Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Sejarah
Sejarah Adikarto & Kulonprogo

Sambutan Dialog Kesejarahan 2014

Sejarah Kerajaan Mataram di Pleret

Sejarah kerajaan mataram di kerto

Yogyakarta Masa Kolonial

Pusaka Kraton Yogyakarta Dan Pura Pakualaman

Masjid Agung (Masjid Gedhe)

nDalem Pangeranan

Yogyakarta Kuno

Sejarah Makam Imogiri

Menyajikan data ke- 1-10 dari 21 data.
Halaman 1 2 3 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Yogyakarta Kuno
« Kembali

Tanggal artikel : 5 Maret 2014
Dibaca: 21132 kali

YOGYAKARTA KUNO

              Setelah Perjanjian Giyanti ditandatangani pada tahun 1755, maka Sultan Hamengku Buwana I untuk sementara tinggal di Pesanggrahan Ambarketawang sambil menunggu pembangunan kraton selesai. Tampaknya penyiapan lahan bukan untuk kraton saja, tetapi juga untuk komponen-komponen kota lainnya. Menurut sumber-sumber literer, semuanya itu, termasuk kraton, dibangun secara bertahap, misalnya : Prabayeksa dan Sitinggil Ler dibangun pada tahun 1769 M, gedhong Pulo Arga di Taman Sari tahun 1770 M, dan Masjid Agung didirikan tahun 1773 M. Pembangunan fisik kota Yogyakarta dan kraton berlangsung secara berkesinambungan, dan mencapai puncaknya pada masa pemmeerintahan Sultan hamengku Buwana VIII (1921 – 1939).

              Pada waktu itu tata fisik kota kesultanan Yogyakarta, terutama civic center-nya sudah mencapai bentuknya yang utuh. Di dalam lingkup tersebut tercakup komponen utama kota dan tata ruangnya yang berorientasi ke utara serta mengambil tempat diantara Sungai Code di timur dan sungai Winongo di barat. Komponen utama kota adalah : kraton dengan cepurinya, Alun-Alun Ler dan Kidul, Masjid Agung, benteng dengan jagangnya, pasar Beringharjo, Taman Sari, tugu (Pal Putih), Panggung Krapyak, jaringan jalan dan pemukiman penduduk yang tercermin dari berbagai toponim termasuk keberadaan dalem-dalem. Heterogenoitas penduduk kota Yogyakarta dari sisi profesi, lapisan sosial, serta etnisitas tampak dari toponim-toponim yang ada, misalnya : Gerjen (tempat para gerji yakni penjahit), Siliran (tempat abdi dalem petugas lampu), Gamelan (tempat abdi dalem pemelihara kuda), Mangkubumen (kediaman Pangeran Mangkubumi), Pugeran (kediaman Pangeran Puger), Pecinan (tempat komunitas Cina), Sayidan (tempat komunitas Arab).

              Mantapnya VOC sebagai penguasa di Yogyakarta tampak dari keberhasilan mereka “menyisipkan” ke civic center bangunan-bangunan yang mencerminkan kekuasaan, yaitu : kediaman dan kantor Residen, serta benteng Vredeburg. Selain itu ada pula bangunan-bangunan lain, diantaranya : rumah-rumah tinggal, tempat peribadatan, serta societit, yang semula dikhususkan bagi warga Belanda. Seiring dengan makin berkembangnya aktivitas dan jumlah warga Belanda di Yogyakarta, maka kebutuhan pemukiman bagi mereka juga berkembang. Oleh karena itu kemudian muncul pemukiman Belanda di Bintaran, Nieuwe Wijk (Kota Baru), Terban Taman (Cik Di Tiro), Jetis, dan sebagainya.

              Sementara itu pada awal abad XIX terbentuklah Kadipaten Paku Alaman yang pusat pemerintahannya berada di timur Sungai Code. Komponen civic cednternya mirip dengan yang di kesultanan, hanya skalanya lebih kecil, dan orientasinya ke selatan. Komponen tersebut adalah : Pura Pakualaman dengan cepurinya, Alun-Alun Sewandanan, masjid Paku Alaman, pasar, jaringan jalan, dan pemukiman penduduk beserta dalem-dalemnya pula.

 

 

Kraton Yogyakarta dan Alun-Alun


 

              Kraton berarti tempat kediaman raja, yaitu meliputi wilayah di dalam lingkup tembok cepuri, sedangkan istilah kedhaton digunakan untuk menyebut bagian paling dalam kraton, yakni Bangsal Kencana dan pelatarannya. Fisik kraton Yogyakarta ditata dalam tujuh bidang halaman, yang masing-masing dikelilingi tembok setinggi 5 m. ketujuh halaman itu ditata berderet, membentuk poros imajiner utara-selatan. Namun, di Kedhaton terbentuk poros imajiner yang mengarah timur-barat, mulai dari Kasatrian di timur memanjang ke barat sampai Keputren dan Kedhaton Kilen.

              Di tiap halaman terdapat bangunan-bangunan untuk memenuhi kebutuhan seremonial dan kebutuhan sehari-hari. Bangunan-bangunan tersebut antara lain adalah : Tratag Pagelaran, Trartag Sitinggil, Bangsal Witana, Bangsal Pancaniti, Bangsal Prabayeksa, Bangsal Kencana, Gedhong Jene, Langgar Panepen, Kedhaton Wetan, Bangsal Kemagangan dan Sasana Inggil Dwi Abad. Selain bangunan-bangunan tersebut, di lingkungan kraton juga terdapat regol-regol (pintu gerbang atau gapura) yang menghubungkan antar halaman diantaranya : Regol Gadhungmlathi, Regol Kemagangan, Regol Manikmaya, Regol Danapertapa, dan Regol Sri Manganti.

