Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Jemparingan Satunya Raga dan Rasa dalam Seni Panahan Tradisional Jawa

Tantangan Pelik Garap Wayang Ringkes Dalang Cilik

Eliminate Dengue Project Yogyakarta Berkunjung Ke Museum Sonobudoyo

Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang

Rumah Budaya Winong dan Sumber Daya Budaya di Kotagede

Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu

Bagas Nur Satwika, Dalang Cilik Terbaik DIY 2017

Menengok Sudut Museum Sonobudoyo Tempoe Doeloe

Pengembangan dan Pemberdayaan Dalang Unggulan, Penerus Gaya Yogyakarta

Pameran Koleksi Museum Sonobudoyo di Bantul Expo 2017

Menyajikan data ke- 1-10 dari 280 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Oleh-oleh Empon-emponan dari Kulon Progo
« Kembali

Tanggal berita : Selasa, 11 April 2017
Dibaca: 2899 kali


Keadaan alam yang keras di Dusun Clapar III, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo yang berbukit, ungkap kepala dukuh, Suratno, bukan alasan bagi penduduk harus menyerah dan pindah ke daerah lain yang cukup menjanjikan untuk hidup layak. Mereka tetap berupaya dan bekerja keras untuk bertahan hidup, walaupun dalam keadaan susah (rekasa).

Kebanyakan dari warga masyarakat, yang laki-laki, sebenarnya bekerja sebagai buruh bangunan, walaupun pada kartu tanda penduduk mereka bertani atau berkebun. Sedangkan ibu-ibu memanfaatkan empon-emponan untuk menambah penghasilan sehari-hari.

Sekira tiga tahun lalu, dusun ini terhubung dengan jalan setapak saja. Setelah ada penambangan batu andesit, baru dibuat jalan yang bisa dilalui kendaraan roda empat, meskipun masih berupa jalan tanah. Keadaan jalan yang menanjak dan turun-turunan, bergelombang, dan ketika hujan tergenang, cukup mendebarkan bagi yang baru mendatangi tempat ini. Di sejumlah titik ruas jalan, dijaga petugas khusus untuk mengatur kendaraan roda empat yang harus bergantian untuk lewat.

Keadaan alam di Kulon Progo yang khas tersebut dipilih sebagai salah satu tempat lokakarya (workshop) pembuatan film berbasis masyarakat desa di empat kabupaten se-Daerah Istimewa Yogyakarta. Dipandu oleh Bambang Kuntara Murti (Ipung), Bagus Wirati Purbanegara (BW), dan Khusnul Khitam (Tatam), para filmmaker berbagi ilmu dan pengalaman membuat film pendek.

Peserta diharapkan mampu memahami dasar-dasar pembuatan film, terdiri dari cara membuat adegan, melakonkan, merekam (pengambilan gambar), dan editing (penyuntingan). Jenis film yang dibuat ada dua pilihan, fiksi atau dokumenter.

BW mengajak peserta menyusun cerita dulu, yang sederhana saja, mengangkat suasana dan keadaan setempat, namun dikemas sedemikian rupa, dan bisa didramatisasi supaya menarik. Bila belum disusun, gagasan cerita bisa disampaikan dengan membuat rangkaian gambar (berpikir visual). Dari belajar berpikir visual, nantinya memudahkan membuat skenario. Sedangkan pengambilan gambar dilakukan di beberapa tempat dan waktu pelaksanaannya direncanakan selama dua sampai empat hari.

Kepala dukuh berharap bahwa upaya pemerintah daerah Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam hal ini Seksi Perfilman, Bidang Seni dan Film, Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta bekerja sama dengan para pembuat film mengadakan lokakarya (workshop) pembuatan film, dapat menggugah minat warga masyarakat (terutama pemuda) akan perfilman, mungkin menjadi profesi, dan bermanfaat bagi kesejahteraan hidup mereka.

Setelah mendapat pelajaran dasar ilmu pengetahuan mengenai pembuatan film dan pengambilan gambar yang melelahkan, untuk pertama kalinya warga Clapar III, Hargowilis, Kokap, Kulon Progo, bisa menyaksikan film pertama garapan mereka, ”Empon-emponku Malang”, MiringNgalor Production (nama ini diambil dari sebutan RT 17 di sana, yang dikenal dari keadaan tanahnya yang miring mengutara), dengan durasi sembilan menit. Film ini mengandung pesan bahwa sumber daya empon-emponan yang berlimpah di kawasan tempat tinggal mereka sebenarnya cukup menjanjikan, namun belum tergarap sebagaimana mestinya.

