Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Sultan HB X Berbicara Ngoko, Ini Reaksi Peserta Javanese Diaspora

#BeraniGundul

Lautan Jilbab

FestivalJomblo

Pemuitaran Film Siti

Unguarded Guards

Festival Sholawat 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Sleman

Festival Adiluhung Kabupaten Bantul

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Menyajikan data ke- 1-10 dari 72 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Lakon- Lakon Wayang Wong Gaya Yogyakarta
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 55236 kali

Ramayana.

      Epos ceritera yang berasal dari India . Ceritera Ramayana terpahat pada relief-relief batu di Candi Lara Jonggrang dari abad ke 9. Satu seri Ramayana terpahat indah sekali pada sisi dalam dinding bolustrade dari candi siwa, dan dilanjutkan pada Brahma di sebelah selatan candi siwa di kompleks candi Lara  Jonggrang. Tema utama dari Ramayana adalah pembinasaan raja raksana Rahwana yang jahat dari Alengka oleh Rama, ikarnasi dari dewa Wisnu. Epos klasik Ramayana ini menjadi tema utama dari drama tari gaya Yogyakarta yaitu wayang wong dan langen mandra wanara. Epos Ramayana ini baru dipergelarkan dalam pertunjukan wayang wong pada tengah pertama abad ke 20 (tahun 1933). Perkembangan terakhir dari drama tari Ramayana gaya Yogyakarta ialah drama tari yang tidak berdialog yang disebut sendratari, yang beru muncul sesudah tahun 1961.

 

Mahabarata.

      Epos klasik dari India yang menceritakan tentang konflik tragis antara dua keluarga  keturunan Bharata, yaitu para Pendawa dan Korawa. Epos klasik Mahabarata ini menjadi tema utama gaya Yogyakarta terutama wayang wong.

 

Calon Arang.

      Ceritera semi sejarah walaupun kenyataannya nama Calon Arang tidak terdapat dalam sejarah. Latar belakang dari ceritera ini adalah sebuah peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Raja Airlangga dari Kahuripan Jawa Timur pada awal abad ke-11.

 

Roman Panji.

      Menurut Robson, roman tentang panji Jawa tidak terdapat dalam kakawin atau bentuk prosa Jawa kuno, tetapi hanya dalam bentuk kidung, baik dalam bentuk puisi tengahan (Jawa tengahan) atau macapat (puisi Jawa modern) . Roman Panji bernafas Jawa baik dalam bentuk maupun inspirasinya. Walaupun banyak versi dan Roman Panji seperti serat Kondha, Angroh Akung Jaya Kusuma, Panji Semirong, panji Angreni, Pani Kuda Narawangsa, serta Panji dan tradisi lisan, tetapi versi-versi itu memiliki plot yang sama.

 

Jayapusaka, Lakon

      Lakon dalam pertunjukan wayang wong dan merupakan satu lakon terpendek berlangsung selama satu hari di istana Yogyakarta tahun 1929. Lakon Jaya Pusaka adalah sebuah carangan dari wiracaritera Mahabarata. Lakon ini menggambarkan ceritera tentang Werkudara saudara kedua dari para Pandawa, yang menobatkan dirinya sendiri sebagai raja besar dari Jodipati. Ia merencanakan untuk menundukan semua raja di dunia. Untuk maksud ini ia mengirim utusan-utusan ke segala penjuru untuk meminta penyerahan diri mereka. Werkudara menyebut dirinya sebagai Raja Jayapusaka. Ia sangat sakti karena Sang yang wenang, dewa tertinggi, merasuk ketubuhnya.

 

Pragolamurti, Lakon.

      Lakon dalam pertunjukan wayang wong di istana Yogyakarta, lakon ini merupakan carangan dari Wiracarita Mahabarata yang menggambarkan seorang pertapa tua bernama Begawan Pragolamurti, yang jatuh cinta kepada Siti Sendari putri Kresna. Tiga orang pelamar lainnya yaitu Leksmana Dakumara ( putra Duryudana), Raja Athasura, dan Angkawijaya yang mendambakan sang putri. Akhirnya Angkawijayalah yang memenangkan sayembara dan Siti Sundari menjadi calon pengantinnya.

