Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Kesenimanan dan Kiprah Budaya, Menggerakkan Masyarakat dan Lepas dari Politik

Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara

Plat Cetak Gambar Geometris Pentagonal Icositetrahedron ala Kevin van Braak

Residensi Seniman: Titian Karier dan Pembuktian Profesionalitas Pekerja Seni

Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum

Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta

Kekuatan Perempuan Tanpa Kehilangan Kecantikan

Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”

TEATER TARI GANDRUNG MANIS : Dalam Bentuk Baru, Ritus Lampah Lemah Digelar

Javanese Diaspora Event III Resmi Dibuka Siang ini

Menyajikan data ke- 1-10 dari 262 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 13 April 2017
Dibaca: 1881 kali

Bermain adalah hak dan naluri anak sejak masih bayi. Ketika anak bermain dalam usia emas (usia dini atau golden age), dari satu sampai dengan lima tahun, adalah masa yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak. Mereka bermain, menikmati kegembiraan, sesungguhnya anak belajar macam-macam pengetahuan, ketrampilan, mengembangkan sumber daya dirinya, dan mendorong daya cipta secara optimal, yang sangat berguna untuk menjalani kehidupan.

Film ”Ayo, Main”, dibuat sebagai upaya sutradaranya, Bambang Kuntara Murti (Ipung), mengangkat kembali nilai penting permainan tradisional, yaitu kebersamaan, kerja sama dan persaudaraan. Selain itu, pentingnya keseimbangan perkembangan jasmani dan rohani sejak usia dini. Hal ini berbeda dengan permainan modern yang rawan ketergantungan terhadap gadget, sehingga pelaku cenderung individualis.

Alur cerita dibuka dengan penggambaran seorang anak yang keranjingan permainan modern, sehingga lupa waktu dan tidak memperhatikan nasihat orang tuanya. Dari kesenjangan ini, kemudian masalah dimunculkan dan terus bergulir. Klimaksnya, penonton digiring pada rangkaian ketegangan yang seperti tidak disadari mereka bahwa sebenarnya hal itu adalah rupa-rupa permainan tradisional anak-anak di negeri ini.

Dewasa ini keberadaan permainan tradisional anak-anak terus tergeser, boleh disebut sulit ditemukan, dengan berlimpah dan mudahnya bermain permainan elektronik, sebagai imbas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, melalui ”Ayo, Main”, masyarakat diajak untuk kembali memperhatikan nilai lebih permainan tradisional anak-anak, ditengah pesatnya kemajuan teknologi. Menurut penelitian, sebanyak seratus lebih jenis permainan tradisional anak-anak tersebar di Indonesia.

Bermacam-macam permainan tradisional, dengan atau pun tanpa alat, yang bisa dimainkan anak perempuan dan laki-laki, secara bersama-sama atau berkelompok, antara lain petak umpet atau delikan, gobak sodor, engklek atau engkleng, dan lompat tali (ditampilkan dalam film ”Ayo, Main”), berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang mereka, baik jasmani maupun emosinya. Anak-anak belajar saling mengenal, tumbuh rasa kebersamaan, mudah bergaul, berempati, berlatih kesabaran, menaati peraturan, dan tenggang rasa atau tepa selira (solidaritas), sekaligus melatih gerak anggota badan.

Tempat pengambilan gambar di sejumlah tempat tujuan wisata cukup terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta, suguhan aneka macam permainan anak-anak, dan sejumlah adegan yang dibumbui dengan efek khusus, memperkaya jalinan cerita anak-anak pada film ini, sehingga dapat dinikmati dan cukup menghibur. Berpengalaman yang cukup lama pada film anak-anak, dan punya perhatian tersendiri terhadap perkembangan anak-anak, sangat membantu Ipung mewujudkan gambaran dunia anak-anak dalam film, sesuai dengan perkembangan zaman. Film arahan sutradara muda Yogyakarta, Bambang Kuntara Murti (Ipung) ini, dirilis pada 2017, dan produksinya didukung Pusat Pengembangan Perfilman, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00193435
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945