Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Situs
Tantangan Mendirikan Bangunan di Situs Cagar Budaya

Perda DIY No 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya

Perda DIY No 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta

Makam Pahlawan Nasional Nyi Ageng Serang

Situs Surocolo

Petilasan Parangkusumo

Makam Syech Maulana Maghribi

Makam Imogiri

Makam Kotagede

MAKAM DAN MASJID BANYUSUMURUP

Menyajikan data ke- 1-10 dari 11 data.
Halaman 1 2 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (40)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Tantangan Mendirikan Bangunan di Situs Cagar Budaya
« Kembali

Tanggal artikel : 17 Juli 2019
Dibaca: 610 kali

Pasal 9 Undang-Undang Republik Indonesia No. 11 Tahun2010 tentang Cagar Budaya menyebutkan bahwa suatu lokasi dapat ditetapkan sebagai situs cagar budaya apabila 1) mengandung benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya; dan 2) menyimpan informasi kegiatan manusia pada masa lalu. Dalam undang-undang yang sama pada pasal 75 mengamanatkan bahwa setiap orang wajib memelihara cagar budaya (di dalamnya termasuk situs cagar budaya) yang dimiliki dan/atau dikuasainya. Pemeliharaan ini dilakukan dengan cara merawat cagar budaya untuk mencegah dan menanggulangi kerusakan akibat pengaruh alam dan/atau perbuatan manusia.Salah satu usaha penanggulangan kerusakan ini pada situs cagar budaya adalah dengan pembangunan atap dan pagar. Pembangunan atap diharapkan dapat mengurangi kerusakan benda / struktur / bangunan yang ada didalam situs karena terkena hujan dan sinar matahari secara terus menerus dan juga mengurangi kerusakan karena kejatuhan benda-benda lain seperti ranting atau dahan pohon. Pembangunan pagar dimaksudkan untuk melindunginya dari pengunjung yang kemungkinan bisa naik, menyentuh atau menginjak-injak dan kemungkinan terjatuh pada lubang tempat temuan cagar budaya berada. Selain itu juga untuk melindunginya dari kemungkinan kerusakan akibat binatang maupun kendaraan yang lewat di sekitarnya.
Pada pembangunan atap dan pagar ini tentu memerlukan pondasisebagai alas tempat struktur atap atau pagar berada. Karena pada situs itumenyimpan informasi kegiatan manusia pada lalu yang umumnya terdapat di bawahpermukaan tanah, maka pada saat penggalian tanah untuk pondasi ini harusdilakukan secara hati-hati. Penggalian harus dilakukan secara bertahap misalsetiap 20-25 cm kemudian dilihat apakah ada kemungkinan temuan peninggalan masa lalu yang ada di lubang galian tersebut yang dilakukan oleh arkeolog. Bilatidak ada maka penggalian bisa dilanjutkan. Bila ada maka penggalian dihentikan atau diteruskan secara hati-hati untuk melihat secara lebih utuh keberadaan benda / struktur tersebut.
Jika setelah pengkajian dari arkeolog benda / struktur yang ada harus tetap berada di lokasi karena kemungkinan berkaitan dengan benda /struktur lain di sekitarnya, maka posisi pondasi sesuai rencana awal harus dipindah. Jika temuan merupakan temuan lepas yang kemungkinan tidak terkait dengan sekitarnya maka temuan tersebut dapat dipindah dan penggalian tanah untuk lokasi pondasi dapat dilanjutkan.
Pada foto yang diambil di Situs Kauman Pleret, dapat dilihat bahwa setelah dilakukan penggalian tanah untuk pondasi, ternyata ditemukan temuan berupa susunan batu yang membentuk lingkaran dan di dekatnya juga ada susunan batu dan batu bata yang lain. Karena temuan itu kemungkinan berhubungan dengan temuan lain di lokasi tersebut, maka arkeolog memutuskan bahwa temuan tersebut harus tetap berada di lokasinya dan letak pondasi yang semula direncanakan di posisi itu harus digeser. Jika lokasi pondasi yang baru setelah digeser nantinya juga ditemukan lagi benda / struktur yang harus tetap ada di tempatnya maka posisi pondasi juga harus dipindahkan. Keberadaan arkeolog membantu menganalisis kira-kira di lokasi mana yang mungkin tidak ada temuan berdasar data dan hasil galian yang ada.
Memang mendirikan bangunan yang memerlukan penggalian tanah di situs cagar budaya ada tantangan tersendiri. Namun jika tujuan pembangunan adalah untuk  mencegah dan menanggulangi kerusakan cagar budaya akibat pengaruh alam dan / atau perbuatan manusia maka sangat ironis jika pembangunan yang dilakukan justru merusak keberadaan bagian-bagian dari cagar budaya yang ada. (DD)
 
 
Statistik
00221716
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945