Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Bangunan Cagar Budaya
Situs Ratu Boko

Rencana Aksi Kota Pusaka 2012

pelestarian warisan budaya jawa dan lingkungan hidup untuk mendukung industri pariwisata DIY , yuwono, 2005.

Perda DIY No 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya

Perda DIY No 4 Tahun 2011 tentang Tata Nilai Budaya Yogyakarta

Candi Kedulan

Candi Ijo

Pesanggrahan Gambirowati

Gua Jepang

Ndalem Djojodipuran

Menyajikan data ke- 1-10 dari 33 data.
Halaman 1 2 3 4 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Tamansari
« Kembali

Tanggal artikel : 1 April 2012
Dibaca: 35379 kali


Taman Sari berarti taman yang indah. Taman ini hanya berjarak sepuluh menit berjalan
kaki dari istana Sultan ke arah baratdaya. Taman ini dibangun oleh Sultan Hamengku
Buwono I pada tahun 1757. Beliau menciptakan gaya arsitektur baru yang merupakan
campuran gaya Jawa dan Portugis. Pada mulanya Taman Sari adalah taman air yang
indah dan menawan. Daerah di sebelah timur taman sampai ke perempatan kota disebut
Suryoputran. Segaran dalam bahasa Jawa berarti laut buatan. Setiap kali Sultan
mengunjungi taman tersebut, beliau akan mendayung perahu pribadinya melewati jembatan
gantung yang disebut ‘Kreteg Gantung’ yang terletak di depan gerbang
Kraton, ke arah selatan atau utara Kemandungan. Bagian lain dari bangunan yang
dulu terhubung dengan jembatan gantung masih dapat dilihat. Selain transportasi
air, terdapat juga jalan bawah tanah atau terowongan dari Kraton Yogyakarta yang
menuju salah satu bangunan di taman yang disebut Pasarean Ledok Sari.

Kraton Yogyakarta didirikan oleh pangeran Mangkubumi pada abad XVII atau tepatnya
pada tahun 1755. Keraton Yogyakarta merupakan pusat Pemerintahan Kasultanan
Yogyakarta yang beribu kota di Yogyakarta. Sebagai ibukota, Yogyakarta merupakan
kota yang direncanakan keberadaannya. Tatanan kota dibuat sedemikian rupa sehingga
ada pengelompokan profesi, fasilitas penunjang sebagai ibukota kerajaan, maupun
aspek strategis penataanya. Salah satu fasilitas yang ada dikota ini adalah
Tamansari atau sering juga disebut Water Castle. Tamansari adalah Taman kerajaan
atau pesanggrahan Sultan Yogya dan keluarganya. Sebenarnya selain Tamansari
Kasultanan Yogyakarta memiliki beberapa Pesanggrahan seperti Pesanggrahan Warung
boto, Pesanggrahan Manukberi, Pesanggrahan Ambarbinangun maupun Pesanggrahab
Ambarukmo. Kesemuanya berfungsi sebagai tepat Tetirah dan bersemedi Sultan beserta
keluarganya. Disamping komponen-komponen yang menunjukan sebagai tempat peristirahatan,
Pesanggrahan-pesanggrahan tersebut selalu mimiliki komponen pertahanan. Beggitu
juga halnya dengan Tamansari letak Tamansari hanya sekita 0,5 km sebelah selatan
Keraton Yogyakarta. Arsitek bangunan ini adlah bangsa Portugis, segingga selintas
seolah-olah banguinan ini memiliki seni arsitektur Eropa yang sangat kuat, disamping
makna-makna simbolis Jawa yang tetap dipertahankan. Namun jika kita amati, maka
unsur bangunan Jawa lebih dominan disini. Tamansari dibangun pada masa Sultan
Hamengkubowono 1 atau sekitar akhir abad XVII M.

Dahulu Istana Air ini bukan sekedar taman yang indah namun juga digunakan untuk
tempat perlindungan. Saat musuh menyerang Kraton, Sultan dan keluarganya dapat
menyelamatkan diri lewat jalan bawah tanah. Pada saat mereka sudah berada dalam
keadaan yang aman, pintu air akan dibuka sehingga air akan mengaliri jalan tersebut
dan menenggelamkan musuh-musuh yang mengejar.

