Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Upacara Tradisi
Agenda Kegiatan Danais DINDBUDPARPORA KP 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Upacara Tradisi

UPACARA GAREBEG DI KRATONĀ  YOGYAKARTA

Nyewu, Kematian

Nelung dina, Mitung dina, Matang puluh, dan Nyatus dina, Kematian

Surtanah, Kematian

Panggih, Perkawinan

Ijab Kabul, Perkawinan

Asak Tukon, Perkawinan

Menyajikan data ke- 1-10 dari 21 data.
Halaman 1 2 3 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Upacara Tradisi
« Kembali

Tanggal artikel : 10 Maret 2014
Dibaca: 20909 kali

A. Kehamilan      

1. Nglimani

Memohon keselamatan baik untuk si anak maupun ibunya  (orang tuanya)

Golongan bangsawan:   tumpeng robyong, nasi kebuli, nasi punar, uler-uleran, ketan moncowarno, rujak crobo, tikar pontang dan seekor kerbau.                  

Golongan rakyat biasa: nasi gudangan, nasi ambengan, nasi biasa dengan lauk serundeng, tempe, bakmi dan jajan pasar Dilaksanakan pada umur kandungan lima bulan pada waktu sore hari. Upacara ini dihadiri oleh si ibu, dukun, para pinisepuh, kerabat, tetangga terdekat dan keluarga. Upacara selamatan dimulai dengan pembacaan doa dan para hadirin duduk dalam satu lingkaran mengelilingi makanan. Terdapat makanan pantangan yaitu nanas muda, buah maja, ikan kali dan kepiting.

2. Mitoni atau tingkeban

Menolak bala dan mohon keselamatan

Golongan bangsawan : sajen: tumpeng robyong, tumpeng gundul, sekul asrep-asrepan, ayam hidup, sebutir kelapa, lima macam bubur dan jajan pasar.  Kenduri: nasi majemukan, tujuh pasang nasi, pecel ayam, sayur menir, ketan kolak, apem, nasi gurih, ingkung, nasi punar, ketupat, rujak dan dawet, emping ketan, air bunga dan kelapa tabonan.       

Golongan rakyat biasa :   sajen: sego jangan, jajan pasar, jenang abang putih, jenang baro-baro, emping ketan, tumpeng robyong, sego golong, sego liwed dan bunga telon. Kenduri: sego gurih, sego ambengan, jajan pasar, ketan kolak, apem, pisang raja, sego jajanan, tujuh buah tumpeng, jenang, kembang boreh dan kemenyan    Tingkeb artinya tutup, sehingga tingkeban merupakan upacara penutup selama kehamilan sampai bayi dilahirkan. Upacara ini dilaksanakan pada umur kehamilan tujuh bulan di waktu setelah maghrib, dan dihadiri oleh si ibu, suami, keluarga, dukun dan ulama. Terdapat makanan pantangan yaitu ikan gabus/sungsang, daging yang bersifat panas, belut, kepiting, buah durian dan maja. Upacara ini terbagi menjadi: §   Mitoni untuk calon ibu yang akan mempunyai anak pertama dengan tambahan siraman §    Mitoni untuk anak kedua dan seterusnya hanya dilakukan slematan kendhuri    


B. Kelahiran      

1. Brokohan

Mohon keselamatan dan agar bayi menjadi anak yang baik

Golongan bangsawan: dawet, telur mentah, jangan menir, sekul ambeng, nasi dengan lauk, jeroan kerbau, pecel dengan lauk ayam, kembang setaman, kelapa dan beras.

Golongan rakyat biasa: nasi ambengan yang terdiri dari nasi jangan, lauk pauknya  peyek, sambel goreng, tempe, mihun, jangan menir dan pecel ayam. Upacara permohonan agar bayi menjadi anak baik yang dimulai dengan penanaman ari-ari dan penyediaan sesaji brokohan yang dibagikan kepada tetangga. Brokohan ini berupa telur ayam mentah, gula jawa setengah tangkep, kelapa setengah buah, dawet dan kembang brokohan yaitu mawar, melati dan kantil. Upacara ini dilaksanakan segera setelah bayi lahir dan dihadiri oleh si ibu, suami, keluarga, dukun, pinisepuh dan putra-putri famili. Terdapat makanan pantangan yaitu sambal, sayur bersantan, telur ikan tawar dan telur asin.

2. Puputan

Mohon keselamatan bagi si bayi

Golongan bangsawan:    nasi gudangan, jenang abang putih, lima macam bubur dan jajan pasar.