 

Pregiwa-Pregiwati, Lakon.

      Suatu lakon drama tari gaya Yogyakarta. Lakon ini merupakan lakon carangan dari Wiracarita Mahabarata menggambarkan pengembaraan dua orang putri kembar Arjuna yang berna Endang Pregiwa dan Endang Pregiwati yang kemudian menjadi dua orang patah (pelengkap dari upacara pernikahan). Lakon ini mencakup tiga buah episode : pertama  penggambaran kedua putri kembar itu dalam upaya untuk mencari ayah mereka yaitu Arjuna; kedua, pernikahan Angkawijaya dengan Siti Sundari; dan ketiga pernikahan antara Pancawala putra Yudistira dengan Pregiwati. Lakon ini juga menceritakan kisah cinta antara Gathutkaca dengan Pregiwa, serta Bambang Irawan dengan Dewi Titisari (putri yang lain dari Kresna).

 

Sri Suwela, Lakon.

      Suatu lakon drama tari gaya Yogyakarta. Lakon ini merupakan alah satu lakon pertunjukan wayang wong terpanjang berlangsung selama empat hari di istana Yogyakarta pada tahun 1923. Lakon ini adalah sebuah carangan yang menggambarkan cerita tentang Dewi Persalawati, isteri pertama Werkudara , yang mencari suaminya dengan menyamar sebagai Raja dari Parangretna bernama Sri Suwela.

 

Partakrama, Lakon.

      Suatu lakon drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta. Lakon Partakrama atau perkawinan Arjuna yang menggambarkan perkawinan Arjuna (Parta) dengan Dewi Wara Sumbadra, adik perempuan Prabu Kresna. Namun demikian Arjuna beserta para saudara Pandhawa harus menghadapi dua pelamar lain yaitu Burisrawa, saudara ipar Prabu Suyudana dan Prabu Baladewa. Serta Prabu Surya Wasesa dari Ngendracana. Lakon ini berakhir dengan peperangan Pandhawa melawan  Prabu Suryowasesa. Dalam kedua perang itu para Pandhawa keluar sebagai pemenang.

 

Srikandi Meguru Manah. Lakon.

      Salah satu lakon dalam drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta. Lakon Srikandi Meguru Manah atau Srikandi jemparingan yang berarti Srikandi belajar memanah adalah sebuah carangan yang menceritakan tentang hilangnya Srikandhi dari Cempala. Ayahnya yaitu Prabu Drupada sangat cemas tentang nasib puterinya ini. Dalam lakon Partakrama direritakan bahwa Srikandhi tak tahan menyaksikan Arjuna yang tampan saat meninggalkan perayaan perkawinan. Alasan Srikandhi meninggalkan Cempala adalah untuk bisa bertemu dengan ksatria idamannya yaitu Arjuna dengan mengikuti pelajaran memanah dari sang ksatria. Setelah menjalankan pengekangan diri ia menerima nasehat dari Bhatara Guru, yang menceritakan kepadanya  bahwa untuk dapat menikah dengan Arjuna ia harus menyamar sebagai seorang raksasa dengan memasuki tubuh Prabu Kandhehawa yang telah mati.

 

Sumbadra Larung, Lakon.

                      Merupakan salah satu lakon dalam drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta. Lakon Sembrada Larung atau Sumbadra jatuh di jurang adalah sebuah carangan tentang  penculikan Sumbadra oleh seorang Raja dari seberang, Prabu Jathayeksa. Burisrawa yang jatuh cinti kepada Sumbadra berusaha mendapatkannya dari sang raja, tetapi keduanya tak berhasil, karena sang putri melarikan diri dari mereka, celakanya ia jatuh ke sebuah jurang yang sangat dalam, Antereja, Putra Werkudara yang lahir dari isterinya yang pertama Pertalawati, mendapatkan Sumbadra ketika ia sedang mencari ayahnya. Dalam pertunjukan wayang kulit lakon ini juga dikenal sebagai lakon Antareja takon bapa atau “Antareja mencari sang Ayah” cerita ini berakhir dengan pertemuan antara  Sumbadra dengan Arjuna.

