Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Sultan HB X Berbicara Ngoko, Ini Reaksi Peserta Javanese Diaspora

#BeraniGundul

Lautan Jilbab

FestivalJomblo

Pemuitaran Film Siti

Unguarded Guards

Festival Sholawat 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Sleman

Festival Adiluhung Kabupaten Bantul

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Menyajikan data ke- 1-10 dari 72 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Masjid Agung (Masjid Gedhe)
« Kembali

Tanggal artikel : 5 Maret 2014
Dibaca: 54942 kali


              Suatu lingkungan binaan dibuat untuk memenuhi berbagai macam kebutuhan, misalnya kebutuhan religius dan sosial budaya. Oleh karena itu secara fisik rakit pusat kiota kerajaan Islam juga dilangkapi dengan tempat ibadah.

Dalam hal kota Yogyakarta tempat ibadah itu adalah Masjid Gedhe Kauman yang terletak di sebelah barat Alun-Alun Utara. Secara simbolis hal itu merupakan langkah transendensi untuk menunjukkan keberadaan sultan, yaitu disamping sebagai pimpinan perang atau penguasa pemerintahan (senapati ing ngalaga), juga sebagai sayidin panatagama khalifatullah (“wakil Allah”) di dunia di dalam memimpin agama (panatagama) di Kesultanan.

              Masjid Gedhe Kauman dibangun pada masa Sri Sultan Hamengku Buwana I, dengan K.Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Adapun pengulu pertamanya yaitu Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat. Secara umum Masjid Gedhe Kauman mempunyai ciri yang sama dengan masjid-masjid kuno lain di Jawa yaitu beratap tumpang tiga dengan mustoko, berdenah bujur sangkar, mempunyai serambi, mempunyai pawestren, serta mempunyai kolam di tiga sisi masjid. Namun, Masjid Gedhe Kauman mempunyai ciri-ciri unik diantaranya mempunyai gapura depan berbentuk semar tinandhu, di halaman depan terdapat sepasang bangunan pagongan untuk tempat gamelan sekaten, mustakanya dihiasi stiliran daun kluwih, di halaman terdapat pohon sawo kecik, dan masih mempunyai maksurah meskipun tidak difungsikan lagi. Sebagai suatu bangunan suci, komponen-komponen masjid Agung ada yang selain bersifat fungsional juga mempunyai aspek simbolik. Komponen tersebut misalnya atap yang bertumpang tiga dimaknai sebagai simbol Iman-Islam-Ihsan, dan atap tumpang yang menyatu di satu titik melambangkan keesaan Allah SWT.

              Didalam perjalanan sejarahnya Masjid Gedhe Kauman mengalami beberapa peristiwa, diantaranya gempa bumi besar yang merusakkan sebagian bangunannya, perbaikan-perbaikan, maupun penambahan dan pengurangan. Salah satu contoh perubahan itu adalah saat ini di sekeliling masjid (utara – timur – selatan) sudah tidak ada kolam sebagaimana kondisi awalnya.

              Masjid Gedhe Kauman sebagai masjid jami’ kerajaan mempunyai fungsi sebagai tempat beribadah, tempat upacara-upacara keagamaan, pusat syiar agama, dan tempat penegakan tata hukum keagamaan. Pagongan di halaman masjid – sisi utara untuk gamelan Kyai Nogowilogo dan selatan untuk Kyai Gunturmadu – berkaitan erat dengan fungsi masjid untuk upacara ritual keagamaan dan syiar agama, yaitu sekaten pada bulan Maulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Perlu diketahui bahwa selain dibunyikan gendhing-gendhing dalam upacara Sekaten juga diadakan grebeg dengan gunungannya yang prosesinya dimulai dari kraton dan diakhiri di lingkungan Masjid Gedhe. Perpaduan unsur seni-budaya untuk da’wah tersebut sudah berkembang sejak zaman kerajaan Demak pada abad ke-16 dan terus berlanjut samapi sekarang. Adapun penegakan hukum dimanifestasikan dengan pengadilan Surambi untuk urusan perdata, perkawinan dan warisan.

              Untuk  mengungkap masa pembangunan masjid, dan beberapa peristiwa yang terjadi pada Masjid Gedhe Kauman ada prasasti-prasasti dalam huruf dan bahasa Arab maupun Jawa di lingkungan masjid yang menceritakannya.

              Seluruh kompleks Masjid Gedhe dikelilingi oleh pagar tembok tinggi dan di sebelah utaranya terdapat Dalem Pengulon yaitu tempat tinggal serta kantor abdi dalem pengulu, serta di sebelah barat masjid ada beberapa makam, diantaranya makam Nyai Ahmad Dahlan. Abdi dalem pengulu inilah yang membawahi para abdi dalem bidang keagamaan lainnya, seperti abdi dalem pamethakan, suronoto, modin. Kawasan di sekitar masjid tersebut merupakan pemukiman para santri ataupun ulama. Pemukiman tersebut dikenal dengan nama Kauman, dan Suronatan. Dalam perjalanan historis Yogyakarta, kehidupan religius di kampung tersebut menjadi inspirasi dan tempat yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya gerakan keagamaan Muhammadiyah pada tahun 1912 M yang dipimpin oleh KH. A. Dahlan.

 

 
 
Statistik
00206146
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945