Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Basa Jawa
mak plung...mak croot

Pedoman pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa (Kesimpulan & Saran)

Pedoman pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa (Pemberdayaan Bahasa Jawa) (8)

Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (5)

Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (4)

Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (3)

Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (2)

Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (1)

Menyajikan data ke- 1-8 dari 8 data.

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Pedoman Pelestarian dan Pengembangan Bahasa dan Sastra Jawa (3)
« Kembali

Tanggal artikel : 10 Maret 2014
Dibaca: 28448 kali

A. Visi dan Misi Pengembangan Kebahasan dan Kesasteraaan

Visi bidang kebahasaan dan kesasteraan adalah menggali nilai-nilai luhur bangsa yang tercermin dalam berbagai peninggalan leluhur, berupa naskah atau teks-teks kebahasaan dan kesasteraan. Penggalian diarahkan pada penemuan dan pengembangan nilai budi luhur orang Jawa. Nilai luhur itu direlevansikan dengan kehidupan orang Jawa di Yogyakarta masa kini. Visi tersebut terkandung pesan agar pemerintah propinsi DIY, khususnya seksi Kebahasaan memandang arti penting bahasa dalam konteks komunikasi budaya. Bahasa sebagai sarana komunikasi di dalamnya terkandung unsur seni, sastra, dan budaya adiluhung yang harus dilestarikan dan dikembangkan. Tanggung jawab pelestarian dan pengembangan adalah pemerintah bersama rakyat. Oleh sebab itu pembinaan kebahasaan dan kesasteraan di DIY selalu berbasis pada komunitas dan kemasyarakatan.

Misi pemerintah khususnya seksi Kebahasaan terkait dengan tugas dan wewenang adalah mewujudkan Yogyakarta sebagai kota budaya. Berkaitan dengan hal ini pemerintah memiliki misi ke depan bahwa bahasa Jawa merupakan bahasa daerah yang masih hidup dan dipakai secara luas di tiga propinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 0leh karena itu, perlu rencana strategis yang disusun bersama oleh tiga propinsi untuk mengakomodasi permasalahan-permasalahan kebudayaan. Selain itu, program ini juga dapat sebagai sarana komunikasi dan tukar informasi mengenai masalah terkait dengan kebudayaan secara luas, termasuk bahasa, sastra, dan aksara yang berkembang di tiga propinsi. Misi pemerintah sebagai kepanjangan tangan rakyat yang terdepan adalah menciptakan Yogyakarta berhati nyaman melalui kebahasaan dan kesasteraan secara proporsional. Itulah sebabnya diperlukan landasan filosofi kebijakan dan deskripsi program yang handal. Program-program yang kemudian dijabarkan dalam berbagai kegiatan sebagai upaya pemberdayaan dan pengembangan aksara, bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Basis pengembangan program tidak lain berupa pemberdayaan naskah kuna, membakukan aksara, bahasa, sasta, dan budaya Jawa melalui Lomba, Pelatihan, Kursus, Festival, konferensi, outbound, Sarasehan, kongres, dan pertemuan lain. Berbagai kegiatan seperti pelatiha, diarahkan untuk memberikan bekal kepada masyarakat agar terampil menggunakan bahasa dan sastra Jawa dalam konteks komunikasi. Pelatihan yang akan diselenggarakan datam upaya memberdayakan bahasa dan sastra Jawa, serta meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan terkait bahasa, sastra, dan budaya Jawa yang dilakukan secara serentak. Pelatihan-petatihan ini direncanakan dilaksanakan secara terpadu selama periode tertentu. Pelatihan dilakukan oleh tenaga profesional di bidangnya. Sasaran pelatihan pranatacara dan sesorah berbahasa Jawa adalah masyarakat umum. Petatihan nembang dan bengkel sastra, juga ditujukan untuk masyarakat umum, serta siswa-siswa SMP dan SMA di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Seluruh peserta pelatihan dapat mendaftar langsung maupun melalui instansi setempat. Bengkel sastra adalah salah satu bentuk kegiatan kesastraan yang berfungsi sebagai sanggar pelatihan untuk mendalami nilai-nilai sastra. Selain itu, bengkel sastra juga berfungsi sebagai sarana untuk menumbuhkan dan melatih daya kreativitas siswa serta memperkenalkan proses penciptaan karya sastra. Kegiatan bengkel sastra selama ini masih terarah kepada siswa dan guru yang diselenggarakan Balai Bahasa Yogyakarta dimulai sejak tahun 2000 sampai sekarang. Dinas Kebudayaan tentu saja mempunyai tanggung jawab mengadakan kegiatan serupa, tidak hanya terbatas pada guru dan siswa, melainkan juga bagi masyarakat umum.