              Bangunan-bangunan di kraton Yogyakarta kaya dengan ornamen berupa ukiran, kaca putri dan representasi tiga dimensi. Ornamen-ornamen itu ada yang bersifat dekoratif saja, tetapi ada pula yang juga bersifat simbolik. Di antara ornamen-ornamen simbolik di kraton Yogyakarta yang terkenal adalah : prajacihna, yaitu lambang kerajaan berupa sepasang sayap, mahkota dan inisial HB dalam huruf Jawa; serta sêngkalan mêmêt, yaitu penanda waktu yang diwujudkan dalam komposisi gambar. Sêngkalan mêmêt di kraton Yogyakarta yang dikenal luas adalah “Dwi Naga Rasa Tunggal” berupa representasi tiga dimensi dua ekor naga yang saling berlilitan ekor. Sêngkalan mêmêt ini menggambarkan angka tahun 1682 J, yaitu kepindahan Sultan Hamengku Buwana I dari Ambarketawang ke kraton.

              Di dalam perjalanan sejarahnya, kraton Yogyakarta tidak berfungsi sebagai kediaman raja dan pusat pemerintahan kerajaan saja namun juga pernah berfungsi sebagai pusat perjuangan bangsa di tahun-tahun awal kemerdekaan Republik Indonesia. Fungsi lain yang pernah disandang kraton Yogyakarta adalah sebagai pusat pendidikan tinggi, yakni waktu bagian depan kraton, Pagelaran dan Sitinggil, dipinjamkan kepada Universitas Gadjah Mada pada dekade awal berdirinya.

              Berkaitan erat dengan kraton Yogyakarta adalah dua alun-alun, yakni Alun-Alun Ler dan Alun-Alun Kidul yang mengapit kraton. Alun-Alun Ler terletak di utara, atau dengan kata lain di depan kraton, sedang Alun-Alun Kidul terletak di selatan atau di belakang Kraton. Di tengah kedua alun-alun itu masing-masing terdapat sepasang pohon beringin yang dilingkupi pagar keliling, sehingga sering disebut Ringin Kurung. Pohon beringin yang di tengah alun-Alun Ler diberi nama Kyai Dewadaru, melambangkan persatuan antara Sultan dan Tuhan, dan Kyai Janadaru, melambangkan persatuan Sultan dan rakyat. Sekali dalam setahun ada upacara pemangkasan kedua pohon beringin tersebut. Perlu diketahui pula bahwa di tepi Alun-Alun Ler ditanam 63 pohon beringin melambangkan usia Nabi Muhammad SAW.

              Alun-Alun Ler berfungsi sebagai tempat untuk beberapa upacara  dan acara, seperti Sekaten, Grebeg dan dahulu juga untuk rampogan yaitu mengadu harimau melawan kerbau dengan para prajurit sebagai pagar betis. Adapun Alun-Alun Kidul digunakan untuk berlatih prajurit, serta berfungsi sebagai jalur prosesi dalam upacara pemakaman jenazah seorang sultan yang akan dimakamkan di Imogiri.

 

 

“Poros Imajiner” Panggung Krapyak – Kraton – Tugu


 

              Salah satu ciri khas kota Yogyakarta adalah pola tata rakit kota yang membujur dengan arah utara-selatan, dengan jalan-jalan yang mengarah ke penjuru mata angin serta berpotongan tegak lurus. Pola itu diperkuat dengan adanya suatu “poros imajiner” yang membentang dari arah utara menuju ke selatan, dengan kraton sebagai titik tengahnya. “Poros” itu diwujudkan dalam bentuk bangunan yaitu Tugu (Pal Putih) di utara, ke selatan berupa Jalan Margatama (Mangkubumi sekarang) dan Margamulya (Malioboro sekarang), kraton, Jalan D.I. Panjaitan, berakhir di Panggung Krapyak. Jika titik awal (Tugu) diteruskan ke utara akan sampai ke Gunung Merapi, sedang jika titik akhir (Panggung Krapyak) diteruskan akan sampai ke Lautan Indonesia. Secara simbolis filosofis, pola penataan wilayah ini melambangkan konsep hablun minallah – sangkan paraning dumadi, dan hablun minannas – manunggaling kawula – Gusti.

              Secara kultural poros Siti Hinggil – Tugu berfungsi arah berkonsentrasi apabila beliau sedang lenggah siniwoko di Siti Hinggil. Jalan poros keberadaan raja dalam menjalani proses kehidupannya, yang dilandasi manembah manekung (menyembah secara tulus) kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, dengan disertai satu tekad menuju kesejahteraan bersama rakyat (golong gilig). Golong-gilig ini diwujudkan dalam bentuk tugu yang dahulu bagian bawahnya berbentuk silindris (gilig), dan puncaknya berbentuk bulatan (golong). Tugu dalam bentuk tersebut runtuh akibat gempa bumi besar yang melanda Yogyakarta. Bentuk Tugu seperti sekarang ini adalah hasil renovasi pada masa HB VII pada tahun Sapar 1819 J (3 oktober 1889).

              Adapun titik selatan “poros imajiner” tersebut adalah Panggung Krapyak, yaitu sebuah bangunan berlantai dua yang sekarang berdiri di tengah perempatan di ujung jalan D.I. Panjaitan. Bangunan ini dahulu digunakan untuk krapyak tempat beristirahat bila sultan beserta keluarga dan para pengiring berburu di hutan perburuan, sekarang menjadi perkampungan.

 

 
 
Statistik
00193354
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945