Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Kawasan Cagar Budaya
Jogja Gelar Festival Museum 2015

Dinas Kebudayaan DIY Gelar Sarasehan Travel Heritage di Cirebon

Kawasan Malioboro

Sejarah Kerajaan Mataram di Pleret

Sejarah kerajaan mataram di kerto

Kotagede Masa Kini Masa Depan

Rencana Aksi Kota Pusaka 2012

pelestarian warisan budaya jawa dan lingkungan hidup untuk mendukung industri pariwisata DIY , yuwono, 2005.

Upacara Adat dan Budaya dalam Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat

Perda DIY No 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya

Menyajikan data ke- 1-10 dari 20 data.
Halaman 1 2 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Sejarah Kerajaan Mataram di Pleret
« Kembali

Tanggal artikel : 7 Maret 2014
Dibaca: 51292 kali


           Pleret  adalah  suatu kota Pusat Pemerintahan Mataram di bawah  kekuasaan Raja Mataram Islam  bergelar    Kangjeng  Susuhunan  Prabu Amangkurat  Agung     atau Amangkurat I  yang dimakamkan di Tegalarum ,ketika perang pemberontakan Trunojoyo.Beliau adalah Putera Sultan Agung yang ke 10 dari isteri Padmi (Permaisuri) Kangjeng Ratu Kencono berasal dari Kadipaten Batang ( Tegal ) atau Kangjeng Ratu Wetan  Putera Raden Ronggo Wongsoadibroto ( Adiprojo ) ke 11,putera menantu Mandurorejo ke I.


           Beliau naik tahta pada tahun : 1645 s/d 1677 M sehingga  adanya   pemberontakan Panembahan Maduretno  alias Trunojoyo,  yang  sebenarnya  peperangan  ini merupakan perebutan kekuasaa antara Ayahanda dan Putera Mahkota,dengan memperalat Trunojoyo dari Madura.  Sampai sekarang tempat tersebut masih sebagai Pusat Pemerintahan tetapi hanya tingkat Kecamatan (Kapanewon=Panewu)agak menggeser 1 km ke Utara termasuk Kalurahan ( Penatus ) Pleret, Kabupaten Bantul,Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


          Ketika Pemerintahan Pusat Mataram masih dijabat Sultan Agung Hanyokrokusumo Segala sesuatunya dalam bidang kenegaraan maupun Pemerintahan sangat   berkembang pesat ,  begitu pula dalam  bidang kemiliteran  sangat kuat dan mempunyai  daya tempur yang tinggi.            Pernah membuat Lumbung padi bersama-sama dengan orang-orang Sunda di Kerawang Jawa Barat, dengan maksud untuk persediaan supply prajurit sewaktu   menyerang  ke Batavia.


           Untuk melatih prajurit lautan lalu membuat kolam telaga yang lebar dan luas disebut  : SEGARA YASA, air  diambil dari  Kali  Gajah Wong yang bertempur dengan  Kali Opak didesa Wonokromo, tempat itu  sekarang  dihuni  oleh  penduduk sekitarnya lalu  dinamakan  Desa Segoroyoso.


          Pada tahun 1628 M.Kangjeng Sultan Agung menyerang  ke  Batavia  ( Jayakarta )  tetapi  mendapat  kekalahan  yang  besar ,  banyak  prajurit  yang  kurang makan  , mati kelaparan , kekurangan alat persenajataan, kekurangan meriam dan senjata api, tombak dan kapal, karena lumbung padi yang berada di Krawang dibakar oleh Belanda  VOC. Benteng Kompeni VOC selain dibuat batubata juga dibagian luar banyak terdapat pohon -pohon  bambu ori  ,    agar Kompeni VOC dapat melihat Prajurit Mataram dari kejauhan Maka pohon-pohon bamboo-ori tersebut ditembaki memakai peluru uang-logam, karuan saja penduduk lalu merombak pohon-pohon bamboo tersebut untuk mengambil   uang , sebaliknya Prajurit Mataram merasa marah lalu senjatanya diisi dengan tinja (kotoran manusia )  sehingga penduduk disana menyebut ambetai, lama-kelamaan beralih :Betawi


        Sultan Agung merasa marah mendengar para prajuritnya selalu menderita kekalahan dan Jayakarta ( Sunda Kelapa ) telah diduduki Kompeni VOC,untuk hal ini Sultan Agung merasa terpukul keras,hingga menderita sakit ,akhirnya wafat dalam usia 55 tahun 1645.          Beliau digantikan oleh Putera Mahkota bergelar :    PRABU   SUSUHUNAN AMANGKURAT AGUNG   atau  Susuhunan Amangkurat  I  seda  Tegalarum ,  bertahta  tahun  1645 s/d 1677 M.