Bengkel sastra Balai Bahasa Yogyakarta itu perlu dikembangkan lebih meluas pada santri pondok pesantren, organisasi profesi (misal: PSK) dan ke depan ingin merangkul para anak jalanan, nelayan, dsb. Adapun tujuan penyelenggaraan bengkel sastra adalah

(1) peserta dapat mengenal, memahami, dan menghayati berbagai karya sastra, baik puisi, prosa, drama, macapat serta mengetahui perkembangannya;

(2) peserta mampu bersikap kritis dan apresiatif terhadap karya sastra;

(3) peserta dapat menyalurkan minat, bakat, dan kemampuannya berkarya sastra; dan

(4) peserta yang telah mengikuti kegiatan Program sarasehan, seminar, kongres, konferensi, dan festival diarahkan untuk menuju sebuah acara besar yaitu Kongres Bahasa Jawa V di Jawa Timur dan sekaligus menyongsong Kongres Budaya Jawa.

Kegiatan itu berupaya membahas isu mutakhir kebudayaan, kebahasaan, seni, dan keskasteraaan direncanakan berjalan secara rutin setiap bulan, mulai bulan Januari sampai dengan Desember. Diharapkan kegiatan ini mampu menyerap partisipasi aktif masyarakat umum, budayawan, siswa, guru, dosen, teoritisi maupun praktisi, serta para pecinta aksara, bahasa, sastra, dan budaya Jawa untuk berdialog sebagai upaya membuka jalan tengah dan solusi permasalahan seputar isu mutakhir aksara, bahasa, sastra, dan, budaya Jawa. Sedangkan seminar dan diskusi tentang pengelolaan kebudayaan akan melibatkan para pengelola kebudayaan yang terdiri dari seniman, budayawan, teoritisi, event organizer, travel biro, pengelola hotel, dalang, guru, wartawan media cetak dan elektronik. Seminar ini bertujuan untuk menyediakan forum bagi para pengeloia kebudayaan, bahasa, dan sastra agar dapat duduk bersama untuk bermediasi, membicarakan permasalahan seputar pengelolaan kebudayaan, sekatigus mencari jalan tengah untuk memecahkan persoalan yang mengemuka. Kegiatan direncanakan terselenggara pada bulan Juni sampai Desember.

Pemberdayaan bahasa, sastra, seni, dan budaya juga diselenggarakan lewat penyelenggaraan festival budaya nusantara, Festival Kesenian Yogyakarta, festival lagu dolanan anak, festival dalang, dan beber seni. Festival dan beber seni ini bertujuan untuk mewujudkan Yogyakarta sebagai ikon destinasi pariwisata. Festival budaya nusantara diselenggarakan dalam lingkup nasional dengan sasaran masyarakat umum. Kegiatan ini direncanakan akan diselenggarakan pada bulan Juli. Sedangkan waktu penyelenggaraan Festival Kesenian Yogyakarta dan beber sera menyesuaikan dengan jadwal rutin. Festival tahun ini diupayakan adalah partisipasi masyarakat. Maksudnya, masyarakat tidak hanya sebagai penonton, melainkan harus sebagai pelaku. Berbagai macam lomba dan gelar prestasi akan diselenggarakan di Yogyakarta. Lomba bukan semata-mata mencari kemenangan, melainkan ke arah unjuk kebolehan dan prestasi puncak.

Selama ini di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah berlangsung agenda rutin untuk menyelenggarakan Pekan Kreativitas Budaya Pelajar dan Porseni Pelajar. Oleh karena itu, Dinas Kebudayaan merasa perlu untuk bekerjasama dengan dinas-dinas terkait, mendukung agenda rutin ini melalui program mendukung lomba. Perlombaan merupakan upaya merintis kaderisasi pemerhati bahasa dan sastra Jawa yang profesional. Perlombaan bahasa dan sastra dirancang tidak hanya berhenti sesaat, melainkan kontinuitas yang diutamakan. Lomba ini direncanakan terselenggara pada bulan Agustus dengan melibatkan masyarakat umum dan para pelajar SD sampai dengan SMA sebagai peserta.

Pekan budaya merupakan kegiatan yang merangkum serangkaian acara lomba terkait bahasa, sastra, dan budaya Jawa sebagai salah satu upaya untuk merevitalisasi bahasa, sastra, budaya, termasuk aksara Jawa. Pekan budaya menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyelenggarakan secara rutin. Pekan budaya akan memuat segala aktivitas budaya dan sastra secara komprehensif. Pekan budaya disertai dengan pendampingan budaya, agar masyarakat memahami apa yang diprogramkan pemerintah.

