Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Sultan HB X Berbicara Ngoko, Ini Reaksi Peserta Javanese Diaspora

#BeraniGundul

Lautan Jilbab

FestivalJomblo

Pemuitaran Film Siti

Unguarded Guards

Festival Sholawat 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Sleman

Festival Adiluhung Kabupaten Bantul

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Menyajikan data ke- 1-10 dari 72 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Unguarded Guards
« Kembali

Tanggal artikel : 7 September 2015
Dibaca: 43174 kali

Seniman visual Agung -atau yang biasa dikenal dengan Agugn, yang terdengar lebih "grafis" daripada pengejaan standarnya-Prabowo (lahir 1985 di Bandung, Indonesia; agugn.tmblr.com) lulus pada tahun 2010 dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, tempat ia belajar seni cetak. Untuk mendapatkan gelar kesarjanaan S.Sn., ia menggunakan teknik cukil kayu dalam tugas akhirnya. Sekarang, seniman yang produktif dalam berkarya ini dikenal luas lewat karya-karyanya yang menggunakan teknik cetak cukil lino.

Setelah menyelesaikan studinya, Agugn bergabung dengan sebuah perusahaan percetakan, namun keterlibatannya dengan perusahaan tersebut ternyata tidak berlangsung lama, sejalan dengan tekanan belenggu kreativitas yang dialaminya. Setelah berhenti dari pekerjaannya, dan sekaligus berhenti mendapatkan kenyamanan dan fasilitas seorang karyawan, ia dan istrinya, seniman Sekarputri Sidhiwati, pada tahun 2012 mendirikan perusahaan percetakan mereka sendiri yang diberi nama Let's go Press (letsgopress.tumblr.com) yang mengkhususkan diri pada teknik cetak huruf. Namun upaya yang mereka lakukan sebenarnya lebih dari sekedar menjadi wiraswastawan, Agugn bisa lebih leluasa memenuhi gairah kesenimanannya: seni visual serta eksplorasi dan eksperimen dalam teknik, bahan baku, peralatan, dan ide-ide estetik dan artistik, yang pada dasarnya selalu menyimpan risiko.

Agugn telah ikut ambil bagian dalam berbagai pameran bersama di berbagai tempat di Indonesia, dan juga di mancanegara seperti Singapura, Jepang, dan Spanyol. Lebih dari itu, ia bahkan tampil sebagai pemenang dalam Indonesian Printmaking Triennale, yang memberinya kesempatan untuk berpameran tunggal dengan mengambil tema Natural Mystic pada tahun 2013 (di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Solo). Pada tahun 2014, ia kembali menjadi satu dari tiga penerima penghargaan dalam Jogja Mini Print Biennale, dan ia juga meraih Young Artist Award dalam ArtJog, keduanya diadakan di Yogyakarta, dan sekaligus membawa sang seniman sebagai peserta dalam pameran serupa di tahun 2015. Dalam ArtJog tahun ini, ia menampilkan karyanya We Are All Made of Stars, yang merupakan simbol dari lima elemen yang digunakan dalam pembuatan karya tersebut: carborondum, cukil kayu, fotolithografi, linocut, dan sidik jari para pengunjung, dan kelimanya menggunakan kertas daur ulang yang dibuatnya sendiri.

Sebagai seorang seniman Agugn sangat produktif. Dan kuantitas karyanya yang bernas pun memiliki alasan sendiri, baik secara teknis maupun konseptual. Singkatnya, untuk dapat mencetak, sang seniman mencoba untuk mencari tahu apa yang ingin ia capai. Dan untuk mengetahui apa yang bisa ia capai, sang seniman perlu mencetak sebanyak mungkin, kalau perlu sebanyak yang ia bisa. Atas dasar itulah, kedua proses tersebut pada dasarnya adalah sebuah tindakan refleksif "dua-arah dan mencoba tanpa henti" yang terjadi antara mencetak -dan itu berarti berbicara tentang teknik, bahan baku, dan peralatan -dan ide artistik. Mencetak, bagi Agugn, dengan demikian, adalah seni berkelindan di antara dan memanfaatkan sebaik mungkin batasan-batasan yang ia temui, dan itu berarti dalam proses tersebut ia mencoba untuk menembus batas-batas artistiknya sejauh yang ia bisa.

