Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Sultan HB X Berbicara Ngoko, Ini Reaksi Peserta Javanese Diaspora

#BeraniGundul

Lautan Jilbab

FestivalJomblo

Pemuitaran Film Siti

Unguarded Guards

Festival Sholawat 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Sleman

Festival Adiluhung Kabupaten Bantul

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Menyajikan data ke- 1-10 dari 72 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Perkumpulan Ketoprak
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 75092 kali

Krida Madya Utama, Perkumpulan Ketoprak.

       Pada permulaan tahun 1925 seorang bekas pemain ketoprak sambeng bernama Ki Jagat Trunarsa mendirikan perkumpulan ketoprak baru bernama Krida Madya Utama. Disamping sebagai pendiri iapun  bertindak sebagai pemimpin merangkap dalang (sutradara) dari ketoprak tersebut. Krida Madya Utama telah mengambil bentuk baru dalam organisasi. Usaha yang dilakukan yaitu dengan memburu penggemar atau memperluas masyarakat penggemar ketoptrak. Krida Madya Utama melakukan pertunjukan kelilling sehingga akhirnya sampai di desa Demangan, yang merupakan titik tolak perkembagan ketoprak daerah Yogyakarta. Namun perkumpulan ketoprak Krida Madya Utama tidak bertahan lama, akhirnya bubar.

 

Ketoprak Pendapan.

        Pertunjukan ketoprak yang mengambil tempat di Pendapa. Pada sekitar tahun 1920 an sebagian besar pertunjukkan ketoprak di Yogyakarta banyak mengambil tempat di Pendapa dalem priyayi, misalnya : dalem Jayanegaran Kertanaden, Mangkukusuman, dan lainnya. Diantara perkumpulan ketoprak yang menonjol pada waktu itu antara lain : ketoprak Langen Muda di Kertananden, ketoprak Yudonegaran, ketoprak Condrodiprajan Ngasem, dan ketoprak beksa Madya di Jaganegaran.

 

Ketoprak Gamelan.

        Babakan waktu periode pergantian alat iringan lesung keiringan gamelan dalam pertunjukan ketoprak. Bagi golongan Priyayi iringan gamelan untuk pertunjukan ketoprak lebih mudah dirasakan keindahannya daripada bunyi lesung yang monoton.Kiranya inilah yang menyebabkan mengapa pertunjukan ketoprak dengan iringan gamelan mudah mendapat bantuan dikalangan sementara bangsawan di Kota Yogyakarta. Babakan waktu ketoprak gamelan terjadi pada tahun 1927.

        Gamelan yang digunakan dengan slendro dan pelog serta keprak. Cerita-cerita yang dimainkan oleh ketoprak gamelan tidak hanya terbatas pada cerita rakyat, babad, sejarah, cerita panji, cerita mitos, fabel, legenda. Cerita luar negeri seperti dari Turki, Irak, Dunia Arab umumnya, India, Kamboja, Cina serta dari Eropa dan cerita dari Sumatera, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Maluku, cerita wayang kulitpun sudah masuk dalam ketoprak dari episode Mahabarata atau Ramayana, bahkan cerita fiktif dari buku-buku atau film telah masuk dalam ketoprak.

        Bahasa sebagai alat dialog menggunakan bahasa Jawa baku dengan empat ragam :

1.       Krama Inggil (halus dan tinggi) untuk tokoh-tokoh raja, permaisuri, selir, pangeran, patih, tumenggung dan para kerabat serta abdi dalem (punggawa) istana.

2.       Krama Madya (halus dan sedang) digunakan dikalangan para priyayi (bangsawan biasa).

3.       Krama desa (halus dan desa) biasanya dipakai peran-peran Desa.

4.       Ngoko (kasar) dipakai peran-peran antara bangsawan terhadap orang biasa, terutama yang mempunyai hubungan erat.

 

Budi Langen Wanadya, Perkumpulan ketoprak.