Berkaitan dengan hal ini penciptaan Desa Budaya Jawa di Yogyakarta amat penting. Desa budaya ini juga menjadi penting bagi pengembangan wisata. Melalui pendampingan desa budaya, keunikan suatu desa budaya dapat terkelola dengan baik, sehingga menjadi nilai lebih sebagai salah satu komoditas unggulan pariwisata. Kegiatan pendampingan direncanakan ditaksanakan secara terus menerus dan berkelanjutan dad bulan Januari sampai dengan Desember. Sasaran kegiatan adalah desa atau wilayah yang mempunyai keunikan budaya. Pendampingan desa budaya diarahkan ke desa yang berbasis Jawa. Dari sini diharapkan muncul kampung-kampung Jawa lokal yang berbasis global. Pendampingan kegiatan budaya tradisi dilakukan dengan kerjasama antara dinas kebudayaan, dinas pariwisata, dinas pendidikan, lembaga lain yang terkait. Melalui pendampingan dan perbaikan sistem pengelolaan, diharapkan kegiatan budaya tradisi mampu menjadi salah satu tawaran menarik dalam industri pariwisata Kegiatan pendampingan budaya tradisi dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan, sedangkan waktunya menyesuaikan dengan waktu penyelenggaraan budaya tradisi. Sasaran kegiatan ini adalah sanggar, kefompok-kelompok kesenian, paguyuban penghayat kepercayaan, yayasan budaya, serta kelompok kebudayaan, lembaga, desa, dan lain-lain yang merupakan penyelenggaran kegiatan budaya tradisi.

Perancangan dan perencanaan pembentukan Dewan Bahasa dan Dewan Sastra Jawa direncanakan pada bulan Februari yang akan datang. Dewan Bahasa Jawa diharapkan mewakili secara menyeluruh unsur-unsur, instansi, maupun institusi dengan bahasa Jawa sebagai bidang garapnya, begitu pula dewan sastra. Dewan bertugas memberi pertimbangan pemerintah di bidang pengembangan bahasa dan sastra. Sehingga kegiatan ini melibatkan perwakilan dari instansi, institusi, lembaga, dan unsur-unsur lain dengan bidang garapan bahasa Jawa untuk memilih wakil-wakil yang akan duduk sebagai anggota Dewan Bahasa dan Sastra Jawa. Dewan bukan lagi ditunjuk dengan kedekatan teman, melainkan melalui proper test dan pemilihan secara sinergis. Setelah serangkaian kegiatan perencanaan dan pembentukan Dewan Bahasa dan Sastra Jawa ditaksanakan, kegiatan selanjutnya adalah penyusunan program kerja Dewan Bahasa dan Sastra Jawa sebagai ancangan kerja untuk merevitatisasi bahasa Jawa di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyusunan program kerja pewan Bahasa Jawa diharapkan terselenggara pada bulan April.

Program pemberian penghargaan kepada penggiat bahasa, sastra, dan budaya Jawa bertujuan untuk memajukan dan mengembangkan bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Diharapkan pemberian penghargaan mampu menjadi motor penggerak agar bahasa, sastra, dan budaya Jawa tumbuh subur dan lebih dinamis. Program ini diancangkan tersetenggara pada bulan Mei, dan diberikan secara rutin setiap tahun. Penghargaan diberikan kepada penggiat bahasa, sastra, dan budaya Jawa di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Program ini terbagi dalam tiga kegiatan, yaitu

(1) Pengembangan budaya melalui kerjasama dengan media elektronik dan cetak untuk penyelenggaraan program budaya maupun hiburan yang bemilai tradisi

(2) Pembuatan dan pengelolaan laman (website) tentang aksara, bahasa, sastra, dan budaya Jawa,

(3) Kerjasama dengan institusi intemasional, dan

(4) Penelitian kebudayaan. Secara umum program ini bertujuan untuk mengembangkan budaya Jawa melatui pemanfaatan teknologi informasi.

Pengembangan budaya melalui kerjasama dengan media elektronik dan cetak untuk penyelenggaraan program budaya maupun hiburan yang bernilai tradisi. Media cetak dan elektronik merupakan media yang semakin berkembang seiring dengan jaman yang semakin mengglobal. Budaya Jawa juga tidak terlepas dari pengaruh kemajuan jaman. Oleh karena itu, dipertukan suatu langkah untuk berjalan selaras, mengikuti arus globalisasi tanpa harus hanyut di dalamnya. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan pemanfaatan media cetak maupun media elektronik seperti koran, majalah, televisi dan radio untuk memuat dan menyiarkan program budaya sebagai upaya unttk pengembangan taudaya Jawa. Selain itu, program hiburan yang bernilai tradisi seperti campursari, kethoprak, dagelan, dan lain-lain juga perlu diekspose dan ditayangkan di media elektronik sebagai sarana penyebaran, pengenalan, dan pengembangan budaya Jawa. Kegiatan ini direncanakan dapat dilaksanakan secara rutin setiap minggu. Persiapan program dimulai pada bulan Januari, dan bulan April direncanakan program dapat disiarkan melalui media elektronik. Pembuatan dan Pengelolaan Laman (Website) tentang Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa Website merupakan sarana komunikasi dan informasi yang dapat diakses oleh semua orang di seluruh penjuru dunia. Melalui website bahasa, sastra, dan budaya Jawa, informasi. informasi terkait bahasa, sastra, dan budaya Jawa dapat disebarluaskan. Program pembuatan taman direncanakan mulai dirintis pada bulan Maret dan setanjutnya di-up date dan dikelola secara rutin oleh tim khusus. Laman ini diharapkan dapat menjach media komunikasi dan informasi bagi para pemerhati bahasa, sastra, dan budaya Jawa di seluruh dunia.