Saat sang istri mengandung anak laki-laki mereka, Lino Apta, Agugn beralih dari cukil kayu ke teknik cukil lino karena teknik yang telah ia tekuni sebelumnya tidak lagi mungkin ia lanjutkan -serat-serat kayu yang memenuhi studionya (yang juga rumahnya) terlalu berbahaya bagi sang ibu dan anak.

Lino Apta lahir sebagai hadiah yang luar biasa, hadiah yang mengubah hidup sang seniman.

Ayah mertuanya, seniman Ipong Purnama Sidhi, memberinya alat cukil sebagai bingkisan, yang, tentu saja, sangat penting bagi seorang seniman yang hendak menekuni teknik cukil lino. Dan dari berbagai macam mata cukil yang ia miliki, ada dua yang selalu menyita perhatiannya: yang berbentuk U dan V, terutama karena efek ketajaman garis-garis halus yang bisa didapat dari keduanya.

Pelat lino yang memadai ternyata cukup sulit untuk didapat di Indonesia. Setelah sekian lama mencari, Agugn memutuskan untuk menggunakan bahan baku yang biasanya dipergunakan dalam pembuatan sol sepatu. Ia menggambar langsung di atas pelat-pelat ini, dan setelahnya mencukil pola yang telah tertera di atas pelat. Ia tidak menggunakan pelat yang berbeda untuk mencetak warna yang berbeda, alih-alih, ia menggunakan pisau cukilnya lagi di pelat yang sama untuk mencetak warna yang lain (dengan menggunakan metode reduktif).

Sang seniman mencetak hasil dari pelat-pelatnya dengan menggunakan teknik reduksi dengan registrasi berbentuk huruf L. Ia memliki dua alat tekan di studionya, yang kecil, untuk tekanan vertikal dengan luas maksimum 40x40cm, dan yang lebih besar, untuk tekanan datar dengan luas maksimum 45x65cm. Agugn sendiri yang membuat kedua alat tekan ini. Dua alat tekan yang dibuat berdasarkan pesanan tersebut, yang rentang permukaan tekannya terbatas, ternyata memberi konsekuensi tersendiri pada sang seniman dalam hal dimensi ukuran karyanya, yang dengan demikian, bila ia ingin menghasilkan karya yang berukuran besar maka ia harus bekerja secara modular, dan ini berarti entah ia menggunakan lebih banyak kertas di dalam satu bingkai (misalnya dalam Family Matters, salah satu materi pameran tunggalnya Natural Mystic) atau ia memadukan berbagai cetakan yang dibingkai secara terpisah (misalnya dalam sleepless, yang merupakan materi pameran kali ini). Dan metode pengerjaan karya seperti ini menghasilkan sebuah mosaik, yang dengan demikian memberikan kemudahan bagi seniman untuk menggunakan warna yang berbeda untuk setiap lembar yang berbeda, dan juga gambar yang berbeda-beda. Keterbatasan teknis semacam ini ternyata juga memberikan ruang eksplorasi konseptual bagi Agugn. Pendekatan modular semacam ini menunjukkan cara kita berada dalam dunia tempat kita hidup (ya, ke-plural-an kita, sebagaimana kita selalu bergerak ke dalam atau ke luar konteks -atau batasan-batasan -yang berbeda-beda, seperti yang dikatakan sang seniman -mengalir tanpa henti): bersama tetapi terpisah, dekat tetapi jauh…

Kertas yang digunakan sang seniman untuk karya cetaknya tidak lain adalah kertas yang dibuatnya sendiri, yang berbahan baku kertas koran dan kertas uji hasil cetak karya-karya sebelumnya yang didaur-ulang; kertas yang dibuatnya ini memiliki tekstur khas dan cukup tebal meski sangat berpori. Dan ia menggunakan tinta yang biasanya dipergunakan dalam industri percetakan. Kertas buatan sendiri semacam ini mampu menyerap tinta berbahan dasar minyak semacam itu, yang membuat warna-warna dalam hasil cetakan sangat mencolok dan hidup. Kertas tersebut juga bukanlah "sekedar" kertas buatan sendiri, karena lewat upaya pencarian dan penggodokan yang dilakukan sang seniman, ia mencoba menyempurnakan ramuan kertas rumahannya untuk mendapatkan hasil cetak yang sempurna.