            Kemudian Keraton  dipindahkan mleret ke timur , lalu disebut   Kedhaton Pleret. Bekas Keraton Kerta  hanya dipergunakan sebagai Pesanggrahan Keraton  lama.  Di Keraton  baru ,  Kangjeng Sunan Mangkurat Agung  masih juga aktif bersembahyang    ke Masjid Agung Ngeksigondo ,dengan dikawal oleh para punggawa-punggawa Kraton  yang begitu banyak ginarebeg ( dikawal ) para  prajurit  seakan-akan  Kanjeng Susuhunan Amangkurat naik  burung  Garudha  dari Keraton  menuju ke Masjid, hanya sekejab mata saja.           Setelah bertahta agak lama, beliau  hanya mementingkan kenikmatan keduniawian memelihara selir banyak, bahkan menyimpan gadis kecil yang dititipkan  kepada Tumenggung Wirorejo agar nantinya setelah m enginjak dewasa akan dijadikan isteri muda. Gadis ini bernama :Roro Hoyi, gadis pingitan dari Surabaya yang dibawa Pangeran Pekik Adipati Surabaya (masih Paman Raja ,suami Ratu Mas Wandansari,adik Sultan Agung ).

          Pada suatu hari Pangeran Adipati Anom (Pangeran Tejaningrat ) berkunjung    kerumah Tumenggung Wirorejo bermaksud hanya main-main saja. dengan  tidak  terduga bahwa di Katemanggungan ada seorang gadis yang sedang membatik kain.   Sang Pangeran merasa terpikat hatinya. demi melihat gadis  cantik  molek   yang tumbuh di sebuah Tamansari Katemanggungan Wirorejan. Begitu pula Rara Hoyi setelah bertemu pandangan matanya , deras berdebar–debar jantungnya dan segera lari masuk ke Pendapa Katemanggungan sambil duduk termangu-mangu. Sang Pangeran manunggu kehadiran si Cantik Jelita,namun tidak mungkin keluar karena malu.  Ki Tumenggung Wirorejo keluar menghadap Sang Pangeran dengan sembahnya, sambil unjuk atur  : “  Pangeran .. anak gadis yang Paduka cari itu sebenarnya puteri Piningit dari Surabaya, yang akan menjadi isteri Ayahanda Raja Sunan Prabu Mangkurat Agung ..” Setelah Sang Pangeran  mendengar keterangan dari  Ki Tumenggung Wirorejo ,  segera minta pamit kembali ke Keraton . Di Kesatriyan Sang Pangeran tidak dapat tidur, dan selalu terbayang-bayang wajah  gadis itu,  selalu menggoda dipelupuk matanya,  akhirnya Sang Pangeran jatuh sakit.


           Hal ini terdengar oleh Kangjeng Ratu Wandansari, Isteri Pangeran Pekik , bahwa  Sang Pangeran jatuh sakit wuyung, kasmaran dengan Roro Hoyi sengkeran Sang Prabu Susuhunan Amnangkurat  I.


          Atas persetujuan Pangeran Pekik, Rara Hoyi dibawa masuk ke Keraton dan ditempatkan di Kesatriyan, untuk mengobati penyakit Sang Pangeran. Pangeran Pekiklah yang bertanggung jawab apabila Sang Ayah marah, menurut pendapatnya mestinya sang Ayah mau mengalah dengan anaknya. “  Ora ana macan  arep tegel mangan gogore … “           Dugaan ini ternyata meleset, setelah Sang Prabu mendengar Rara Hoyi jatuh cinta kepada Sang Pangeran,dan malah mendapat dukungan dari Pangeran  Pekik,beliau geram dan murka. Maka Pangeran Pekik dan Kangjeng Ratu Wandansari serta Pangeran  Tejaningrat begitu pula Tumenggung Wirorejo dan  Nyi Tumenggung  dipanggil menghadap  Susuhunan Prabu Amangkurat  I.   Dalam   Pasewakan   ( Rapat )   yang   luar   biasa  Sang  Raja  marah - marah  dan menjatuhkan hukuman mati kepada Pangeran Pekik  dan Tumenggung Wirorejo  berdua dan jenazahnya dimakamkan  di Makam Banyusumurup.  Selanjutnya  Pangeran  Tejaningrat  harus  membunuh  Rara Hoyi  dari  tangannya sendiri.. Pangeran Tejaningrat dengan  membawa  keris  terhunus  meninggalkan Paseban menuju ke Kesatriyan, sesampainya di Kesatriyan  tidak  tega  akan  menusuk Rara Hoyi. Rara Hoyi   tanggap  bahwa  yang  menyebabkan  onar  didalam Keraton Mataram adalah dirinya ,  maka  setelah  melihat  Sang Pangeran  membawa  keris terhunus ,   ditubruklah keris itu sehingga tembus sampai kepunggungnya,Rara Hoyi meninggal seketika itu juga.