Melalui Dinas Kebudayaan Propinsi DIY sebagai pelopomya, diharapkan kerjasama dengan institusi intemasional dapat terjalin secara luas, berkelanjutan, semakin berkembang, serta menguntungkan kedua belah pihak. Program ihi direncanakan mulai dirintis pada bulan Maret. Sebagai langkah awali, kerjasama terkait dengan pengembangan bahasa, sastra, dan budaya Jawa diharapkan terjalin dengan institusi intemasional terutama di Suriname dan Belanda. Permasalahan seputar kebudayaan merupakan subjek yang menarik untuk diteliti. Melalui penelitian, beragam masalah kebudayaan dapat teridentifikasi, teranalisis, dan pada akhimya akar permasalahan sekaligus solusinya dapat ditemukan dan diterapkan langsung untuk mengatasi masalah-masalah terkait dengan kebudayaan. Oleh karena itu, penelitian kebudayaan diajukan sebagai satah satu program kerja yang direncanakan akan dilaksanakan mulai bulan Juni sampai dengan Desember dengan lokasi penelitian di wilayah DIY.

 

B. Dasar Pentingnya Bahasa Jawa

 

Diakui atau tidak, bahasa Jawa itu sebagai busananing bangsa. Bahasa adalah ekspresi budaya. Sebagai busana, bahasa Jawa akan terpakai terus senyampang orang Jawa itu ada. Orang Jawa sebagai pengguna bahasa Jawa, tentu akan memelihara supaya pakaiannya bersih dan berwibawa. Orang Jawa akan selalu berprinsip bahwa bahasanya itu tidak sekedar penghias, tetapi menjadi pakaian yang indah dan berguna. Bahasa Jawa amat penting dalam percaturan hidup masa kini. Dalam aktivitas hidup di YogyakartaYang dimaksud bahasa Jawa ini tidak terlepas dari aspek sastra, budaya, seni, dan budaya. Maka pentingnya bahasa Jawa juga berkaitan dengan aspek tersebut. Bahasa sebagai busana bangsa, akan melekat pada berbagai aspek tersebut. Maka kebijakan pengembangan bahasa Jawa sulit lepas dari aspek-aspek penting itu. Paling tidak, bahasa Jawa akan menjadi wahana komunikasi praktis, teoritis, dan esensial dari berbagai aspek tersebut. Dalam setiap jengkal hidup manusia Jawa, sulit lepas dari penggunaan bahasa Jawa. Dalam kehidupan apa pun, jarang yang mampu melepaskan aspek bahasa, sastra, budaya, seni, dan budaya Jawa. Yang perlu dipahami, bahwa kehidupan bahasa dan sastra Jawa pada era global ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan peradaban manusia yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi, frekuensi dan intensitas interaksi, dan komunikasi manusia antar benua yang makin meningkat. Itulah sebabnya penyiapan kebijakan bahasa dan sastra Jawa di era mendatang perlu disiapkan secara masak. Ada berbagai alasan mendasar mengapa harus melestarikan dan mengembangkan bahasa dan sastra Jawa, yaitu: sebagian orang beranggapan bahwa pelestarian bahasa, sastra, dan budaya adalah sekedar mengelus-elus, tanpa upaya aktif untuk berbuat yang lebih spektakuler. Namun ada pula yang beranggapan bahwa pelestarian warisan budaya termasuk bahasa adalah tidak diperlukan karena bertentangan dengan paradigma masa kini yang serba efisien, praktis clan pragmatis selaras dengan kemajuan peradaban dan teknologi. Jawaban atas pertanyaan maupun persepsi masyarakat tentang pelestarian clan pengembangan kebudayaan tersebut tertuang didalam rumusan filosofis dibawah ini:

(1) budaya etnik khas lokal merupakan pilihan style hidup clan kebanggaan identitas, jati diri dalam kancah pergaulan global antar bangsa,

(2) potensi budaya khas etnik (tangible clan intangible),

(3) budaya warisan dapat digunakan sebagai keberadaan obyek maupun destinasi.