Mencetak sebuah karya membutuhkan ketelitian tinggi dan Agugn adalah seorang perfeksionis, namun demikian, ia melihat kekeliruan dan improvisasi sebagai bagian dari proses berkaryanya. Kadang-kadang, sebuah kesalahan "menarik" dapat menuntun sang seniman pada sesuatu yang tidak terduga yang layak untuk dieksplorasi lebih lanjut. Dan baginya mencetak adalah proses yang sangat melelahkan, dan pada saat yang bersamaan ia mencari dan sekaligus membutuhkan repetisi-repetisi yang merupakan konsekuensi dari medium yang ia pilih. Ia tidak ingin bekerja dengan medium yang lain -misalnya lukisan atau gambar -karena pengulangan baginya adalah sesuatu yang penting, yang ia letakkan setara dengan sebuah proses yang sangat spiritual dan sarat nuansa mantra.

Ada karakter "kerjakan sendiri" yang kuat dalam gairah berkesenian Agugn: kertas buatan sendiri, alat tekan pesanan khusus, dan pelat dan tinta yang ia dapatkan dari tempat-tempat yang tidak biasa dilanggan para seniman. Bahkan lebih dari itu, teknik cukil lino-nya pun ia pelajari secara otodidak.

Karya-karya Agugn berhubungan dengan ruang-ruang intim dan privat, dan dengan dunia yang lebih luas yang terkait erat dengan ruang-ruang semacam itu. Hubungan antara yang intim dan yang privat dengan sebuah ranah-huni sosial yang lebih luas adalah satu dari kompleksitas semacam ini, yang sarat dan padat dengan kontradiksi-kontradiksi sehari-hari yang dipicu oleh persinggungan dogma-dogma dan norma-norma yang dibawa oleh dogma-dogma tersebut yang jelas berbeda satu dengan yang lain, dan untuk menterjemahkan ini semua ke dalam sebuah bidang bermatra dua menyaratkan sang seniman untuk bermain dengan posisi lapis-demi-lapis karyanya semaksimal mungkin, yang tidak jarang sejalan dengan pendekatan mosaik. Atas dasar itu, di dalam karya-karyanya kita jumpai sebuah figur tunggal disambangi oleh berbagai elemen yang mengacu atau kadang tidak mengacu sama sekali pada sesuatu.

Untuk bisa memahami dunia yang dirapal oleh Agugn, dengan demikian, seorang pengamat mesti menyimak dua rangkaian karya ini: Natural Mystic, yang telah saya singgung di halaman sebelumnya, dan juga Abducted by Himself, yang dipamerkan tahun 2012 di Selasar Sunaryo Art Space dalam pameran keempat dari Bandung New Emergence (tepatnya di bagian Soliquy), saat ia ambil bagian dengan sebuah artist book dan sejumlah besar koleksi karya-karyanya dalam ukuran kecil berbingkai. Koleksi tersebut erat kaitannya dengan persinggungan singkatnya dengan sebuah perusahaan percetakan dan dengan apa yang ia rasakan saat pekerjaan semacam itu seakan mengurung tubuhnya dan memenjarakan dirinya.

Di dalam karya yang ia pamerkan sebelumnya ini, sang seniman mengeksplorasi anggapan tentang ketakutan yang ambigu; ambiguitas tentang ketakutan semacam ini didasarkan pada gagasan bahwa ketakutan, sekalipun pada dasarnya tidak diinginkan, dapat memberikan konsekuensi yang tidak terduga tapi sekaligus sangat bernas -seni, misalnya.

Di sela-sela gerak dan ketangkasan sang seniman… di antara malam tanpa lelap, keterjagaan, kelelahan, sambut pagi dalam kegalauan. Dalam gerak berkelindan di antara jarum dan jepitan dibungkus kejutan berbalut tanda tanya dalam alur penantian. Juga tentang tidak pastinya isi dompet dan kantong. Tambah himpitan tuntutan keluarga besar dan pengapnya rengekan institusi agama. Dan seni kontemporer seakan tidak pernah berhenti menjajal batas mungkin. Ada ego yang menjadi pelengkap ramuan, dan jadilah sajian yang kental dengan klaim-klaim yang baku-saing dan baku tumbuk yang memuncak pada kegelisahan yang sarat dan pejal dengan tekanan. Atau, dengan kata lain, tentang bagaimana caranya hidup -dan memahat makna kehidupan -dalam sebuah belit kesimpang-siuran gelagat modernitas yang cair ini?

