Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Dolanan Anak
Permainan Tradisonal di DIY

Dolanan Soyang

Dolanan Dhayoh-dhayohan

Dolanan Dhingklik Oglak-aglik

Dolanan Sobyang

Dolanan Lintang ALihan

Dolanan Ancak-ancak Alis

Dolanan Cublak-cublak suweng

Dolanan Benthik

Dolanan Gatheng

Menyajikan data ke- 1-10 dari 19 data.
Halaman 1 2 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Dolanan Dhayoh-dhayohan
« Kembali

Tanggal artikel : 7 Maret 2014
Dibaca: 29669 kali


Suatu jenis permainan anak-anak dengan melakukan suatu kegiatan yang menyerupai cara orang bertamu ataupun menerima tamu. Biasanya permainan ini dilakukan oleh anak-anak perempuan yang berusia kurang dari 10 tahun.

            Tahap pertama adalah menentukan peraturan permaian, yang dibuat dan disetujui oleh para pemain. Bila pemain hanya seorang diri, maka peraturan ditentukannya sendiri, yaitu menyangkut  tentang peran, tema, dan tempat bermain. Setelah itu anak-anak mulai membangun rumah-rumahan dengan mengerudungkan kain diantara dua kursi sebagai rumahnya, atau apa saja yang mereka imajinasikan sebagai rumah tangga dan segala isinya. Setelah itu mereka mulai berdandan menurut peran masing-masing, misalnya peran ibu mengenakan kebaya, membawa tas dan payung, serta mengenakan sepatu dengan tumit tinggi.

            Dalam melakukan permaian ini tentu saja menggunkan bahasa karma ingil ( bahasa karma halus ). Pmbicaraan merekapun dapat berkisar menjenguk bayi yang baru lahir, menjenguk orang tua, dan sebagainya. Sering pula diantara mereka berperan sebagai sutradara  untuk membetulkan pemain-pemain yang melakukan kesalahan. Anak-anak juga memanfaatkan makanan sungguhan sebagi suguhan, atau dari bahan bohong-bohongan yang didapatnya dari kebun.

            Permainan ini akan bubar bila mereka mualai teranggu dengan berbagai kegiatan lain , atau dengan datanganya orang lain yang sudah dewas ( misalnya orang tua atau kakaknya )

 

 
 
Statistik
00205674
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945