Dalam situasi seperti itu, kondisi dan kehidupan bahasa dan sastra Jawa menunjukkan fenomena yang kompleks dan sebaliknya justru strategis dan menantang. Di satu sisi, bahasa dan sastra Jawa masih memiliki potensi dan kekuatan untuk tumbuh dan berkembang. Di lain pihak, sering ada penutur yang hendak hendak menghalangi tumbuh kembangnya bahasa dan aksara Jawa. Fenomena yang kedua ini berarti menunjukkan bahwa belum tahu manfaat bahasa dan sastra Jawa. Yang perlu diketahui, jumlah penutur bahasa Jawa sangat besar yaitu kurang lebih 80 juta orang. Masyarakat Jawa masih menggunakan bahasa Jawa sebagai alat komunikasi baik di lingkungan formal maupun informal, bahkan non formal. Masyarakat Jawa mempunyai komitmen yang kuat untuk membina dan mengembangkan bahasa dan sastra Jawa secara serius. Hal ini yang menjadikan bahasa dan sastra Jawa mempunyai potensi dan daya tarik untuk dikaji ulang. Bahasa dan sastra Jawa perlu diformat, diteliti, digerakkan agar memenuhi fungsinya di masyarakat.

Masalah kebahasan dan kesastraan Jawa tidak dapat terlepas dari kehidupan masyarakat pendukungnya. Dalam kehidupan masyarakat Jawa telah terjadi berbagai perubahan baik sebagai akibat tatanan kehidupan dunia yang barn, seperti pemberlakuan pasar bebas dalam rangka globalisasi akibat perkembangan teknologi informasi yang amat pesat maupun pemberlakuan otonomi daerah. Teknologi informasi mampu menerobos batas ruang dan waktu sehingga keterbukaan tidak dapat dihindarkan. Kondisi itu telah memengaruhi perilaku masyarakat Jawa dalam bertindak dan berbahasa. Oleh karena itu, agar kita tetap mampu bersaing dan sekaligus berperan dalam kancah kehidupan global seperti itu, diperlukan sumber daya manusia yang benar-benar berkualitas, bertanggung jawab, berdisiplin, dan memunyai kompetensi yang tinggi.

Memaknai pemahaman tentang manusia yang berkualitas dan berkompetensi, tersirat suatu tuntunan bagi insan Indonesia untuk akrab dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk mencapai hal itu, bahasa memegang peran yang amat penting dalam peningkatan mutu sumber daya manusia. Sebagai sarana komunikasi, bahasa menjadi sarana utama bagi seseorang untuk menginfomasikan sesuatu, baik secara lisan maupun tertulis. Di pihak lain, manusia yang mampu berkomunikasi dengan baik dan secara kritis mampu pula menyerap substansi sumber bacaan ilmiah sehingga dapat berperan dalam menghadapi tantangan zaman. Di samping sebagai sarana komunikasi, bahasa juga merupakan sarana berpikir. Melalui bahasa, berbagai hal yang dihadapi dan terjadi di sekelilingnya dapat dipahami dan dicerna dengan baik sehingga dapat menambah kematangan pribadi seseorang. Hal itu membuktikan bahwa peningkatan mutu sumber daya manusia hanya akan menjadi impian semata tanpa peningkatan kemampuan berbahasa. Disadari atau tidak atau tidak di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda, pemakaian bahasa dan sastra Jawa juga memiliki beberapa kelemahan. Minat generasi muda untuk menggunakan makin berkurang. Generasi muda kurang bangga berbahasa Jawa. Adanya persepsi di kalangan generasi muda Jawa bahwa mempelajari bahasa dan sastra Jawa itu sangat sulit. Partisipasi para pejabat dan tokoh masyarakat dalam menggunakan bahasa Jawa masih lemah.

Kemauan politik untuk melindungi dan mempertahankan bahasa sastra, dan budaya Jawa secara sungguh-sungguh betum ada. Meskipun demikian, bahasa dan sastra Jawa masih memiliki potensi dan peluang untuk tetap hidup, tumbuh, dan berkembang di lingkungan masyarakatnya, karena keunggulankeunggulan tertentu.

Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bahasa dan sastra Jawa masih menjadi rujukan dalam membina kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat, serta dapat memberikan kontribusi untuk membentuk kepribadian bangsa. Bahasa dan sastra Jawa sekurang-kurangnya memiliki tiga arti penting, yaitu:

(1) bahasa dan sastra Jawa berperan penting dalam komunikasi hidup berkeluarga, bermasyarakat, dan berbangsa atau bernegara,

(2) bahasa dan sastra Jawa memiliki peranan penting dalam komunikasi barik dalam forum ilmiah dan non ilmiah,

(3) bahasa dan sastra Jawa memiliki peranan sebagai pembangun budi pekerti luhur bangsa. Melalui tiga peran itu diharapkan bahasa dan sastra Jawa selalu dibina, dilestarikan, dan dikembangkan agar fungsi itu tetap berjalan terus hingga belum tahu sampai kapan.