           Geram  Sang  Prabu  Susuhunan  Amangkurat  belum mereda, dan memerintahkan agar Kesatriyan dibakar habis-habisan, sedang Pangeran Tejaningrat diasingkan(dibuang) ke Hutan  Larangan ( tutupan ). Di Hutan Tutupan Pangeran Tejaningrat kedatangan  Pangeran Puruboyo Bantheng Wulung , mengajak  Trunojoyo  , anak kemenakan  Adipati  Cakraningrat  dari  Sampang Madura.   Maksud  kedatangan mereka mengajak perundingan, agar Sang Pangeran mau merebut kekuasaan Sang Ayah   Prabu Amangkurat  I, karena beliau bertindak sewenang-wenang  terhadap anaknya saerta para kawulanya.


           Pangeran  Tejaningrat  menerima  bujukan ini , dengan janji  :   Apabila Trunojoyo dapat menundukkan Prabu Amangkurat I ,akan diangkat menjadi Patih dikelak kemudian, setelah Pangeran Tejaningrat atau Pangeran Adipati Anom naik tahta kerajaan.            Dengan kekuatan Prajurit yang luar biasa Trunojoyo menyerbu Kedhaton Plered, dibantu oleh orang-orang Makasar, Kraeng Galengsong, Kraeng Naba dan lain-lainnya , memporak-porandakan  keadaan didalam Keraton .


           Sang Pangeran  dengan  secara  diam-diam menelusup ke Keraton, mengajak Sang Ayah Prabu Susuhunan Amangkurat Agung  agar mau meninggalkan Keraton mengungsi ke barat untuk menyelamatkan diri.    Trunojoyo  dapat  menduduki  Keraton  Plered   dan  mengangkat  dirinya  sebagai PANEMBAHAN  MADURETNO   dan  semua  isi  Keraton disita dan dibagi-bagikan ke pada  para   prajuritnya , isteri  Susuhunan ,   Kanjeng  Ratu  Kencono   (  Kangjeng  Ratu Kleting Kuning ) diboyong ke Kediri.       Ditempat  pengungsian  Ajibarang  Jawa  Barat, Susuhunan Amangkurat  I   memerintahkan  kepada  anaknya  agar mau merebut kembali Keraton Pleret , akan  tetapi  Sang Pangeran  tidak sanggup melawan Trunojoyo, didalam batinnya beliau telah berjanji, bila Trunojoyo telah dapat menduduki Keraton tentu akan menyerahkan kedudukannya itu kepada Sang Pangeran,tetapi Trunojoyo melanggar janji  dalam peribahasa Jawa disebut  :  Ngemut Gula krasa legi , eman yen nganti dilepeh  ..Setelah   Sri  Susuhunan  Amangkurat  I  memerintahkan   ,   anaknya   tidak   mau kemudian  mengeluarkan  Prasapta  ( Ipat-ipat ) bahwa :   Semua keturunan Raja dilarang mengadakan   Ziarah  ke  leluhurnya. Dibantu  oleh  Adipati  Mertalaya  di  Tegal ,   Prajurit  Mataram mengejar Prajurit Trunojoyo  ke  Kediri  , dan   selanjutnya   Susuhunan   meminta  bantuan Kompeni VOC   untuk   menangkap  Trunojoyo  ke  daerah  Kediri . Namun  kemudian   Susuhunan Prabu Amangkurat I   sesampainya  di  desa Pasiraman wafat  dan  dimakamkan   di Tegalarum , Tegal , Jawa Tengah ,  sedang Sang Pangeran  Adipati Anom memakai srempang Orange Nassau   dari   Belanda , diangkat   menjadi   Admiral  mendapat   sebutan   :  SUNAN AMANGKURAT AMRAL II .                   


           Keadaan  Kraton  Pleret rusak dan tidak pantas lagi ditempati seorang Raja Muda , maka  Keraton  dipindahkan  ke Kartasura ,  Kedhaton Pleret sekarang tinggal Patilasan berupa :    Umpak , lantai dan sumur gumuling.

 
 
Statistik
00199689
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945