Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Busana Adat
Pakaian Adat di Provinsi DIY

Istilah Perlengkapan Tari dan Rias

Menyajikan data ke- 1-2 dari 2 data.

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Istilah Perlengkapan Tari dan Rias
« Kembali

Tanggal artikel : 7 Maret 2014
Dibaca: 75694 kali

Badhak Merak. Penari yang memakai topeng besar, biasanya dalam pertunjukan Reyog atau Dhoger. Tutup kepala  atau topeng ini melebar ke atas. Disebut badhak merak sebab topeng di bagian wajahnya menyerupai binatang badhak, sedang yang melebar ke atas digambari bulu merak atau sering bulu merak sungguh-sungguh. Badhak Merak ini sering disebut Dhadhak Merak atau Merak-merakan.

 

Bantalan. Benang yang dibalut dengan kain sebesar ibu jari digunakan sebagai alas bilahan gambang. Ada kalanya bahan ini berupa ijuk yang dibalut kain.

 

Bara. Hiasan pada pakaian tari Jawa yang dikenakan pada pinggang bagian kanan dan kiri. Bentuknya selebar sabuk, panjangnya lebih kurang 40 cm, biasanya diberi hiasan mote dan ketep.

 

Benges. Bahan rias yang warnanya merah atau merah muda. Istilah ini dipakai jika untuk mewarnai bibir (lipstick). Beragam gerongan dengan nada rendah dinyanyikan dengan nada tinggi.

 

Blangkon. Ikat kepala yang terbuat dari kain denganmotif batikyang bermacam-macam. nama Blangkon berasal dari kata blangko, yang berarti ikat kepala, itu sudah dirakit atau dipas sedemikan rupa menurut ukuran kepala. Ikat kepala ini sebagai kelengkapan pakaian adat laki-laki di jawa. Perkembangan sekarang biasa untuk pakaian tari.

 

Blencong. tabung bulat yang diisi dengan minyak kelapa, di bagian samping ada pipa berlubang tempat masuknya sumbu dari benag, sebagai alat penerangan (semacam, pelita) yang digantungkan di tengah tabir, tepat di atas kepala dhalang pada pertunjukan wayang kulit.

 

Bokongan. Tiruan dari pada pantat supaya pantatnta kelihatan besar. Pakaian ini biasanya dipakai untuk peranan pria dalam pewayangan atau cara memakai sama dengan dhandhan.

 

Boreh. bahan rias atau make up pada wayang wong atau tarian yang berwarna kuning. Boreh ini sering juga disebut lulur, fungsinya biasanya untuk memberi warna seluruh badan sehingga menjadi kuning. Menurut tradisi penari-penari harus mempunyai warna kulit yang kuning.

 

Buntal. bagian pakaian tari atau wayang wong yang terbuat dari kertas yang ermacam-macam warnanya. Potongan-potongan kertas itu dilipat-lipat sebagai rupa, sehingga setelah diikat dan dirangkai bentuknya menjadi bundar-bundar kecil, yang kira-kira garis tengahnya 7-10 cm. Rangkaian bundaran kertas itu disusun memanjang kira-kira sampai 2 meter. Menurut tradisi, buntal sebagai kelengkapan pakaian adat penganten Jawa yang aslinya terbuat dari daun-daunan. Buntal berasal dari kata bontel yang berarti bermacam-macam warna.

 

Buntut. Tiruan ekor untuk peranan kera. cara memakai dikenakan pada sabuk bagian belakang seperti ekor, ujungnya dihubungkan pada irah-irahan. Untuk gaya Yogyakarta bahanya terbuat dari kapuk yang dimasukkan dalam kain sehingga bentuknya bulat dan panjang kira-kira 1,50 m.

 

Buntut Cecak. tempat untuk memegang kemanak yang berbentuk panjang dan pada ujungnya melengkung mirip ekor.

 

Cancutan. Sering juga disebut cawetan yaitu cara berkain untuk peranan kera khususnya gaya Yogyakarta.

 

Cawi. bentuk sunggingan dan tatahan pada kulit untuk pakaian-pakaian tari yang berbentuk garis-garis kecil seperti bentukl jarum.

 

Celak. bagian daripada kelopak mata yang diberi warna hitam, supaya mata lebih kelihatan besar atau tajam.

 

Celana panji-panji. Celana tari yang panjangnya kira-kira sampai bawah lutut.

 

Celuk. Introduksi dengan vokal, biasanya menggunakan bait pertama atau bait terakhir dari salah satu tembang (lihat tembang).

 

Cemehi Samandiman. Cambuk yang dibawa oleh Wirayuda dalam tari Jathilan atau kuda kepang Temanggung.