 

C. Bahasa Jawa sebagai Alat Komunikasi

 

Komunikasi di mana pun tidak akan lepas dari bahasa. Bahasa Jawa pada dasarnya telah lama dipegang teguh oleh orang Jawa sebagai wahana komunikasi yang esensial. Komunikasi berbahasa Jawa akan membangun budaya dan budi pekerti luhur. Dalam komunikasi bahasa dan sastra Jawa ada ungkapan menarik yang disampaikan Mendagri, H. Mardiyanto, tanggal 21 Oktober 2008 di pendapa Kantor Bupati Bayumas yaitu sing kalah aja ngamuk sing menang aja umuk. Ungkapan yang bernuansa Pemilu ini, sebagai upaya mengingatkan khalayak agar dalam peristiwa berbahasa dan berbudaya selalu dijaga ketenteraman. Dalam kaitan ini, ternyata orang berbahasa dan bersastra bisa menyulut kemarahan atau sebaliknya kerendahan hati asalkan disampaikan secara proporsional. Kemampuan berkomunikasi yang baik dan cara berpikiryang kritis dalam menghadapi setiap tantangan barn pada gilirannya dapat melahirkan sikap apresiatif terhadap nilai-nilai yang terkandung pada karya-karya sastra. Dalam hubungan itu, tidak dapat dinafikan bahwa karya-karya sastra mengandung nilai-nilai yang dapat memperhalus akal budi dan amat bermanfaat dalam menghadapi kehidupan. Dengan demikian, kemampuan mengapresiasi karya-karya sastra juga berperan penting dalam meningkatkan sumber daya manusia pada era global. Oleh karena itu, masalah bahasa dan sastra perlu digarap dengan sungguhsungguh dan berencana supaya tujuan akhir pembinaan bahasa dan sastra Jawa dalam rangka peningkatan pelayanan kebahasaan di Indonesia dapat dicapai. Pemformatan bahasa dan sastra Jawa dalam komunikasi dengan sendirinya membutuhkan kemampuan berhubungan melalui budaya. Bahasa tidak lepas dari budaya dalam komunikasi, maka kemampuan berbudaya menjadi prasyarat dalam berbagai ragam komunikasi.

Bahasa Jawa di Yogyakarta telah sejak era kolonial menjadi alat komunikasi baik di tingkat formal, informal, dan non formal. Komunikasi menggunakan bahasa Jawa dipandang paling efektif, sebab antara satu pihak dengan pihak lain akan mudah saling kenal dan saling menghormati. Hadirnya tatakrama dan atau unggah-ungguh bahasa Jawa tampak lebih praktis untuk membangun komunikasi yang efektif. Atas dasar KBJ IV di Semarang yang lalu, bahasa Jawa tetap harus ditumbuhsuburkan sebagai bahan komunikasi. Keputusan Kongres tersebut menggariskan bahwa Pendidikan Formal Menekankan kembali berlakunya Keputusan Kongres Bahasa Jawa III di Yogyakarta tahun 2001, bahwa mata pelajaran bahasa Jawa wajib diajarkan di sekolah-sekolah mulai SD/MI,SMP/MTs,SMA/SMK/MA di tiga Provinsi, Jawa Tengah, Daerah tstimewa Yogyakarta, dan Provinsi Jawa Timur. Bahasa Jawa di sekolah harus ditumbuhkembangkan menjadi alat komunikasi. Paling tidak hal ini dapat ditempuh dengan hadirnya program Javanese Day, ditiap-tiap sekolah. Sekolah yang mempelopori penggunaan bahasa Jawa dengan sendirinya menjadi pionir kemajuan bahasa dan sastra Jawa.

Komunikasi bahasa Jawa secara estetis dapat dibangun dengan menciptakan lomba-lomba penciptaan geguritan, macapat, dongeng dan lain-lain agar siswa tidak lepas pemakaian bahasa Jawanya.

Pembelajaran bahasa Jawa harus bersifat kontekstual, memanfaatkan teknologi informasi, mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan kreatif, serta dapat dimulai dari varian bahasa setempat sebagai titik tolak untuk mengajarkan bahasa Jawa baku. Pembelajaran seyogyanya diarahkan ke aspek komunikasi berbahasa dan bukan teori-teori berbahasa Jawa yang menjemukan. Komunikasi menandai bahwa bahasa Jawa itu masih hidup. Jika dalam pembelajaran antara guru dengan siswa selalu berbahasa Jawa, berarti bahasa Jawa tetap akan jaya di Yogyakarta. Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah perlu mengajarkan unggah-ungguh dan bahasa Jawa sinandi untuk menanamkan nilai kesantunan dan budi pekerti. Ketepatan penggunanan unggah-ungguh akan mencerminkan perilaku bahasa dan sastra Jawa yang memadai. Hal ini menjadi cermin komunikasi efektif dan efesien berbahasa dan sastra Jawa. Selain itu, tindak berbahasa perlu memahami dua hal penting, yaitu:

(1) ngudi sejatining becik, artinya dalam komunikasi tidak ada yang merasa arogan. Komunikasi bahasa dan sastra akan membangun insan yang berbudi luhur, perlu bertindak yang ke arah berbudi bawa leksana. Mereka itu orang yang komunikasi berbahasanya amat mulia;

(2) perlu dilandasi dengan sikap eling, artinya ingat. Ingat bahwa Pangeran itu ada, tetapi diri manusia itu bukan Pangeran. Maksudnya, manusia dalam komunikasi berbahasa,

(3) kebenaran itu ada dua kebenaran, yaitu bener mungguhing Allah dan bener manut kang lagi kuwasa.

