Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Budaya
rakerdais I 2016

Cinta Putri Salju

Photography solo exhibition

Pameran Angkatan 2012 ISI Jogja #ObaraAbir

Lautan Jilbab

Recycled Flashion Show by Wiwiek Poengki

Lomba Band & Menggambar-Mewarnai

Festival Budaya Klasik untuk Lestarikan Budaya di Lereng Merapi

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

PAMERAN SENI "HOMO BARBARUS"

Menyajikan data ke- 1-10 dari 119 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Nama saya Mbah Payem, umur saya 90 tahun!
« Kembali

Tanggal artikel : 30 Oktober 2015
Dibaca: 47708 kali


Begitulah wanita tua tersebut mem perkenalkan dirinya di atas panggung. Dia merupakan representasi dari masyarakat Yogyakarta. Dia tidak sendiri, dalam preview pertunjukan 100% Yogyakarta yang digelar di Concert Hall TBY malam itu (30/10), Mbah Payem tampil bersama 99 orang warga Yogyakarta lainnya.

Dengan menghadirkan 100 orang warga Yogyakarta, pertunjukan 100% Yogyakarta yang diwujudkan bersama oleh Rimini Protokoll dan Teater  Garasi sebagai bagian dari Jerman Fest, berusaha menampilkan potret kota Yogyakarta masa kini melalui pandangan warganya. Setiap warga yang tampil merupakan representasi atas kriteria tertentu dalam statistik yang akan merefleksikan demografi Yogyakarta. Dipilih melalui proses pemilihan pemain yang cermat, 100 warga Yogyakarta tersebut menampilkan kota mereka melalui angka, statistik dan hubungan-hubungan antar pribadi, sehingga menciptakan sebuah kaleidoskop kota itu sendiri.

Yang harus digarisbawahi, mereka adalah warga biasa bukan aktor professional yang terbiasa tampil di depan banyak orang. Dengan mengenakan pakaian dan properti yang dipilihnya sendiri, keseratus warga Yogyakarta tampil sebagai dirinya sendiri. Satu persatu dari mereka maju memperkenalkan diri, menyebutkan nama dan gambaran personal singkat tentang dirinya, lalu menyebutkan hubungannya dengan orang setelahnya. Setiap warga dalam pertunjukan ini terhubung, dalam proses casting mula-mula dipilih satu orang, lalu orang tersebut akan merekomendasikan orang berikutnya berdasarkan criteria yang dibutuhkan, dan seterusnya. Rimini Protokoll, kelompok teater dari Jerman yang menginisiasi dan menyutradarai pertunjukan ini mengistilahkannya sebagai reaksi berantai statistik.

Oleh karena itu, potret Yogyakarta dalam pertunjukan ini sedikit banyak dapat menampilkan detil-detil warganya. Ada anak-anak, lansia, PNS, juru parkir, ODHA, fotografer, petani, pengurus mesjid, mahasiswa, transgender sampai warga asal Indonesia Timur. Dari bayi berusia 2 bulan yang hanya digendong ibunya, hingga nenek 90 tahun yang begitu enerjik ikut berjoget di atas panggung. Mereka membaur dan berinteraksi, tak segan berdekatan bahkan bersinggungan meski, di kehidupan nyata bisa jadi mereka berasal dari golongan tertentu dengan ideologi yang berbeda.

Struktur pertunjukan ini disusun berdasarkan pertanyaan-pertanyaan, di mana pertanyaan-pertanyaan tersebut ditanyakan oleh satu peserta untuk dijawab para peserta lainnya. Apa yang ditanyakan dan bagaimana jawaban yang muncul adalah sesuatu yang tak terduga dan terus menerus membangkitkan rasa penasaran penonton. Menurut Naomi Srikandi dari Teater Garasi, sebagian besar dari pertanyaan tersebut berasal dari lontaran peserta sendiri. Seperti misalnya, “Saya sekarang tidak berani keluar malam, siapa di sini yang tidak berani keluar malam?”

Selain itu, ada pula pertanyaan-pertanyaan menarik yang bersifat personal yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Pertanyaan semacam ini dijawab secara rahasia, di mana lampu panggung dimatikan, dan jawaban diberikan dengan menggunakan senter. Pertanyaan seperti, siapa yang pernah berselingkuh, atau siapa yang naksir salah satu orang yang berada di panggung, tak pelak memicu gelak tawa penonton. Pada sesi open mic, para penampil mendapat kesempatan untuk melontarkan pertanyaan-pertanyaan spontan. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul nampak berasal dari concern mereka sendiri, misalnya tentang tanggung jawab  pengusaha terhadap lingkungan, pernikahan sejenis, sampai pada soal kepemimpinan di Yogyakarta.

Salah satu partisipan, Chandra Wiejaya yang akrab disapa Mbak Chenny mengungkapkan, lewat pertunjukan ini dia mendapat sedikit gambaran tentang seberapa besar sikap sebagian warga Yogyakarta dalam menyikapi perbedaan. Menurut Mbak Chenny yang mencari nafkah dengan menjadi pengamen, “Secara keseluruhan, ini (100% Yogyakarta) pengalaman sekaligus tantangan baru buat saya.”

Ada begitu banyak persoalan, yang sebagian di antaranya bahkan tabu untuk dibicarakan secara terbuka, dapat diutarakan di atas panggung 100% Yogyakarta. Pertunjukan ini sendiri merupakan bagian dari proyek 100% kota yang telah dibawa Rimini Protokoll ke puluhan kota di berbagai belahan dunia. Yogyakarta, adalah kota ke-27 yang beruntung menjadi tempat digelarnya pertunjukan ini di Indonesia.

Pertunjukan yang juga melibatkan musisi lokal Yogyakarta ini memberi kejutan di akhir acara, di mana Jogja Hiphop Foundation tiba-tiba muncul dan berkolaborasi dengan band FSTVLST bermain mengiringi pertunjukan. Serentak seratus warga yang tampil ikut menari bersama mereka, termasuk Mbah Payem yang malam itu telah mencuri perhatian para penonton. Bersama-sama mereka merayakan Yogyakarta, merayakan keberagaman yang begitu nyata di panggung 100% Yogyakarta.

 
 
Statistik
00212197
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945