Sang seniman menjadi seorang ayah dua tahun lalu dan perkara menjadi ayah mempengaruhi hidup dan prioritas hidupnya. Ia ingin melindungi sang anak -yang diberi nama Lino Apta -dan melindunginya dari bahaya, namun demikian, ia pun tahu, dalam sebuah penantian sarat kegelisahan, bahwa melindungi pun ada batasnya -paradoks, memang…

Dalam pameran tunggalnya unguarded guards dalam Jogja Contemporary, ia menampilkan sebuah rangkaian karya terbarunya yang dikerjakan dengan teknik cukil lino, fotolithografi dan kombinasi keduanya, yang semuanya dicetak di atas kertas buatan sendiri. Rangkaian karya terbarunya ini mencoba membahas tentang konsep ketakutan, dan bertolak dari gagasan tentang betapa paradoksnya "perlindungan" yang bisa kita berikan.

Sang orang tua sejatinya memang berupaya sedapat mungkin untuk melindungi sang anak dari bahaya -yang mungkin terjadi. Namun demikian, seorang orang tua yang peka juga sadar akan paradoks yang dihadapinya: selalu ada batas-batas yang tidak bisa ditawar saat bicara tentang bagaimana seorang anak bisa dilindungi dari intaian bahaya.

Mengenali paradoks semacam ini membuat orang dapat menikmati tawa-canda, dan, juga, pesona dari hal-hal yang tidak terduga yang merupakan bagian dan bingkisan dari cinta yang tulus dan tanpa pamrih.

Dalam pameran unguarded guards, karya sleepless mengambil peran sang bintang. Karya ini adalah sebuah karya monumental. Ambisi Agugn untuk menyelesaikan karya ini membuatnya bekerja sampai larut malam, bekerja sampai subuh untuk menyelesaikan 44 lembar sebanyak tiga kali untuk setiap warna dengan teknik cukil lino. Dan ke-44 lembar tersebut, masing-masing berukuran 24,5x24,5cm, dibingkai secara terpisah (setiap bingkai berukuran 27x37cm). Bayangkan betapa menyengatnya dimensi karya ini, belum termasuk sengatan warna-warnanya…

Gabungan serba-serbi elemen, jukstaposisi benda-benda nyata dengan keapikan… menghasilkan realisme magis. Kata-kata berputar dan mengitar dalam kata-kata -dan bukan sekedar jungkir-balik-naik-turun, karena di sini hirarki dan skala telah ditanggalkan. Labirin persimpangan dan hiruk-pikuk semacam ini menawarkan sebuah jalan tanpa akhir untuk bercengkerama dengan sleepless.

Sekali lagi karya sleepless ini merangkum apa yang ingin dicapai oleh Agugn: eksplorasi berisiko dan eksperimentasi dengan cara menyusun dan menyusun ulang dan mengkomposisikan imaji-imaji yang di kepalanya sehingga sehingga kita bisa mengalami imaji-imaji itu baik secara keseluruhan maupun bagian-demi-bagian secara terpisah dan bebas.

Karya-karya baru yang ia hasilkan termasuk Chill #1-3 (menggunakan fotolithografi, sebuah teknik yang dapat menunjukkan goresan kuas sehingga hasil akhirnya dapat merekam tangan sang seniman sembari mempertahankan kesan pengulangannya, tiga macam warna untuk setiap lembar kertas yang berukuran 28x20cm masing-masing dengan 15 lembar di setiap bingkai); Kundika #2 (cukil lino, biru cobalt, 96x120cm, karena ia tidak memiliki alat tekan ukuran besar, ia mencetaknya secara manual dengan menggunakan sendok dan tangannya); dan Surface (sebuah kombinasi dari fotolithografi (foto yang ia temukan lewat fitur pencarian Google) dan cukil lino (untuk memekatkan warna), 20 bingkai karya dengan ukuran masing-masing 36x48cm).

 
 
Statistik
00205897
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945