Maksudnya, kedua kebenaran itu yang paling hakiki adalah kebenaran Tuhan. Benar bagi yang sedang berkuasa itu ada dua macam, yaitu yang sesuai dengan Tuhan dan tidak sesuai. Maka dalam berbahasa, perlu membangun komunikasi yang enak, kepenak, sabutuhe, saolehe. Yang penting pengguna bahasa dan sastra Jawa tidak merusak atau mengganggu ketenteraman orang lain. Itulah sebabnya dalam komunikasi perlu ditata berbagai hal terkait dengan bahasa dan sastra Jawa dalam komunikasi tradisi, adat, budaya, sosial, politik, kekuasaan, dan sebagainya. Hal ini perlu disadari, sebab bahasa dan sastra Jawa amat luas cakupannya. Di mana saja akan ada konsepsi dan praktisi pemakaian bahasa dan sastra Jawa. Dalam kaitan ini, pemberdayaan bahasa dan sastra Jawa perlu ditingkatkan melalui berbagai kegiatan, seperti lomba, sarasehan, pelatihan dan kursus. Manusia itu bisa melakukan apa saja dalam berbahasa, tetapi kekuasaan tetap pada Tuhan. Itulah sebabnya, penataan bahasa dalam lembaga keagamaan, lembaga kemasyarakatan, lembaga pemerintahan, dan lembaga kebudayaan perlu memberikan dukungan dalam pemberdayaan bahasa dan sastra Jawa.

 

D. Realita Penggunaan Bahasa Jawa di Yogyakarta

 

Penggunaan bahasa Jawa di kalangan Yogyakarta sulit dipungkiri. Dalam berbagai event bahasa Jawa masih eksis. Di lingkungan keraton, negara, petani, dan generasi muda masih memanfaatkan bahasa Jawa. Apalagi Yogyakarta dikenal sebagai kota budaya, sehingga bahasa menjadi ruhnya. Orang Yogyakarta yang dikenal santun, luruh, nglembah manah, dan penuh kedamaian perlu dikembangkan dalam penggunaan bahasa. Yogyakarta adalah wilayah kecil, tetapi pemakai bahasa Jawa amat luas. Pemakai bahasa Jawa semakin meluas seiring dengan kultur orang Jawa Yogyakarta yang semakin bertambah. Orang Jawa Yogyakarta melalui proses perpindahan penduduk secara administratif dan alamiah, pasti akan menambah pemakai bahasa Jawa. Realitas menunjukkan, minat generasi muda sekarang (anak-anak, remaja, pemuda) untuk menggunakan bahasa dan mengapresiasi sastra Jawa semakin berkurang. Kenyataan itu disebabkan oleh beberapa hal, di samping generasi sekarang kurang bangga berbahasa (dan berapresiasi sastra) Jawa, juga adanya persepsi bahasa mempelajari bahasa dan sastra Jawa itu sulit.

Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan mempunyai berbagai macam jenis kebudayaan. Bahasa dan sastra daerah (Jawa) merupakan khasanah budaya yang memiliki arti penting dalam pembentukan identitas jati diri bangsa, melalui bahasa seluruh pengertian, pemikiran, kepercayaan clan tata nilai kelompok masyarakat dapat diwujudkan. Dengan kata lain bahasa mencerminkan semua aspek budaya masyarakat pemiliknya. Bahasa daerah (Jawa) dapat memberikan kontribusi yang cukup penting dalam pembentukan kebudayaan nasional, maupun jati diri sebagai identitas suatu bangsa, yang dalam perkembangannya bahasa Jawa dewasa ini semakin tersingkir clan terdesak oleh bahasa nasional ataupun bahasa asing (Inggris) yang kelihatan lebih terpandang. Atas dasar pemikiran di atas maka Dinas Kebudayaan sebagai suatu instansi yang berkecimpung dalam pembinaan, pengembangan dan pelestarian kebudayaan memandang perlu diadakan kegiatan yang berhubungan dengan upaya pembinaan, pengembangan dan pelestarian. Terlebih lagi, partisipasi para tokoh dalam menggunakan bahasa Jawa masih lemah, di samping befum ada kemauan politik yang sungguh-sungguh untuk melindungi dan mempertahankan bahasa, sastra, dan budaya Jawa. Kondisi ini dapat dipahami karena kini kita (masyarakat Jawa) berada datam situasi gamang akibat semakin kuatnya pengaruh budaya global sebagai konsekuensi perkembangan teknologi informasi. Hal semacam ini akan menyebabkan sekurang-kurangnya dua hal, yaitu:

(1) orang sering lupa diri, sehingga melupakan jati diri dan harga diri, sampai melupakan bahasa dan sastra Jawa,

(2) orang sering mengingatkan dengan ungkapan berbahasa Jawa berbunyi sing waras ngalah, artinya yang berpikiran jernih sebaiknya mengalah.