 

Cempala. Alat pemukul kothak pada pertunjukan wayang kulit. Cempala dibuat dari kayu berbentuk mirip dengan stupa dengan garis tengah sekitar 10 cm dan panjangnya 15 cm. Di Yogyakarta, cempala yang dibuat dari kuningan atau perunggu yang bentuknya lebih kecil, digunakan sebagai pemukul kepyak dengan dijapit ibu jari kaki.

 

Ceplik. Sering juga disebut borokan, merupakan hiasan thothok yang terdiri dari satu pasang pada bagian kanan dan kiri.

 

Cindhen. Motif sampur dan celana panji-panji serta bagian-bagian lain dari kostum tari gaya Yogyakarta yang berwarna dasar merah, biru, hijau, kuning.

 

Congoran. Sering pula disebut cangkeman, dan berfungsi sebagai topeng, tetapi hanya menutup bagian mulut. Untuk bagian muka lainnya diberi rias. Gaya Yogyakarta congoran dipakai dalam Langenmandra Wanara.

 

Corekan. Rias muka setelah bagian muka diberi dasar, yaiu kumis, alis, godhek dan lain sebagainya.

 

Cundhuk Jungkat. Perhiasan (lihat cundhuk mentul) yang berfungsi sebagai cundhuk yang bentuknya seperti sisir atau jungkat. Perhiasan ini biasanya terbuat dari mas atau tiruan mas.

 

Cundhuk Mentul. Perhiasan biasanya untuk putri. Perhiasan ini sebagai cundhuk seperti bentuk bunga yang bisa bergerak seperti pir atau bahasa Jawa mentul-mentul. Perhiasan ini dikenakan pada hiasan sanggul, bahannya terbuat dari emas atau tiruan emas.

 

Dhadhan. Bagian tari sebagai tiruan dhadha seupaya kelihatan besar. Bagian ini dipakai untuk peranan-peranan yang memakai baju, khususnya peranan kera dan raksasa. Dhadhan ini terbuat dari kapas yang dibungkus dengan kain, atau dengan anyaman dari rotan yang dibentuk sedemikian rupa. Cara memakainya diberi tali dan dikalungkan pada leher.

 

Dhampar. Kursi beralas persegi tanpa sandaran untuk tempat duduk raja dan para ksatria dalam adegan resmi di balairung pada drama tari Jawa wayang wong (lihat wayang wong) gaya Yogyakarta.

 

Dhendhan. Kayu bulat yang terletak pada kanan dan kiri bagian atas rancakan gender dimana ada lubang untuk memasukkan pluntur sebagai tali untuk merentangkan bilahan gender. Dhendhan ini merupakan alat pengencang pluntur. Di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan (dhendhan kijingan).

 

Dhingklik. Kursi beralas bundar tanpa sandaran untuk tempat duduk para ksatria dalam adegan resmi di balairung pada drama tari Jawa wayang wong (lihat wayang wong) gaya Yogyakarta.

 

Dhuduk. Wanita yang bertugas menladeni menyampaikan senjata prang seperti perisai dan panah kepada  penari Srimpi gaya Yogyakarta.

 

Dhuwung. Bahasa jawa Krama (tinggi, halus) untuk keris yang merupakan perlengkapan kostum tari Jawa gaya Yogyakarta yang juga dipakai ebagai senjata berperang. Peranan puteri mengenakan keris di depan diselipkan pada sabuk menempel perut, sedang peranan putera ada yang mengenakan keris di depan seperti misalnya para dewa, resi atau pertapa, tetapi pada umumnya dipakai di belakang diselipkan pada sabuk. Untuk gaya Yogyakarta dari kulit.

 

Dhuwung Branggah. Keris yang bentuk kepala selosongnya (rangka) runcing sebelah. Untuk tari gaya Yogyakarta keris ini dipakai yang juga dipakai sebagai senjata berperang. Peranan puteri mengenakan keris di depan diselipkan pada sabuk menmpel di perut, sedang peranan putera ada yang mengenakan keris di depan seperti misalnya dewa, resi, atau pertapa, tetapi pada umumnya dipakai dibelakang diselipkan pada sabuk. Untuk gaya Yogyakarta dari kulit.

 

Dhuwung Gayaman. Keris yang bentuk kepala selongsongnya (rangka) tumpul untuk tari gaya Yogyakarta kerisini dipakai oleh penari putera gagah.

 

Dodod. (1) cara berkain. Ukuran kainnya lebih kecil dari pada kampuh, kurang lebih panjang 4 meter, lebar 1,10 meter. Selain untuk pakaian tari, dalam upacara kebesaran dikenakan oleh permaisuri raja, dan puteri-puteri raja yang sudah kawin. (2) Kain penutup menthak yang dibuat dari kain beledu dengan dihiasi benang keemasan, umumnya digunakan pada kalangan panbuh gamelan daerah Yogyakarta.

