Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : kraton
Begawan Ciptoning Mintorogo

Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

Pusaka Kraton Yogyakarta Dan Pura Pakualaman

Makna Benda Di lingkungan Kraton Yogyakarta

Tokoh-tokoh, tempat-tempat dan Sesajen Upacara Adat Kraton Yogyakarta

Benda-Benda Perlengkapan Upacara Adat Kraton Yogyakarta

Filosofi dan Nilai Budaya Keraton Yogyakarta

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

B.P.H. Suryodiningrat

Raden Wedono Larassumbogo

Menyajikan data ke- 1-10 dari 22 data.
Halaman 1 2 3 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Tokoh-tokoh, tempat-tempat dan Sesajen Upacara Adat Kraton Yogyakarta
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 159987 kali

Jegod, Kiai. Roh halus penunggu Bangsal Prabayaksa. Pada saat Sugengan plataran, Kiai Jegod diberi sesaji khusus. Sesaji tersebut terdiri dari satu botol Jenewer dan satu botol legen. Di samping itu, pada saka guru Bangsal Kencana dan bangsal Prabayaksa diletakkan tumpeng pustaka dan tumpeng woran.

Joyudo, Kiai.  Roh halus penguasa Sungai Winongo. Pada saat sugengan plataran Kiai Joyudo juga diberi sesaji tersendiri. Sesaji tersebut terdiri dari satu tube candu, roti, beberapa batang rokok, minuman kopi tanpa gula, juadah, mata uang logam yang diberi warna putih dengan menggunakan kapur, dan seekor ayam yang masih hidup.

Tumpeng Pustaka. Tumpeng untuk keperluan sesaji. Tumpeng ini berupa nasi putih yang dibentuk tumpeng biasa, kemudian diberi lombok, brambang atau bawang merah dan terasi, dan lombok ditusukkan dengan satu batang lidi, kemudian rangkaian tersebut ditancapkan di pucuk tumpeng.

Tumpeng Woran. Tumpeng yang berwarna. Tumpeng Woran berfungsi untuk keperluan sesaji.  

Panjenengan. Istilah yang digunakan di keraton Yogyakarta untuk menyebut logam, yang terdiri dari emas, perak, dan tembaga. Ketiga logam tersebut semuanya berukuran sama dengan tinggi badan Sri Sultan.

Hajad Dalem. Sebutan untuk semua perlengkapan dalam sugengan plataran. Khusus pada Labuhan Ageng tahun Dal, perlengkapan Sugengan Plataran ini ditambah dengan bumbu tumbuk.

Pecel Pitik. Ayam goreng yang diberi bumbu lombok, bawang, kencur, dan santan kental. Pecel pitik  merupakan hidangan untuk perlengkapan sesaji.

Jangan Menir. Sayur yang bahan bakunya terdiri dari bayam, jagung muda, dan daun kemangi. Sayur ini hanya diberi bumbu gula, garam, dan kunci. Jangan Menir biasanya digunakan untuk perlengkapan hidangan sesaji.

Dhahar Punar. Nasi kuning yang diberi lauk abon, kacang goreng, tempe, irisan buah ketimun, sambal goreng, thontho, kedelai dan ditambah dengan telur dadar yang diiris-iris tipis. Dhahar punar  digunakan sebagai hidangan sesaji.

Dhahar Gebuli.  Nasi yang diberi bumbu bawang, kemiri, merica, cengkeh, manis jangan, cabai, kecap, dan garam. Setelah nasi masak, diberi lauk brambang goreng, jeroan, dan daging ayam yang digoreng. Dhahar gebuli ini dibuat untuk pelengkap hidangan sesaji.

Tumpeng Megana.  Tumpeng biasa dari nasi putih yang dilengkapi dengan megana.

Tumpeng Kendhit. Tumpeng biasa dari nasi putih, kemudian pada bagian tengah tumpeng diberi garis melingkar dengan warna hitam.

Tumpeng Urubing Dhamar. Tumpeng biasa dari nasi putih, kemudian pada puncak tumpeng tersebut diletakkan nyala api. Tumpeng ini dibuat untuk keperluan sesaji.

Tumpeng Dhuplak. Tumpeng dari nasi putih, yang pada bagian puncaknya dibuat cekung sehingga menyerupai lubang kepundan gunung. Cara membuat tumpeng ini, pada puncak tumpeng tersebut diletakkan sebutir telur, kemudian telur diambil lagi, maka bekas tempat meletakkan telur tadi akan membentuk sebuah cekungan. Tumpeng ini dibuat untuk keperluan sesaji.

Tumpeng Ropoh. Tumpeng dari nasi putih, kemudian diberi lauk, dan pada lauk tersebut ditambah dengan bunga. Tumpeng ini dibuat untuk keperluan sesaji.

