Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang

Rumah Budaya Winong dan Sumber Daya Budaya di Kotagede

Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu

Bagas Nur Satwika, Dalang Cilik Terbaik DIY 2017

Menengok Sudut Museum Sonobudoyo Tempoe Doeloe

Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta

Pameran Koleksi Museum Sonobudoyo di Bantul Expo 2017

Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan

Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi

Peserta Kemah Budaya DIY 2017 Berkunjung Ke Sonobudoyo

Menyajikan data ke- 1-10 dari 277 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 13 April 2017
Dibaca: 2681 kali

Bermain adalah hak dan naluri anak sejak masih bayi. Ketika anak bermain dalam usia emas (usia dini atau golden age), dari satu sampai dengan lima tahun, adalah masa yang sangat penting dalam pembentukan kepribadian anak. Mereka bermain, menikmati kegembiraan, sesungguhnya anak belajar macam-macam pengetahuan, ketrampilan, mengembangkan sumber daya dirinya, dan mendorong daya cipta secara optimal, yang sangat berguna untuk menjalani kehidupan.

Film ”Ayo, Main”, dibuat sebagai upaya sutradaranya, Bambang Kuntara Murti (Ipung), mengangkat kembali nilai penting permainan tradisional, yaitu kebersamaan, kerja sama dan persaudaraan. Selain itu, pentingnya keseimbangan perkembangan jasmani dan rohani sejak usia dini. Hal ini berbeda dengan permainan modern yang rawan ketergantungan terhadap gadget, sehingga pelaku cenderung individualis.

Alur cerita dibuka dengan penggambaran seorang anak yang keranjingan permainan modern, sehingga lupa waktu dan tidak memperhatikan nasihat orang tuanya. Dari kesenjangan ini, kemudian masalah dimunculkan dan terus bergulir. Klimaksnya, penonton digiring pada rangkaian ketegangan yang seperti tidak disadari mereka bahwa sebenarnya hal itu adalah rupa-rupa permainan tradisional anak-anak di negeri ini.

Dewasa ini keberadaan permainan tradisional anak-anak terus tergeser, boleh disebut sulit ditemukan, dengan berlimpah dan mudahnya bermain permainan elektronik, sebagai imbas kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, melalui ”Ayo, Main”, masyarakat diajak untuk kembali memperhatikan nilai lebih permainan tradisional anak-anak, ditengah pesatnya kemajuan teknologi. Menurut penelitian, sebanyak seratus lebih jenis permainan tradisional anak-anak tersebar di Indonesia.

Bermacam-macam permainan tradisional, dengan atau pun tanpa alat, yang bisa dimainkan anak perempuan dan laki-laki, secara bersama-sama atau berkelompok, antara lain petak umpet atau delikan, gobak sodor, engklek atau engkleng, dan lompat tali (ditampilkan dalam film ”Ayo, Main”), berpengaruh langsung terhadap tumbuh kembang mereka, baik jasmani maupun emosinya. Anak-anak belajar saling mengenal, tumbuh rasa kebersamaan, mudah bergaul, berempati, berlatih kesabaran, menaati peraturan, dan tenggang rasa atau tepa selira (solidaritas), sekaligus melatih gerak anggota badan.

Tempat pengambilan gambar di sejumlah tempat tujuan wisata cukup terkenal di Daerah Istimewa Yogyakarta, suguhan aneka macam permainan anak-anak, dan sejumlah adegan yang dibumbui dengan efek khusus, memperkaya jalinan cerita anak-anak pada film ini, sehingga dapat dinikmati dan cukup menghibur. Berpengalaman yang cukup lama pada film anak-anak, dan punya perhatian tersendiri terhadap perkembangan anak-anak, sangat membantu Ipung mewujudkan gambaran dunia anak-anak dalam film, sesuai dengan perkembangan zaman. Film arahan sutradara muda Yogyakarta, Bambang Kuntara Murti (Ipung) ini, dirilis pada 2017, dan produksinya didukung Pusat Pengembangan Perfilman, Sekretariat Jenderal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.(hen/ppsf)

 

 
° Berita terkait :  
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang
Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu
Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan
Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00203392
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945