 

Dolanan Sondher. Ragam gerak tangan kiri dan kanan menggambarkan sedang bermain (dolanan) selendang (sampur atau sondger) yang terdapat pada  tari putra halus dan gagah gaya Yogyakarta. Gerak ini dipakai pada tari Kelana.

 

Dolanan Supe. ragam gerak tangan kiri dan kanan menggambarkan penari sedang bermain-main (dolanan) dengan cincinnya (supe) pada tari gaya Yogyakarta. Gerak ini dipakai pada tari Golek dan Klana.

 

Gabahan. Rias bagian mata yang berpedoman dari wayang kulit bentuknya, seperti butir padi. Peranan yang mempunyai bentuk mata seperti ini biasanya karakter-karakter halus, seperti Arjuna, Kresna, Rama dan sebagainya. gabah artinya ‘butir padi’.

 

Gada. Senjata perang tari putera gagah gaya Yogyakarta berupa alat pemukul. Di Yogyakarta berbentuk pemukul yang mempunyai tiga sisi yang pipih.

 

Gadhung Mlati. Motif warna atau kombinasi warna yang sering dipakai pada kostum tari, antara lain untuk kain, sampur, ikat kepala, kemben dan lain sebagainya. Warna terdiri dari warna putih dan hijau.

 

Gelung. Irah-irahan atau tutup yang motifnya seperti hiasan rambut digelung atau dilengkungkan ke belakang. Irah-irahan inibiasa dipakai seorang tokoh ksatria baik gagah maupun halus. Contohnya seperti Arjuna, Bima, Gathutkaca, Hanoman dan sebagainya.

 

Gelung Bokor. Motif sanggul yang dipergunakan dalam tari Bedhaya atau Srimpi, khususnya gaya Yogyakarta. Dinamakan gelung bokor sebab bentuk sanggulnya menyerupai bokor atau mangkuk tempat air atau sayur.

 

Gelung Tekuk. Motif sanggul yang dipergunakan jika seorang puteri yang sudah dewasa masuk ke Kraton. cara ini dilengkapi dengan kain memakai kemben atau semekan. Perkembangan sekarang sering untuk sanggulan jenis-jenis tari.

 

Gendreh. Motif kain batik  yang bentuk lereknya atau paranganya lebih kecil dari pada parang rusak. Biasanya dipakai untuk peranan Arjuna, Puntadewa dan lain sebagainya.

 

Gendring. Sejenis Slawatan yang banyak di daerah Bantul. Tari yang dibawa adalah sebuah kipas kitap  yang disebut tuladha atau tldha, yang dibacakan oleh dhalang. Tarian rakyat ini  berfungsi sebagai upacara kedewasaan seperti khitanan, atau juga kaulan. Tarian ini bukan jenis tontonan umum, karena senua yang hadir ikut menari. Tarian ini diiringi musik terbang.

 

Gimbalan. Jenis irah-irahan yang terbuat dari rambut palsu yang panjang dan hanya diberi zamang saja. Irah-irahan ini khususnya dipakai peranan rekasasa yang rucah atau raksasa yang tidak berperanan pokok di dalam pewayangan.

 

Gincu. Bahan rias atau makeup yang warnanya merah atau merah muda, yang digunakan untuk mewarnai bagian pipi supaya lebih kelihatan muda atau menonjol.

 

Godheg. Tiruan rambut yang tumbuh di muka telinga di bawah kening, dengan cara dirias. Dalam Wayang Wong bentuk godheg ini bermacam-macam menurut karakternya.

 

Godheg Ngundhup Turi. Bentuknyaseperti bunga turi yang masih kuncup belum mekar. Dalam Wayang Wong bentuk godheg ini untuk  karakter halus atau untuk puteri.

 

Godheg Pengot. Bentuknya seperti pengot atau sejenis pisau. Dalam wayang wong atau jari jenis ini, untuk karakter yang gagah atau keras.

 

Grompolan. Hiasan sumping yang dipasang pada ikat kepala tepen dibuat dari kulit kerbau atau sapai, bentuknya kecil seperti bunga..

 

Halup-halup. Dasar rias muka, biasanya putih. Istilah ini sering dipakai dalam  cara merias Wayang Wong khususnya gaya Yogyakarta.

 

Iket Kodhok Bineset. Ikat kepala atau blangkon tetapi bagian atas terbuka, sehingga setelah dipakai rambut bagian atas kelihatan.

 

Ilat-ilatan. Bagian dari mekak. Disebut ilat-ilatan karena menyerupai lidah yang panjang, dipakai di tengah dada memanjang ke bawah yang fungsinya untuk menutup kancing atau tali mekak.

 

Jahitan. Cara merias bagian mata untuk jenis tari Bedhaya gaya Yogyakarta. Bentuknya seluruh muka didasari lulur, tetapi di bagian sekeliling mata tidak, sehingga pada bentuk mata yang bisa njahit.

 

 
 
Statistik
00210169
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945