Salah satu tempat di taman tersebut disebut Pulau Kenanga karena di halaman
depan gedung tumbuh pohon Kenanga (Canangium Odoratum). Bunga Kenanga menyebarkan
bau yang harum ke seluruh bagian taman.

Bangunan yang tinggi seperti kolam dibangun khusus untuk digunakan oleh Sultan
dan keluarganya untuk mandi. Bangunan-bangunan yang telah direnovasi antara
lain jalan bawah tanah menuju ke sebelah barat, benteng yang mengelilingi Kraton
serta yang menuju selatan ke arah sebuah desa kecil yang disebut Krapyak.

Selain menikmati gedung-gedung kuno, wisatawan dapat juga mengunjungi banyak
toko dan galeri seni di sepanjang gang/jalan kecil. Batik dapat ditemukan dengan
mudah di toko-toko maupun galeri tersebut. Dulu daerah ini merupakan tempat
bagi para seniman Keraton.

Masjid Soko Tunggal

Masjid Soko Tunggal terletak di sebelah selatan gang/jalan kecil yang menuju
Taman Sari Pesanggrahan (sebuah rumah peristirahatan). Masjid ini disebut Saka
Tunggal karena mempunyai satu tiang/pilar. Berbeda dengan gedung-gedung tradisional
Jawa lain, tiang masjid ini ditopang oleh palang batu yang disebut ‘Umpak’.
Satu hal yang cukup menarik untuk diketahui adalah bahwa umpak yang digunakan
berasal dari jaman Kraton Mataram pada masa Islam. Sampai saat ini masjid tersebut
masih digunakan.

Tamansari terletak di dalam benteng Kraton yogyakarta. Di bangun beberapa saat
setelah Kraton Yogyakarta mulai didirikan. Taman ini ditempatkan di desa Pacethokan
yang mempunyai sumber air di Hutan Beringin. Pembangunan Tamansari dilakukan
secara bertahap, pertama pada tahun Ehe 1684 Jw atau 1758 Masehi. Pembangunan
selanjutnya pada pasearean Ledok Sari pada tahun 1687 Jw atau 1787 Masehi. Berarti
pembangunan Tamansari berlangsung selama 25 tahun, sejak Sultan

Hamengkubuwono I bertahta hingga Sultan Hamengkubuwono II menjadi raja

Yogyakarta.


Menurut cerita rakyat yang berkembang tentang riwayat Tamansari, bahwa pada
masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono II, di daerah mancingan (pantai
selatan),terdapat orang asing yang tidak diketahui asal usulnya. Oleh masyarakat,
orang asing tersebut dibawa ke Kraton. Selanjutnya ia menjadi abdi dalem Sri
Sultan.Setelah ditanya tentang asal usulnya, menurut pengakuannya berasal dari
Portugis. Di negaranya ia bekerja sebagai tukang pembuat bangunan ataupun rumah.

Dengan dasar keahliannya tersebut, kemudian Sri Sultan memberikan tugas kepadanya
untuk membuat benteng Kraton, setelah berhasil ia diberi kedudukan sebagai demang,
namanya Demang Tegis. Tugas selanjutnya adalah membuat bangunan Tamansari, disebelah
barat daya Kraton.


Keberadaan asal usul bangunan Tamansari juga mendapat perhatian dari sarjana
asing. Di antaranya adalah P.J.Venth dan Y.Groneman. Menurut P.J.Venth, kompleks
Tamansari berdasar bentuk, seni hias, dan coraknya adalah Jawa. Bangunan tersebut
didirikan atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono II. Berbeda dengan pendapat
tersebut di atas, yaitu Y.Groneman dalam artikelnya menyatakan bahwa komplek
Tamansari merupakan pesangrahan yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan
Hamengkubuwono I, pada tahun Ehe 1684 Jw atau 1758 Masehi. Pelaksana

pembuatannya adalah tumenggung Mangundipuro di bantu oleh Lurah Dawelengi yang
berasal dari Bugis. Dalam rangka pelaksanaan pembangunan, Tumenggung Mangundipuro
dua kali pergi ke Batavia, untuk mencari corak bangunan yang bergaya Eropa.
Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bangunan-bangunan di Tamansari mempunyai
corak yang akulturatif campuran gaya Jawa dan Eropa.

Interpretasi Y.Groneman nampaknya mengacu pada naskah yang ada di Kraton Ngayogyakarta.
Dalam Babat Momana maupun Serat Rerenggan Kraton disebutkan bahwa Pesanggrahan
Tamansari didirikan atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I.