Golongan rakyat biasa :   nasi jangan, jenang abang putih, jenang baro-baro dan jajan pasar. Puputan merupakan saat tali pusar bayi putus atau puput. pada saat itu diadakan slametan puputan berupa kendhuri, bancakan dan pemberian nama bayi. Upacara ini diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu, dukun, pinisepuh, dan sanak saudara.

3. Sepasaran

Mohon keselamatan bagi si bayi

Golongan bangsawan: bubur lima macam, jajan pasar, nasi tumpeng gudangan, nasi golongan.

Golongan rakyat biasa :  sego tumpeng janganan, jenang abang putih, jenang baro-baro dan jajan pasar. Upacara pada waktu si bayi memasuki hari ke lima setelah kelahiran. Sepasaran dilaksanakan setelah maghrib dan dihadiri oleh bayi, ibu bapaknya dan anggota keluarga terdekat. Terdapat makanan pantangan yaitu sambal, sayur bersantan, telur, ikan tawar dan telur asin.

4. Selapanan

Mohon keselamatan bagi si bayi

Golongan bangsawan: Nasi tumpeng gudangan, nasi tumpeng kecil yang ujungnya ditancapi tusukan bawang merah dan cabe merah, bubur lima macam, jajan pasar, nasi golong, nasi gurih, sekul asrep-asrepan, pecel ayam, pisang, kemenyan, dan kembang setaman diberi air.      

Golongan rakyat biasa : Tumpeng nasi gurih dengan lauk, nasi tumpeng among-among, nasi golong, jenang abang putih, ingkung dan panggang ayam. Upacara terakhir dalam rangkaian selamatan kelahiran yang dilakukan pada hari ke 36 sesuai dengan weton atau hari pasaran kelahiran si bayi. Selapanan diadakan setelah maghrib dan dihadiri oleh si bayi, ayah, dukun, ulama, famili dan keluarga terdekat.

5. Thedak Sinten

Mohon keselamatan bagi si bayi dan harapan agar bayi cepat berjalan

Golongan bangsawan:  Nasi kuning, air dan kembang setaman, jadah tujuh warna, kue singkong, jenang baro-baro, nasi gudangan, jenang abang dan putih.

Golongan rakyat biasa : Nasi tumpeng gudangan, jenang abang dan putih, jenang baro-baro dan jajan pasar.   Upacara ini berkaitan dengan peristiwa turun tanah, yaitu memperkenalkan anak kepada tanah. Thedak sinten diadakan pada waktu siang hari dan dihadiri oleh ibu, ayah, bibi, kerabat dan teman terdekat. 

6. Sapihan

Mohon keselamatan dan menolak bala Nasi sayur bobor, air kembang setaman, kembang telon dan kemenyan. Upacara ini dilaksanakan bila bayi sudah tidak menyusui pada ibunya lagi. Sapihan diadakan pada waktu malam hari dan dihadiri oleh si bayi, bapak ibunya, kakek dan nenek, famili dari pihak ayah maupun ibunya. Upacara ini jarang diadakan oleh golongan rakyat biasa.

 

C. Inisiasi      

1. Tetesan  (anak perempuan)

Mohon  keselamatan

Golongan bangsawan:  tumpeng robyong, tumpeng gundul, tumpeng songgobuwono, tumpeng kencono, jenang baro-baro.

Golongan rakyat biasa: nasi gurih, ingkung, nasi golong dengan lauk, jenang abang dan putih, jenang baro-baro, jajan pasar, nasi ambengan dan kembang telon.   Tetesan diadakan pada waktu malam hari dan dihadiri oleh anak tetesan, ayah ibu, famili dan tetangga terdekat. Upacara diawali dengan mandi air kembang setaman sebelum proses inisiasi dimulai.  

2. Khitanan   (anak laki-laki)

Mohon keselamatan dan harapan agar anak tersebut  kelak memiliki keturunan

Golongan bangsawan tumpeng robyong, tumpeng gundul, tumpeng songgobuwono, tumpeng kencono, jenang baro-baro.

Golongan rakyat biasa :  nasi golong dan lauknya, tumpeng gurih dan lauknya, tumpeng among-among, jenang abang putih, panggang ayam dan jajan pasar.   Supitan dilaksanakan pada waktu pagi atau sore hari yang dihadiri oleh si anak, ulama laki-laki, orang tua, juru supit/bong,  dan tetangga terdekat. Terdapat makanan pantangan yang harus dihindari yaitu makanan yang berbau amis.


