Teater Tari Gandrung Manis Ritus Lampah Lemah mengapresiasi langkah Disbud DIY, karena ini merupakan sejarah pertama Disbud DIY memberikan ruang bagi seni kontemporer.

"Gandrung Manis sebagai salah satu tari bedaya pada zaman Sri Sultan HB VII, dalam pentas ini hanya diambil spiritnya," kata Suminto.

Menurutnya, Ritus Lampah Lemah sebenarnya merupakan sebuah pewacanaan ideologis. Di sisi lain, Suminto menegaskan, sebenarnya proyek ini ingin mengabarkan bahwa Yogya tidak identik dan tidak harus selalu identik dengan klasik. Yogya itu sesuatu yang terbuka, Yogya adalah sebuah situs, sebuah gelanggang tempat bertemunya berbaga ideologi artistik, estetik, saling berseteru, memusuhi, menindas tapi pada akhirnya berangkulan dan bergandengan tangan untuk mewujudkan keyogyaannya.

Hal senada juga dikatakan Djadug Ferianto, yang menyebut baru pertama kali ini Disbud DIY menggulirkan satu forum bernama Gandrung Manis. "Harus kita sambut baik, karena dalam konteks Danais, seni pertunjukan yang punya karakter kontemporer sedikit dianaktirikan," katanya.

Sedangkan Setyastuti mengatakan, Gandrung Manis Laku Lampah Lemah yang berdurasi satu jam ini melibatkan sekitar 100 pemain terdiri penari, pemusik, DJ, visual art. Konsepnya seperti mozaik, karena pentas ini merupakan hasil kolaborasi dengan seniman berikut kelebihan masing-masing.

Mengenai tema tanah liat, menurut Setyastuti, tanah liat memang sangat kuat sekali dijadikan tema. "Saya memakai tanah liat karena unsur kelembutannya dan bisa dibentuk menjadi sesuatu menurut imajinasi kreator," katanya.(R-7)

 
° Berita terkait :  
BAF# 1 DIGELAR
Festival Panji Saba Yogya
Misteri Topeng Panji
Kekuatan Perempuan Tanpa Kehilangan Kecantikan
Perpaduan Klasik dan Modern, Penari Gandrung Manis Mandi Lempung
Banyak Pesan Moral, Wayang Orang Sarana Pendidikan Karakter
Tari Pesta Desa Meriahkan Gebyar Seni Gianyar 2017
Topeng Bentuk Ekspresi Kebudayaan Manusia
Tari "Bedoyo Pager Bumi" Kreasi Garin Nugroho
6 Sanggar Bakal Ramaikan Wayang Orang Gagrak Yogyakarta
Apresiasi Seni Klasik di Panggung Kesenian PMPS
Gelar Persembahan Tari ke 4, Mila Ajak Seniman Ini
Festival Jathilan Warnai HUT ke-70 Desa Condongcatur
Condong Art Festival Explore Potensi Desa Condongcatur
Uji Kompetensi Murid SMKN 1 Kasihan
Tari Gaya Klasik Yogya Masih Menjadi Magnet yang Menawan
Kontingen DIY Pamitan Berlaga di FLSSN 2016
Mahasiswa Bersatu Melalui Seni Budaya
4 Kabupaten dan 1 Kota berebut ke Teater Nasional
Drama Berbahasa Jawa di Sekolah, Berani Memulai dan Bekerja Sama
'Rante Emas Mataram' Tampilkan Puluhan Aktor Ketoprak DIY
Teater Waplo Juara Baca Puisi Remaja DIY
Improvisasi Akting Tingkatkan Kemampuan Pemain Teater
Orde Tabung 'Pak Bina' Mbangun Desa Dipentaskan Gandrik di TBY
 
Statistik
00220714
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945