Bahasa Jawa sering dipakai di Yogyakarta ini ekspresi emosional terutama oleh generasi muda. Maka tugas bangsa di DIY ini adalah menata agar seseorang itu santun berbahasa Jawa.

DIY sebagai wilayah yang terletak di area persebaran, pertumbuhan, perkembangan, dan perpindahan berbagai kerajaan Jawa, dikenal sebagai wilayah yang kaya akan peninggalan aset budaya hasil peradaban masa lampau bernilai tinggi, baik warisan budaya fisik (tangible) maupun budaya non tisik (intangible). Banyak aspek bahasa dan sastra Jawa yang kasat mata dan tidak kasat mata di Yogyakarta sebagai gudang budaya, sehingga perlu direvitalisasi ke depan. Yogyakarta menjadi poros bahasa dan sastra Jawa yang selalu menarik, tetapi belum dipetakan secara spesial. Paling tidak dapat diidentifikasi pengaruh beberapa dinasti kerajaan di Jawa yang mewarnai keberadaan (budaya) DiY antara lain kerajaan Mataram kuno pada abad ke 7 yang didirikan oleh Dapunta Syelendra, hera;jaan Mataram Hindu yang didirikan dan dipcrintah olch dinasti Sanjaya pada tahun 717 s/d 925 AD, kerajaan Mataram Islam yang didirikan clan diperintah oleh dinasti Ki Ageng Pemanahan pada tahun 1575 sampai cicngan 1755, serta Kasultanan Ngayogyakarto yang didirikan dan diperintah oleh dinasti Hamengkubuwono pada tahun 1755 sekarang dengan didampingi oleh otorita Pakualaman. Kedua keraton ini telah banyak melegitimasi penggunaan bahasa dan sastra Jawa.

Kekuasaan keraton telah menjadi barometer penggunaan bahasa Jawa halus yang sering ditiru berbagai kalangan.

Dalam budaya global ini di DIY cenderung menggunakan bahasa Jawa dalam konteks serba cepat, praktis, mekanis, dan pragmatis sehingga apa-apa yang berbau lokal, etis-filosofis, cenderung ditinggalkan. Tambahan lagi media dan terbitan berbahasa Jawa kian terbatas sehingga pembinaan dan penyebaran bahasa dan sastra Jawa, juga para penulisnya makin terbatas (berkurang pula). Walaupun begitu, diyakini bahasa dan sastra Jawa mengandung nilai-nilai luhur, dan nilai-nilai luhur itu masih sering menjadi rujukan dalam membina kehidupan berkeluarga dan masyarakat serta dapat memberi kontribusi untuk membentuk kepribadian bangsa. Karena itu, bagaimana pun, bahasa dan sastra Jawa di DIY perlu terus dikembangkan dan diberdayakan kepada seluruh masyarakat penutur bahasa Jawa. Lalu bagaimana cara yang dapat ditempuh agar bahasa dan sastra Jawa berdaya dan berkembang?

Berkaitan dengan realitas penggunaan bahasa Jawa di DIY, yang berlangsung di dunia pendidikan, sanggar-sanggar, paguyuban, bidang keagamaan, bidang politik, perlu ditata sedemikian rupa. Pemerintah dengan sendirinya terpanggil untuk melakukan dua kegiatan pokok:

(1) re-thinking, memikirkan ulang kebijakan bahasa dan sastra Jawa yang sesaui dengan realitas kebutuhan masyarakat,

(2) merajut kembali, penggunaan bahasa dan sastra Jawa dalam berbagai tatanan hidup, dengan tetap memperhatikan aspek seni, budaya, dan bidang lain yang mendukung. Yang terpenting lagi, kebijakan yang hendak diambil oleh pemerintah terkait dengan bahasa dan sastra Jawa, selalu memperhatikan realitas bahasa Jawa dan remaja. Kedua tingkat umur ini sering dijadikan sentral karena anak dan remaja adalah ujung tombak masa depan bangsa. Manakala di tingkat realita anak dan remaja di DIY masih aktif menggunakan bahasa Jawa, memanfaatkan sastra, seni, dan budaya Jawa, ke depan akan cemerlang. Realitas itulah yang menjadi perhatian pokok pemerintah setempat.

 

E. Tugas Pengayom Bahasa dan Sastra Jawa

 

Pengayom bahasa dan sastra Jawa di Yogyakarta amat banyak. Pengayom ada yang bersifat formal, informal, dan nonformal. Yang dimaksud pengayom adalah pelindung bahasa dan sastra Jawa, yang bertugas melestarikan, membina, mengembangkan, menyebarluaskan, dan mengkomunikasikan bahasa dan sastra Jawa. Pen

 
 
Statistik
00193359
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945