D. Perkawinan    

 1. Lamaran

Mengetahui apakah seorang gadis sudah terikat kepada seorang pria. Sejumlah harta berupa pakaian wanita dan sebentuk cincin. Proses yang melibatkan keluarga pria lebih dahulu menanyakan apakah gadis dari pihak wanita telah dimilki oleh seorang jejaka atau belum. Pertanyaan diajukan kepada orang tua gadis, jika masih hidup maka proses ini disebut legan, tetapi jika orang tua gadis sudah meninggal dan ditujukan pada wali,maka proses ini disebut nakokake. Jika diterima dengan baik, maka keluarga pria memberikan paningset yakni pemberian sejumlah harta kepada orang tua si gadis sebagai tanda pengikat.  

2. Asak Tukon

Penyerahan sejumlah benda sebagai tanda batuan dari pihak keluarga pria untuk persiapan acara perkawinan. Harta berupa uang, bahan pangan, perkakas rumah tangga, ternak (sapi, kuda, kerbau). Tanda penyerahan harta kekayaan dari pihak pria kepada pihak wanita, berupa uang, bahan pangan, perkakas rumah tangga, ternak (sapi, kuda, kerbau) yang diserahkan seminggu sebelum upacara pertemuan kedua pengantin. Proses ini disebut juga srakah atau sasrahan yang merupakan mas kawin.

3. Ijab Kabul

Mempersatukan/ mengikat kedua pengantin dalam suatu ikatan perkawinan. Sejumlah uang sebagai tanda mas kawin Upacara perjanjian perkawinan kedua pengantin yang dilaksanakan di Kantor Urusan Agama Kecamatan atau di rumah pengantin wanita, yang disaksikan oleh wali dari kedua belah pihak. Pengantin pria menyerahkan sejumlah uang sebagai tanda mas kawin dalam hukum perkawinan Islam.

4. Panggih/ Perkawinan

Untuk menolak bala dan mohon keselamatan serta media sosialisasi kedua mempelai kepada masyarakat.

Golongan bangsawan:  sesaji: kepala kerbau, tumpeng robyong gundul, pisang ayu, sedah ayu, ketan moncowarni, jenang tujuh macam, rujak warna-warni, ampyang warna-warni dan kembang tujuh rupa. Kenduri: nasi gurih, ambeng, nasi asrep-asrepan, nasi golong tumpeng megono, tumpeng legeh, tumpeng kendit, tumpeng muruping damar, tumpeng gebuli, tumpeng punar, dan dahar werni, tebu, padi dan ingkung.

Golongan rakyat biasa. sesaji: nasi among, jenang-jenangan, nasi golong bulat, nasi punar, pindhang antep, gecok ayam hidup dan kelapa. Kendhuri: nasi gurih, ingkung nasi golong, nasi ambengan dan nasi gudangan.   Pertemuan pengantin yang kemudian biasanya dilanjutkan dengan upacara keramaian dengan mengundang kerabat dan relasi dari kedua belah pihak.


E. Kematian      

1. Surtanah

Agar arwah/roh si mati mendapat tempat yang layak di sisi Tuhan YME.

Golongan bangsawan   : tumpeng asahan lengkap dengan lauk, sayur adem (tidak pedas), pecel dengan sayatan daging ayam goreng/panggang, sambal docang dengan kedelai yang dikupas, jangan menir, krupuk, rempeyek, tumpeng ukur-ukuran, nasi gurih, nasi golong, dan pisang raja.

Golongan rakyat biasa:  tumpeng dengan lauknya, nasi golong, ingkung dan panggang ayam, nasi asahan, tumpeng pungkur, tumpeng langgeng, pisang sajen, kembang setaman, kinang, bako enak dan uang bedah bumi.   Upacara ini diadakan setelah mengubur jenazah yang dihadiri oleh keluarga si mati, tetangga dekat,  dan ulama.

2. Nelung dina, Mitung dina, Matang puluh, dan Nyatus dina

Mohon pengampunan kepada Tuhan dengan nasi sebagai pengiring doa.

Golongan bangsawan: takir pentang yang berisi lauk, nasi asahan, ketan kolak, apem, bunga telon ditempatkan distoples dan diberi air.

Golongan rakyat biasa:  nasi ambengan, nasi gurih, ketan kolak, apem, ingkung ayam, nasi golong dan bunga yang dimasukan dalam lodong serta kemenyan.   Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan relasi.

3. Nyewu

Mohon pengampunan kepada Tuhan Seperti upacara Nelung dina, tetapi ditambah dengan memotong kambing, dara/merpati, bebek/itik, dan pelepasan burung merpati.   Upacara tersebut diadakan setelah maghrib dan diikuti oleh keluarga, ulama, tetangga dan relasi.

 
 
Statistik
00212306
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945