        Pada mulanya merupakan perkumpulan wayang orang dengan nama yang sama. Keistimewaan dari perkumpulan ketoprak ini ialah bahwa pemainnya adalah wanita. Ketoprak ini pernah mengadakan pertunjukkan di dalam perayaan sekaten di Alun-alun Utara Yogyakarta, pada tahun 1928. setelah itu pernah pula mengadakan pertunjukkan di kampung Patuk, dalam kota Yogykarta. Gejala baru muncul dalam ketoprak ini, karena iringannya tidak menggunakan lesung atau gamelan, tetapi alat musik barat yang waktu itu oleh masyarakat disebut iringan orkes. Perkumpulan ketoprak ini telah mengadakan pertunjukkan keliling seperti : Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Jember dan kota-kota Jawa Timur lainnya.Pengaruh perkumpulan ketoprak yang mengadakan pertunjukan keliling ini adalah berdirinya Ketoprak kampung NgadiwinatanYogyakarta yang dipimpin oleh Wangsaprana, bekas anggota perkumpulan ketoprak Sri Madya dari kampung Gamblak atas Yogyakarta. Ketoprak ini menggunakan gamelan sebagai iringan, sedang pakain yang dipakai bercorak mesiran.

 

Krida Muda Yogyakarta, Perkumpulan Ketoprak.

        Berasal dari kampung Cakradiningratan di bawah pimpinan Mangunsarjana, sedang sebagai dhalang adalah Ki Prawirasa, seorang bekas pemain wayang wong Surakarta. Berdiri pada tahun 1929. Mulai diadakan pembaharuan dalam iringan, dengan alat gamelan yang semakin lengkap. Ketoprak dipergunakan sebagai pengganti kentongan yang dipergunakan untuk memberi tanda-tanda pada permainan. Penyanyi (waranggana) yang menyertai iringan gamelan mulai diadakan dengan waranggana pertama dari krida muda ialah Nyi Sulanjari, alias Nyi Ja’iyah.

        Sejak pementasan pertama di Kertanaden, Krida Muda telah menggunakan panggung (dikalangan seniman ketoprak disebuit tobong).dengan penggunaan panggung terjadilah perubahan dalam teknik permainan. Apabila di dalam ketoprak pendopo penonton dapat menyaksikan pertunjukkan dari segala arah penjuru, maka di ketoprak panggung penonton hanya dapat menyaksikan dari arah depan.

        Untuk tidak mengecewakan penonton berbagai usaha penyempurnaan dilakukan. Pertunjukkan ekstra sebelum pertunjukkan ketoprak yang sesungguhnya mulai lebih diperhatikan, terutama dagelan ekstra yang di dalam Ketoprak Krida Muda oleh pelawak Kramaijab, Basiya, dan lainnya. Dagelan ekstra yang dikembangkan oleh perkumpulan Ketoprak Krida Muda mendapat julukan khusus yaitu dagelan Mataram.

 

Mardi Wandawa, Perkumpulan Ketoprak.

        Berdiri pada tahun 1932 di bawah pimpinan Somasilam dengan dhalang Pawirabuang dan Atmasuripta. Ketoprak ini telah menggunakan pemain wanita untuk peranan wanita. Pemain wanita tersebut antara lain : Nyi Tohirah. Munculnya perkumpulan ketoprak ini telah membawa perubahan, perbaikan-perbaikan dibidang teknik panggung dilakukan, seperti pengaturan dekorasi, tata lampu dan lain-lain. Perubahan yang cukup penting lainnya adalah pengurangan unsur tari dalam pertunjukkan, sehingga waktu lebih banyak digunakan untuk memperlancar jalan cerita. Disamping itu penambahan cerita dalam pertunjukkan untuk membuat penonton tidak bosan.

        Ketoprak Mardi Wandawa untuk pertama kali pentas di Wetan Beteng Yogyakarta, di dalam gedung yang khusus dibangun untuk pertunjukkan itu. Perkumpulan ketoprak ini pada tahun 1937 mengadakan pentas keliling kedaerah-daerah antara lain ke Jakarta dan terakhir ke Purworejo.

 

 

 

 
 
Statistik
00193321
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945