LOKASI : Terletak di dalam benteng Kraton Yogyakarta



FASILITAS :


-Bangunan komplek Pulo Kenanga


-Bangunan Umbul Binangun


-Bangunan Pesarean Ledok Sari


-Gedung Blawong


-Sumur Gumuling


-Pulau Cemeti


-Gedong Garjito


-Pasiraman


-Pacausan


-Gedong Sedah Mirah


-Gedong Kembar


-Gedong Gandek


-Gedong Malang


-handicraft(batik, dan lukisan),dll














1

Bagian Sakral

Bagian sakral Tamansari ditunjukkan dengan sebuah bangunan yang agak menyendiri.
Ruangan ini terdiri dari sebuah bangunan berfungsi sebagai tempat pertapaan
Sultan dan keluarganya.

2

Bagian Kolam Pemandian

Bagian ini merupakan bagian yang dipergunakan untuk Sultan dan keluarganya
bersenang-senang. Bagian ini terdiri dari 2 buah kolam yang dipisahkan
dengan bangunan bertingkat. Air kolam keluar dari pancuran berbentuk binatang
yang khas. Bangunan kolam ini sangat unik dengan pot-pot besar didalamnya.

3 Bagian Pulau Kenanga

Bagian ini terdiri dari beberapa bangunan yaitu Pulau Kenanga atau Pulau
Cemeti, Sumur Gemuling, dan lorong-lorong bawah tanah. Pulau Kenanga atau
Pulau Cemeti adalah sebuah bangunan tinggi yang berfungsi sebagai tempat
beristirahat sekaliggus sebagai tempat pengintaian. Bangunan inilah satu-satunya
yang akan kelihatan apabila kanal air dibuka dan airmengenangi kawasan Pulau
Kenanga ini. Disebutkan bahwa jika dilihat dari atas bangunan seolah-olah
sebuah bunga teratai ditengah kolam yang sangat besar. Sumur Gemuling adalah
sebuah bangunan melingkar yang berbentuk seperti sebuah sumur dan didalamnya
terdapat ruangan-ruangan yang konon dahulu difungsikan sebagai tempat sholat.
Sementara itu lorong-lorong yang ada dikawasan ini dahulu konon berfungsi
sebagia jalan rahasia yang menghubungkan Tamansari dengan Kraton Yogyakarta.
Bahkan ada legenda yang menyebutkan bahwa lorong ini tembus kepantai selatan
dan merupakan jlan bagi Sultan Yogyakarta untuk bertemu dengan Nyai Roro
Kidul yang konon menjadi isteri bagi raja-raja Kasltanan Yogyakarta. Bagina
ini merupakan bagian yang berfungsi sebagai tempat pertahanan atau perlindungan
bagi keluarga Sultan apabila sewaktu-waktu ada serangan dari musuh. Tamansari
adalah sebuah tempat yang cukup menarik untuk dikunjungi. Disamping letaknya
yang tidak terlalu jauh dari Kraton yogyakarta yang merupakan objek wisata
di kota ini. Keistimewaan Tamansari antara lain terletak pada bangunannya
sendiri yang utuh dan terawat serta lingkungannya yang sangat mendukung
keberadaanya sebagai obyek wisata. Dilingkungan Tamansari ini dapat dijumpai
Masjid Saka Tunggal yang memiliki sebuah tiang. Meskipun Masjid ini dibangun
pada abad XX, namun keunikannya tetap dapat menjadi aset dikompleks ini.
Disamping itu kawasan Tamansari dengan Kampung Tamannya yang sangat terkenal
dengan kerajinan batiknya. Kita dapat berbelanja maupun dapat melihat secara
langsung pembuatan batik-batik yang berupa lukisan maupun konfeksi. Kampung
Taman ini sangat dikenal sehingga banyak mendapat kunjungan baik dari wisatawan
Mancanegara maupun Wisatawan Nusantara. Tidak jauh dati Tamansari, dapat
dijumpai Pasar Ngasem yang merupakan pasar trdisional dan pasar burung terbesar
di Yogyakarta. Beberapa daya tarik pendukung inilah yang membuat Tamansari
menjadi salah satu tujuan wisata Yogyakarta, selain Keraton Yogyakarta.






 




































































 
 
 
Statistik
00199298
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945