Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Seni Rupa
Pameran FOLK:LORE di Galeri Jogja National Museum

Kanjeng Raden Tumenggung Wiroguno

Menyajikan data ke- 1-2 dari 2 data.

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Pameran FOLK:LORE di Galeri Jogja National Museum
« Kembali

Tanggal artikel : 3 Juni 2015
Dibaca: 32261 kali

YOGYAKARTA, TASTEOFJOGJA.COM - Bagi Laksmi Shitaresmi dan Franziska Fennert pulau Jawa adalah rumah besar bagi keduanya yang menampung peradaban tua yang telah dimulai sejak abad ke-8 masehi. Tahun 1700-an banyak diketemukan reruntuhan kuno dari berbagai latar belakang kehidupan dan sebaliknya pada abad ke-21 tanah Jawa menjadi rumah bagi anak bangsa yang disebut Indonesia.

Keduanya telah merasakan kehidupan di Tanah Jawa dengan berbagai peristiwa yang telah terjadi di tanah Jawa ini. Pengalaman keduanya diwujudkan dalam praktik pembuatan seninya. Dia sering menggunakan pathos budaya simbolisme Jawa dalam karya seninya.

Pameran ini memiliki dua fokus yang berdiri kokoh berdampingan. Fokus tersebut adalah Folk dan Lore, maka jadilah judul pameran ini.

Franziska Fennert dan Eksplorasinya pada Narasi Kuno Jawa
Pemahamaan dan eksplorasi tentang budaya Jawa membawa Franziska Fennet mengajak kita membaca sejarah Jawa dengan cara yang segar. Memunculkan sosok Durga dalam karyanya tidak terlepas dari budaya Jawa yang kaya akan nuansa, Franziska berhasil menampilkan sosok Durga dengan memancing kita memperhatikan segala renik dan nuansa warna yang dipakai dalam menjahit bentuk citraan yang penting bagi masyarakat Jawa, dan itu adalah Durga

Laksmi Shitaresmi: Kritik Wanita Jawa pada Pemimpin Bangsa
Kemunculan pertamanya di akhir 80-an saat Indonesia dalam era perkembangan ekonomi dan masih berjuang mengidetifikasikan identitasnya secara politik maupun budaya. Sejak itu Laksmi mengidentifikasi dirinya sebagai perempuan Jawa dengan semua keburukan dan kemuliaannya. Dia bekerja dengan simbolisme Jawa dalam seninya.

Laksmi menggunakan simbol-simbol ini sebagai bentuk penghormatan atas budaya yang membesarkannya, untuk menyampaikan pikirannya, keprihatinan dan kekhawatiran tentang orang-orang di sekelilingnya. (aanardian/tasteofjogja.com)

 
 
Statistik
00212174
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945