Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Berita
Wayang Sada yang Lentur, Buah Kegagalan Marsono Membuat Wayang Rumput

Gelar Wisata Museum Sonobudoyo 2017

Menuju Industri Film di Daerah yang Sehat dan Beraneka Ragam

Lakon dan Bentuk Wayang Terus Tumbuh, Mungkin Tak Terbayangkan

Museum Sonobudoyo Memfasilitasi Workshop Pengelolaan Museum Untuk Museum Nasional Timor Leste

Membumikan Wayang, Mengangkat Jagad Pewayangan pada Tataran yang Baru

Jemparingan Satunya Raga dan Rasa dalam Seni Panahan Tradisional Jawa

Tantangan Pelik Garap Wayang Ringkes Dalang Cilik

Eliminate Dengue Project Yogyakarta Berkunjung Ke Museum Sonobudoyo

Kritikus dan Pengkaji Film dalam Wacana Sosial Budaya yang Berimbang

Menyajikan data ke- 1-10 dari 286 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Kenali Maestro Subardjo Lewat Pasar Keroncong Kotagede 2016
« Kembali

Tanggal berita : Kamis, 1 Desember 2016
Dibaca: 2396 kali

Yogyakarta, Indonesia – www.gudeg.net Sangat disayangkan jika generasi muda tak mengenalnya. Murid tersayang dari pencipta lagu Bagimu Negri, Kusbini ini menunjukkan ketekunan dan rasa cinta kepada pilihan hiduplah yang membuatnya sukses.

Namanya Subardjo Purwo Hartono. Lelaki berusia sekitar 70 tahun ini mengisahkan pengalamannya saat menjadi murid almarhum Kusbini. Sebelumnya  ia penyanyi lagu-lagu pop saat menjadi murid di SMA 6 Yogyakarta. Karena rasanya kurang “sreg” ia mencoba mengenali musik beraliran berbeda. Berdasarkan arahan temannya, ia disarankan belajar keroncong  kepada maestro yang tinggal di kampung Pengok, Yogyakarta itu.

Subardjo sembunyi-sembunyi belajar bernyanyi di rumah Kusbini. “Kalau ditanya orang tua, saya bilangnya mau belajar bersama,” kata Subardjo saat dijumpai di Yogyatourium, Gedong Kuning, Yogyakarta. Ia merasa kalau ayahnya yang bernama Hardjo Sumarto itu tahu pasti tidak diijinkan. Seperti halnya penduduk Kotagede pada umumnya, Subardjo dan saudara-saudaranya diarahkan menjadi pengrajin perak. Meski begitu, sampai sekarang justru inisial “HS” dari ayahnya yang terus digunakan.

Sedangkan untuk biaya kursus privat, Subardjo merogoh koceknya sendiri. Untuk tahun 1962, harganya sekitar Rp. 1700,00. “Saya tidak minta bapak,” katanya. “Saya punya uang dari jualan ikan hias.”

Secara berturut-turut Subardjo selalu memenangkan kontes menyanyi. “Tahun ‘63 saya juara 3. Tahun ‘64 saya juara 1. Lalu terus menang jadi juara satu.” Sekitar tahun 1980 ia kembali meraih juara pertama. “Kalau menang dua kali berturut-turut di kompetisi yang sama nanti tidak bisa ikut lagi,” katanya. “Akhirnya di kompetisi berikutnya saya, gimana caranya jadi juara dua.”

Meski menang terus di berbagai kejuaraan, ada satu peristiwa yang membuat Subardjo benar-benar bangga. Sekitar tahun 1982 dilangsungkan final kompetisi menyanyi di Surabaya. Saat itu Subardjo sakit dan tidak siap tampil. “Badan saya panas. Saya sakitnya kayak dari tenggorokan,” katanya.  Meski begitu, Subardjo tetap menjadi juara.

“Hadiahnya Rp. 350.000,00. Utang saya Rp. 325.000,00,” katanya. “Sisanya Rp.25.000,00.”  Sambil tertawa, ia mengatakan, ada yang bilang Subardjo tergila-gila ikut lomba. “Bukan itu masalahnya. Saya ikut lomba juga buat makan anak-anak saya. Saya harus membiayai sekolah 4 anak saya.”

Setelah lebih dari 40 tahun bergelut sebagai penyanyi keroncong, Subardjo teringat kembali kata-kata almarhum Kusbini. “Saya waktu itu disepatani (disumpahi),” katanya. “Jo, sesuk kowe urip soko nyanyi (besok kamu hidup dari bernyanyi).” Ia menirukan kata-kata gurunya itu, ujarnya, mungkin sekarang kamu tidak dapat apa-apa, tapi besok bakal kaya.

Lewat keroncong Subardjo merasa dimanusiakan. Sampai sekarang, katanya, banyak orang masih menganggapnya artis. “Saya buang sampah di rumah,” katanya. “Ada yang bilang masak selebritis mbuang sampah.”  Bahkan, di usianya yang terbilang sudah tak produktif, Subardjo masih mendapat rejeki dari teman-temannya. “Undangan nyanyi ya masih terus menerima,” ujarnya.

Saat tampil di Pasar Keroncong Kotagede 2016, Subardjo bakal menunjukkan kemampuannya bersama orkes Keroncong Rinonce. “Besok konsepnya mini orkestra. Pemusiknya 14 orang,” katanya. “Kalau penyanyinya sekitar 10 orang.”

Kegiatan yang berlangsung di panggung Sayangan, Sopingen serta Loring Pasar ini juga menampilkan kelompok Swastika Muda, Jempol Jenthik Orkes, Gambang Semarang Art, Lolycong, Smindo, Kos Atos, Irama Tongkol Teduh serta Wurlitheng.

Acara yang berlangsung dari pukul 19.00 – 24.00 WIB juga menampilkan orkes keroncong dari Kotagede. Antara lain Cahaya Muda, Chandra Kirana, Erwina, Irama Guyub, Pesona Irama, Sarlegi, Sukanada, serta Timpasku. Meski gratis, kegiatan seni yang sudah berlangsung dua kali ini juga mengundang artis ibukota. Selain bakal dimeriahkan penyanyi Oppie Andaresta, Woro (Diatas Rata-Rata), serta Syaharani, kegiatan ini juga  diramaikan hadirnya Yati Pesek, Retno Handayani serta seniman serba bisa Slamet Raharjo.

Penulis: Albertus Indratno
Editor : Albertus Indratno

 
° Berita terkait :  
Kulonprogo Gelar Acara Batik on The Street
Modal Sosial, Kunci Seni Tradisional Bertahan
Perupa Indonesia Pameran di Vietnam
Decki Leos, Sosok di Balik Artwork Official Poster Kustomfest
350 Seniman Ramaikan Centhini Gunung
Mengenang dan Menghormati S Teddy D
Batik Api Inovasi ala Lugiyantoro
Eddy Gombloh, Mencari Ketenangan dengan Kembali Ke Yogyakarta
 
Statistik
00210168
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945