Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Budaya
rakerdais I 2016

Cinta Putri Salju

Photography solo exhibition

Pameran Angkatan 2012 ISI Jogja #ObaraAbir

Lautan Jilbab

Recycled Flashion Show by Wiwiek Poengki

Lomba Band & Menggambar-Mewarnai

Festival Budaya Klasik untuk Lestarikan Budaya di Lereng Merapi

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

Menyajikan data ke- 1-10 dari 119 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Festival Budaya Klasik untuk Lestarikan Budaya di Lereng Merapi
« Kembali

Tanggal artikel : 25 Januari 2016
Dibaca: 74501 kali


Seniman dan warga kawasan rawan bencana di lereng Gunung Merapi, Kabupaten Magelang berupaya untuk melestarikan budaya klasik agar tidak semakin lekang oleh waktu. Cara yang mereka lakukan adalah dengan menggelar festival budaya klasik di Dusun Sabrang, Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, Minggu (24/1/2016).

ARAK-ARAKAN hasil bumi mengawali festival budaya yang diinisiasi oleh puluhan seniman di desa teratas di Kabupaten Magelang ini.

Hasil bumi yang diarak itu berupa padi, ketela, jagung, sayuran dan lainnya ini dikemas dalam bentuk gunungan.

Para seniman ini kemudian mengarak hasil bumi tersebut dari balai desa setempat menuju panggung pentas di tengah dusun yang berjarak kurang lebih 1 kilometer.














Dari tempat tersebut, kemudian para seniman langsung menampilkan beragam kesenian.

Mulai dari seni karawitan Setyo Laras dari Dusun Kembang, kemudian seni jalantur dari Dusun Karanganyar, seni jathilan Cipto Argo Budoyo dari Dusun Tanen, seni jathilan Kudo Panglaras dari Dusun Batur Duwur, seni jathilan Cipto Budoyo Dusun Tangkil, seni reog dari Dusun Sabrang, seni campur cipto saro dari Dusun Bojong, seni cakarlele dari Dusun Ngandong, seni dolalak dari Dusun Tanen, seni Angguk Rame dari Dusun Batur Ngisor.

Dari penampilan tersebut, ada sebuah kesenian yang cukup unik, yakni Gasir Ngentir dari Dusun Karang Anyar yang kerap pentas di kota-kota besar yang ada di Indonesia.


Kesenian Gasir Ngentir ini, memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan kesenian lainnya. Lantaran, selain pemainnya berusia lansia juga gerakan yang diperagakan oleh para penari jauh berbeda dengan kesenian lainnya.

“Dengan penampilan 11 kesenian ini, kami berupaya untuk melestarikan kesenian yang ada di sekitar Lereng Gunung Merapi tepatnya di Desa Ngargomulyo yang sudah diturunkan dari nenek moyang,” ujar Ketua Panitia Festival Budaya Klasik Dusun Sabrang, Desa Ngargomulyo, Widodo, Minggu (24/1/2016).

Selain untuk pelestarian budaya, lanjut Widodo, Festival Budaya ini juga bertujuan untuk menunjukkan rasa persatuan dan kesatuan sesama warga untuk mengapresiasi bersama para seniman.

Hubungan dengan Alam














Widodo juga menambahkan, wilayah Desa Ngargomulyo merupakan kawasan rawan bencana Merapi.

Dia pun menjelaskan, hal utama yang akan diangkat dari festival ini adalah warga dan seniman bisa menunjukkan hidup berdampingan secara arif dan bersatu antara manusia dengan alam.

“Sehingga, kita bisa aman dan tenteram meski tinggal di kawasan rawan bencana,” imbuhnya.

Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Pemkab Magelang, Husain sangat mengapresiasi persatuan dan kesatuan warga Desa Ngargomulyo yang masih bersemangat untuk mempertahankan nilai kebudayaan tradisional.

“Pemerintah akan selalu mendukung kegiatan dalam rangka melestarikan kebudayaan seperti, supaya kebudayaan yang kita miliki tetap lestari dan bisa diwariskan kepada anak cucu kita,” tuturnya.

Wati warga desa Kemiren, Kecamatan Srumbung, mengatakan, pementasan kesenian tersebut menjadi sebuah pembelajaran bagi generasi muda.

Hal ini lantaran, perubahan zaman dan era digital membuat kesenian tradisional yang ada semakin jarang dijumpai.

“Ini menjadi pengingat bagi generasi muda untuk melestarikan budaya. Agar jangan sampai budaya modern semakin dikenal, sementara kebudayaan tradisional semakin ditinggalkan,” ungkapnya.

 


 
 
Statistik
00206146
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945