Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Budaya
rakerdais I 2016

Cinta Putri Salju

Photography solo exhibition

Pameran Angkatan 2012 ISI Jogja #ObaraAbir

Lautan Jilbab

Recycled Flashion Show by Wiwiek Poengki

Lomba Band & Menggambar-Mewarnai

Festival Budaya Klasik untuk Lestarikan Budaya di Lereng Merapi

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

Menyajikan data ke- 1-10 dari 119 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"
« Kembali

Tanggal artikel : 25 Januari 2016
Dibaca: 76489 kali

‘Dalam tradisi Romawi kuno, ‘the others’ adalah ‘homo-barbarus’ (manusia asing, tapi juga dapat diartikan sebagai ‘anjing’). Mereka layak dihina karena tidak memiliki martabat sebagaimana manusia (humanitas), tidak murni turunan ilahi yang dicirikan oleh kemampuannya mencicipi keabadian (aionion) melalui kekuatan “jiwa yang tak pernah mati” atau akal budi murni (logos) melalui pendidikan dan latihan kesusastraan (paideia).’ (Haryanto Cahyadi; sebuah esai tentang poskolonial)

Gerak daya pikiran manusia untuk bertahan hidup, membuat manusia menciptakan komunitas dan masyarakat. Kerjasama menjadi sebuah kata yang disepakati bersama. Meski hewan pun memiliki hal ini, namun secara statik, perikatan hewan dengan hewan lain sejenis muncul sebagai reaksi bertahan hidup harian. Manusia bertindak lebih jauh dari itu, karena struktur akal yang mendasarinya. Akal yang terberi dan teredukasi ini membuat manusia melangkah lebih jauh dari sekadar bertahan hidup namun juga menguasakan.

Dominasi dipandang sebagai strategi untuk mempertahankan keberlangsungan hidup. Metode dominasi demikian mendorong manusia membuat nomenklatura aturan yang dibakukan, sebut hal demikian berkembang menjadi ilmu. Mereka yang dominan berusaha melegitimasikan kemanusiaan dalam ruang norma dan etiknya sendiri. Di satu sisi muncullah superioritas kemanusiaan dalam wajah agama, bangsa, komunitas, nilai tukar uang bahkan dalam sosok raja, ketua RW, dan ayah atau ibu dalam patron keluarga.

 


PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"
27 JAN - 23 FEB 2016
WANGI ART ROOM // KEDAI KOPPI BELL
>> (Jl. Kaliurang KM. 13,5)
Jalan Bimo 88, Dusun Candirejo, Desa Sardonoharjo,
Ngaglik, Sleman.

Kurator:
G. MARHAENDRA

Perupa:
REZA D. PAHLEVI
ANTON YUNIASMONO
HIMAYA SODHIE

Pembukaan:
RABU, 27 JAN 2016
19.00 WIB - SELESAI

Hiburan:
NEUROVIBE Feat JIMI MAHARDIKKA


Kehadiran pihak yang terdominasi, dalam sebuah relasi kekuasaan menjadi sesuatu yang harus diredam, entah dalam kosa ini dibiarkan tumbuh namun tidak (rela) untuk dominan atau malah dihancurkan. Elitisme pengetahuan dan cara mengelola kekuatan pengetahuan (baca: sistem uang, cara kelola region dan militer) menjadi alat kuasa yang bertujuan untuk dominasi. Dalam peta dominasi, kekuatan ‘yang lain’ hidup dalam garis bawah narasi pihak yang dominan.

Ketiga seniman dalam tema pameran kali ini mencoba merepresentasikan berbagai isu, praktik kuasa, pengetahuan, praktik kebudayaan yang mereka tangkap dalam ingatan, mereka lihat dan alami. Selamat menikmati.

 
 
Statistik
00212199
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945