Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Tokoh Seniman Budayawan
Bambang Paningrom

Azwar. AN

ADRIANUS HERU KESAWA MURTI

KRT. SURYOHASMORO

DJENO HARUMBRODJO ( Seniman Empu Keris)

BASIROEN HADISUMARTA alias M.W. CERMAGUPITA

Ki Tjermo Sudjarwo

K.R.T. Sasmintadipura

K.R.T Purbodiprodjo,

Prodjosudirdjo, Raden Wedono

Menyajikan data ke- 1-10 dari 108 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (39)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Candralukita, Nyi
« Kembali

Tanggal artikel : 7 Maret 2014
Dibaca: 44998 kali

Lahir di desa Pogung Depok Sleman Yogyakarta pada tanggal 25 April 1920, dengan nama kecil Turah. Ia adalah anak sulung dari tujuh bersaudara putra Prawiradimeja.

            Setelah tamat dari sekolah rakyat pada tahun 1932, ia belajar tembang-tembang macapat pada ayahnya. Kemudian ia juga belajar seni tembang di Jayadipuran dan Kepatihan Danurejan. Di Kepatihan Danurejan, Turah diberi nama “Penilaras” oleh Pangeran Danureja. Sejak namanya diganti dengan nama tersebut, namanya di bidang seni karawitan semaik dikenal banyak orang. Berbagai perkumpulan dan kejuaraan seni tembang ia ikuti, dan memperoleh juara.

            Pada umur 18 tahun, ia mengabdi pada Sultan hamengku Buwono VIII di Kraton Yogyakarta, disini nama Penilaras diberi nama  baru lagi yaitu, Pedasih. Pada waktu engabdi  di Kraton  inilah ia berkenalan dengan sorang pria penari keratin yang kemudian menjadi suaminya, yaitu Candralukita. Setelah perkawinan tersebut, ia lebih dikenal dengan nama Nyonya atau Nyi Candralukita. Dari perkawinannya, mereka diakurai 12 anak.

            Pada tahun 1955 ia mengikuti suaminya ke Jakarta, karena suaminya mengajar di pusat Gabungan Kebudayaan Jakarta. Di Jakarta pun kegiatan keseniannya tidak berhentti karena ia bekerja sebagai pengisi tetap siaran kesenian Jawa di RRI Pusat. Setelah pension sebagai pegawai RRI Jakarta pada tahun 1981, ia membuka pelatihan seni di rumahnya, di Jl. Seiabudi Jakarta. Muridnya berasal dari dalam dan luar negeri. Atas jasa-jasanya dalam bidang seni budaya Jawa, ia memperoleh beberapa tanda penghargaan, diantaranya dari Gubernur DIY Sri Sultan Hamnegku Buwono IX, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin, dan penghargaan bintang seni dari Presiden kedua Indonesia (Soeharto) pada tanggal 12 Maret 1987.

 
 
Statistik
00221699
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945