Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Tokoh Seniman Budayawan
Mas Wedono Cermo Taryono

Saronto Degleng

Sugeng Handono, S.IP

Walidjo Pudjoatmosukarto

Wawang Sukoco Setyantoro

Djeno Harumbrodjo

Basiroen Hadisumarta alias M.W. Cermagupita

Sugito

Raden Susanto Gunoprawiro

Johni Gudel

Menyajikan data ke- 71-80 dari 108 data.
Halaman « 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (11)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (34)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (73)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (11)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Johni Gudel
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 33326 kali

 

 Johni Gudel Adalah tokoh pelawak Indonesia kelahiran kampung Rotowijayan 1920. Karir melawaknya bermula ketika masih ingusan, usia 8 tahun. Sebagaimana halnya anak-anak, ia gemar sekali dolan di sekitar keraton. Dengan demikian, pikirnya cita-cita menjadi abdi dalem lekas terwujud. Namun yang terjadi sebaliknya, naluri kesenianlah yang tergugah manakala menyaksikan tari-tarian, wayang, ketoprak, dan mendengarkan gendhing gamelan. Ketoprak lah yang paling mengusik minatnya. Dalam usia 8 tahun ia bergabung dengan kelompok ketoprak lesung di Tirtonaden yang setiap saat manggung di sekitar keraton. Karena masih bocah postur tubuhnya terasa karikatural jika memerankan seorang tokoh.

Akibatnya permainan menjadi sarat dengan lelucon. Ia pun semain terbenam dalam kesenian, khususnya ketoprak dan seni lawak.

Setelah puas di ketoprak lesung, ia bergabung dengan ketoprak profesional Mardi Wandowo yang cukup beken saat itu. Di dalamnya ada Basiyo, Rukuman, Harjo Lancip. Dari lingkungan ini kehadirannya sebagai pelawak kian kokoh. Kota-kota di Jawa dijelajahinya. Saat manggung di Tegal, Teguh pimpinan Srimulat menghubunginya dan mengajaknya bergabung. Karena ingin kaya pengalaman, Mujio pun menerimanya dan segera pergi ke Surabaya. Bergabung dengan Srimulat memberi kesempatan luas baginya untuk manggung di Tim Jakarta. Namanya kian menanjak sejajar dengan S. Bagio, Kwartet Jaya.

1975 ditinggalkannya Srimulat, yang berarti berpisah dengan kawan-kawan seangkatannya Benny, Bondan, Paimo, Brontoyudo dan Eddy Geyol. Bersama dengan Suroto, Sumiati, Rus Pentil, Karjo ACDC, bergabung dalam Ria Jaya Johni Gudel yang mangkal di Jakarta. Grup ini bubar dan melahirkan PALAPA GRUP dan ATMONADI GRUP.

 

Sebagai seorang pelawak yang tenar, banyak produser memanfaatkan kepopulerannya. 1976-78 Gudel ikut membintangi serial ATENG dibawah sutradara Hasmanan, lahirnya Gathotkaca, Buah Bibir, Walang Kekek, dan Mayat Cemburu. Dua terakhir diproduksi oleh Srimulat. Tapi keadaan Atmonadi yang senantiasa digoda penyakit, grup jadi lesu dan Gudel pun kembali ke Jogja. Di kota kelahirannya, Gudel main kembali dengan Yanto putra Atmonadi, Hardo dan Nining. Selain main di TVRI Gudel berani grupnya main pula di Samarinda, Balikpapan, Palembang, Bangka, Bali dan seluruh pelosok Jawa. Terakhir manggung di TVRI, tampil monolog karena kondisi fisiknya tidak mengijinkan. Piagam pernah diterimanya sebagai pemain terbaik dari kepala THR Surabaya tahun 1986.

 

 
 
Statistik
00221575
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945