Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Tokoh Seniman Budayawan
Mas Wedono Cermo Taryono

Saronto Degleng

Sugeng Handono, S.IP

Walidjo Pudjoatmosukarto

Wawang Sukoco Setyantoro

Djeno Harumbrodjo

Basiroen Hadisumarta alias M.W. Cermagupita

Sugito

Raden Susanto Gunoprawiro

Johni Gudel

Menyajikan data ke- 71-80 dari 108 data.
Halaman « 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (34)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Djeno Harumbrodjo
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 29774 kali

 


 

Laki-laki lahir di Sleman 8 Juni 1929, agama : Islam, Alamat rumah : Gotok Sumberagung, Moyudan, Sleman, Yogyakarta, Telp. 0822748548, No. HP. 08122731372, Pendidikan SD di Ngijon (1935 – 1941).

Empu keris ini lahir kira-kira tahun 1929 di desa Ngento-ento, Sumberagung, Moyudan, Sleman. Dalam sejarah kerajaan di Indonesia, empu keris memiliki kedudukan terhormat dan biasanya menjadi pegawai atau abdi dalem. Ayahnya, Si Supowinangun, adalah empu keris abdi dalem Kepatihan Yogyakarta.

Melihat silsilah Mbah Djeno termasuk pewaris keluarga empu secara turun-temurun dari mulai empu Ki Supadriyo jaman Majapahit. Ke-empuannya adalah proses panjang yang ditempuhnya sejak masa kecilnya. Sehabis pulang sekolah, Djeno biasanya membantu ayahnya membuat keris. Di sinilah Mbah Djeno mendapatkan pelajaran tentang keris dan proses pembuatannya. Kebiasaan ini menumbuhkan minat dan kecintaan dalam dirinya pada keris. Pada tahun 1963, ayahnya meninggal dunia. Saat itu ia mendapat firasat serta bermimpi membuat keris tiga kali bersama ayahnya. Baru tahun 1970 bersama kakaknya, Ki Empu Yoso Pangarso, ia akhirnya memutuskan kiprahnya sebagai pembuat keris di desa Jitar Sumberagung Moyudan Sleman 1990. kakaknya meninggal dunia.

Karya-karyanya diantaranya keris jenis jalak, jangkung, pendowo luk gangsal, sempana luk pitu, penimbal luk sanga, sabuk inten luk sewelas, parung sari luk telulas. Menurutnya masyarakat lebih banyak menyenangi baik untuk pusaka maupun koleksi adalah luk ganjil, itupun umumnya hanya sampai luk tiga belas. Karya-karyanya tersebut pernah diikutkan dalam even-even pameran, di Keraton Yogyakarta dalam pameran tahunan dari 1984-1988, Museum Sonobudoyo 1987, ISI tahun 1990 dan Pekan Raya Jakarta pada tahun 1990. Bersamaan dengan pameran kerisnya tahun 1983 dan 1987, ia pun menjadi nara sumber dalam sesi ceramah.

Sebagai upaya melestarikan tradisi keris yang sekarang tergolong sangat langka, Ki Empu Djeno Harumbrojo juga memberikan kursus-kursus kepada orang-orang di sekelilingnya, tak terkecuali keluarganya.

Atas keahliannya dan pengabdiannya pada pelestarian tradisi keris ini, Ki Djeno Harum Brojo mendapatkan beberapa penghargaan dari keraton Yogyakarta sebagai peserta pameran dari 1984-1988, piagam seni dari pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta 1985, dari Pemda Kabupaten Sleman tahun 1988.

 
 
Statistik
00221588
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945