Terlibat dalam pembuatan film untuk pertama kali, merupakan pengalaman yang mengagetkan bagi para pemuda. Mereka merasa demam panggung. Para pemeran, Ngadimin, sebagai Pak Dengkek; Beti Marga Lestari, sebagai Bu Dengkek; dan Haryanto, pemeran pendukung, pada mulanya mengalami kesulitan. Jujuk Purwanto, yang ditunjuk langsung sebagai sutradara, merasakan juga keadaan tersebut. Meskipun demikian, dengan kesungguhan untuk terus belajar dan bersemangat, mereka yang terlibat dalam pembuatan film dokumenter ini, dapat menyelesaikan film pertamanya.

Bagi kerabat kerja, rasa kaget dan kerja keras mereka ketika membuat film, seperti terbayar dengan sambutan baik penonton. Sedangkan bagi warga Clapar III umumnya, pengalaman warga mereka membuat film, menjadi kebanggaan tersendiri. Demikian pula daerah lainnya. Para sutradaranya ingin segera membuat film lagi dan menggarap video clip.

Sutradara muda Yogyakarta, Bambang Kuntara Murti (Ipung), mewakili rekan-rekannya, Bagus Wirati Purbanegara (BW), dan Khusnul Khitam (Tatam), sebagai narasumber lokakarya, memuji film hasil lokakarya pembuatan film berbasis masyarakat desa, dibandingkan dengan ketika dia pertama kali membuat film.

Terkait dengan pelaksanaan lokakarya pembuatan film, kurator Mas Genthong (Cb Triyanto Hapsoro), menegaskan bahwa 1) lokakarya harus bermanfaat (sejalan dengan harapan Kepala Seksi Perfilman Dra. Sri Eka Kusumaning Ayu bahwa lokakarya ini dapat terus berlanjut dan menambah ketrampilan masyarakat dalam pembuatan film), karena sumber daya alam berlimpah-limpah; 2) masyarakat bisa memanfaatkan media sosial, untuk membuka wawasan, jadi banyak tahu, misalnya YouTube; 3) mendekatkan film pada masyarakat, pembuat film harus menghargai budaya setempat; 4) membangun pertemanan antarpihak yang terlibat dalam pembuatan film.

Film "Empon-emponku Malang", MiringNgalor Production, dan tiga lainnya, "Rindu dalam Sepotong Bambu", Jape Methe Production, durasi 10 menit, Kampung Dolanan, Pandes, Panggungharjo, Sewon, Bantul; "Anyar-anyaran", Srikandi Production, durasi enam menit, Semanu, Gunungkidul; dan "Tekad", Harmoni Turgo Film, durasi sembilan menit, Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, ditayangkan pertama kali pada acara pemutaran dan diskusi film, hasil lokakarya (workshop) pembuatan film berbasis masyarakat desa di empat kabupaten se-Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam rangka peringatan Hari Film Nasional ke-67, 30 Maret 2017, di pendapa Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta.(hen/ppsf)


 


 
° Berita terkait :  
Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang
Pendekatan Epistemologis dalam Hubungan Sastra-Film demi Karya yang Bermutu
Penyutradaraan: Bicara Tuntutan Jalan Cerita, Bukan Ambisi dan Kebanggaan
Totalitas Peran, Puncak Capaian dalam Seni Peran dan Bernilai Tinggi
Tradisi dan Daya Cipta Masyarakat Jawa dalam Bingkai Dokumenter Mancanegara
Gunungkidul, Tempat Tayang Perdana Film Ziarah untuk Masyarakat Umum
Arti Lokalitas dalam Pengembangan Perfilman Daerah Istimewa Yogyakarta
Menertawakan Diri Sendiri Melalui ”Aku Serius”
”Ayo, Main”, Anak-anak Punya Hak Bermain
Upaya Pertemukan Budaya Timur dan Barat Lewat Pertunjukan Setan Jawa di Melbourne
108 Layar di 3 Lokasi, JAFF Targetkan 10 Ribu Penonton
Jogja-Netpac Asian Film Festival 2016 Siap Digelar
Dinas Kebudayaan DIY Siap Realisasikan Pusat Dokumentasi Audio Visual
Kisahkan Narasi 'Jogja Kembali' yang Terpenggal
Penggarapan Film yang Didanai Danais Telah Mencapai 60 Persen
 
Statistik
00205864
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945