 

Semar Boyong, Lakon.

        Salah satu lakon dalam drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta. Lakon Semar Boyong atau “penculikan Semar” merupakan cerita carangan yang di dalamnya dijumpai sebuah kombinasi dari cerita yang berasal dari Mahabarata dan Ramayana. Lakon ini mengenai kerajaan Pancawatidhendha pada masa kerajaan mengalami masa kemiskinan.  Satu-satunya sarana untuk meningkatkan kemakmuran negara adalah memiliki Semar, abdi penasehat yang paling setia dari para Pandhawa. Ceritera itu juga meramalkan, bahwa barang siapa bisa memilik Semar, yang sebenarnya adalah Dewa Ismaya, kerajaannya akan makmur maka sebuah perang segitiga terjadi antara para Pandhawa, kerajaan Pancawatidhendha, serta para Korawa. Pandhawalah yang keluar sebagai pemenangnya.

 

Rama Nitik, Lakon.

                      Salah satu lakon dalam drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta. Lakon Rama Nitik atau “Rama Mencuri Tokoh untuk Merintis” adalah sebuah carangan yang mengambil cerita Ramayana, yang sebenarnya masih merupakan kombinasi antara Ramayana dan Mahabarata. Lakon ini menceritakan tentang Prabu Ramawijaya yang mencari siapa tempat ia bisa merintis (tempat berinkarnasi), yaitu Prabu Kresna. Untuk membantu pencariannya ia melamar Dewi Wara Drupadi, istri Yudistira. Lakon ini merupakan kelanjutan dari lakon Semar Boyong.

 

Rama Nitis, Lakon.

                      Merupakan salah satu lakon drama tari (wayang wong) gaya Yogyakarta yang mengambil cerita Ramayana, yang sebenarnya masih merupakan kombinasi antara Ramayana dan Mahabarata. Lakon Rama Nitis atau “Reinkarnasi Rama” menggambarkan reinkarnasi Rama ketubuh Kresna. Lakon ini merupakan kelanjutan dari Rama Nitik. Persaingan yang khas untuk mendapatkan putri juga ditampilkan dalam lakon ini. Istri Prabu Barata yaitu Dewi Antrakawulan menawarkan sebuah sayembara, bahwa ia hanya akan mencintai ksatria yang dapat menebak teka tekinya.Empat orang peserta sayembara tampil dalam kompetisi itu, dan Leksmana keluar sebagai pemenang. Namun demikian sebenarnya keikut sertaannya dalam sayembara itu adalah atas nama Barata, hingga Antrakawulan bisa dipertemukan kembali dengan suaminya. Lakon ini berakhir dengan reinkarnasi Prabu Rama ke dalam Prabu Kresna.

 

Arjuna Wiwaha.

                      Puisi Jawa kuno (kakawin) dari Jawa Timur tertua dari abad ke 11. Karya sastra Jawa kuno yang bebrbentuk kakawin ini digubah oleh Mpu Kanwa pada zaman pemerintahan Airlangga. Karya ini bersumber pada bagian ketiga dari Mahabarata yang disebut Wanaparwa. Kakawin ini menceritakan tentang Arjuna yang bertapa di Indrakila. Pada waktu bertapa, datanglah para Dewa untuk minta tolong membunuh raja raksasa bernama Nirwatakawaca yang menyerang  tempat para dewa, karena ditolak permohonannya memperistri dewi Supraba putri Dewi Indra. Atas keberhasilan nya, Arjuna dikawinkan dengan ketujuh Bidadari dan dinobatkan bagaikan seorang raja diatas tahta Dewa Indra selama tujuh hari.

 
 
Statistik
00199212
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945