Cething Sumbul. Cething atau tempat nasi yang terbuat dari anyaman bambu. Untuk keperluan upacara Sugengan Plataran, cething sumbul diberi tutup. Cething yang digunakan sebanyak dua buah. Cething pertama diisi dengan sepuluh butir telur ayam yang dimasak pindang, kemudian cething kedua diisi dengan ketan salak atau wajik sebanyak dua puluh lima glinding.

Bumbu Tumbuk. Srundeng yang ditumbuk. Bumbu tumbuk ini fungsinya digunakan sebagai pengganti bumbu megana.

Tumpeng Sewu. Tumpeng biasa yang ditancapi lidi. Pada ujung lidi itu diletakkan bawang merah dan cabai merah. Tumpeng Sewu yang digunakan dalam upacara Sugengan Plataran sebanyak seratus cekethong (tempat nasi dari daun pisang yang dibentuk seperti mangkok).

Tumpeng Yuswa. Sebuah tumpeng besar yang dikelilingi dengan tumpeng-tumpeng kecil. Yuswa berarti umur atau usia, sehingga jumlah tumpeng-tumpeng kecil yang mengelilingi tumpeng besar tersebut disesuaikan dengan usia Sri Sultan yang dihitung dengan tarikh Jawa. Tumpeng Yuswa digunakan dalam upacara Tingalan Dalem (ulang tahun Sri Sultan).

Tumpeng Saka Guru. Tumpeng yang digunakan untuk sajian Sugengan Plataran. Jumlah yang dibuat adalah empat buah pasang. Tumpeng yang dua pasang dilengkapi dengan lauk yang digoreng, sedang tumpeng yang dua pasang lainnya dilengkapi dengan megana.

Sajen Buangan. Sesaji yang khusus untuk diletakkan pada tempat-tempat tertentu. Di dalam keraton dibuat sebanyak lima puluh ancak bambu Sajen Buangan, untuk pawon saka langgen (dapur keraton sebelah timur) dan pawon Gebulen (dapur pawon sebelah barat) dibuatkan masing-masing lima belas ancak debog (pelepah pisang) Sajen Buangan, sedangkan untuk dapur di dalam keraton disediakan lima belas ancak bambu.

              Tempat-tempat di luar keraton yang diberi sajen buangan misalnya; kamar mandi, sumur, di tengah-tengah alun-alun utara dan alun-alun selatan, di bawah pintu gerbang Tamansari, di setiap perempatan jalan antara Tugu hingga Keraton dan antara Keraton hingga Krapyak. Disamping itu ada lagi sajian khusus yang diletakkan di dalam empat buah ancak besar. Keempat ancak ini masing-masing diletakkan di Tugu, Krapyak, Plengkung Madyasura, dan Sungai Winongo. Semua sesaji ini sudah dipersiapkan tiga hari menjelang upacara tinggalan dalem (ulang tahun Sri Sultan).

Sanggan. Sajian untuk upacara-upacara tradisional Jawa, biasanya digunakan untuk upacara labuhan dan upacara perkawinan. Sanggan untuk upacara labuhan berupa dua lirang pisang raja, perlengkapan untuk makan sirih (kinang), sekar abon-abon (terdiri dari bunga mawar, melati serta kenanga), kemudian ditambah dengan serbuk kayu cendana.

Pala gumantung. Hasil pertanian, yang posisi buahnya menggantung pada pohonnya, misalnya padi, jagung, kelapa, pepaya, pisang dan buah-buahan sejenis lainnya.

Pala kependhem. Hasil pertanian, yang posisi buahnya tertanam di dalam tanah (kependhem), misalnya ubi jalar, ketela pohon, gadung, kentang dan lain-lain.

Pala Kesimpar. Tanaman yang posisi buahnya berada di atas permukaan tanah sehingga buah tersebut tersentuh (kesimpar) kaki orang, misalnya buah ketimun, semangka, waluh, dan lain-lain.

Kenaka. Sebutan penghormatan yang bersifat meninggikan untuk menyebut kuku Sri Sultan. Kenaka merupakan salah satu benda labuhan. Selama satu tahun, potongan kuku Sri Sultan dikumpulkan untuk dilabuh bersama perlengkapan lainnya pada saat upacara labuhan.

Rikma. Sebutan penghormatan yang bersifat meninggikan untuk menyebut rambut Sri Sultan. Rikma merupakan salah satu benda labuhan. Selama satu tahun, potongan rambut Sri Sultan dikumpulkan untuk dilabuh bersama perlengkapan lainnya pada saat upacara labuhan.

Songsong. Satu sebutan penghormatan yang bersifat meninggikan untuk menyebut benda milik Sri Sultan yang berupa payung. Dalam upacara labuhan Keraton Yogyakarta, sebuah payung (songsong) bekas milik Sri Sultan diikut-sertakan juga sebagai benda labuhan.

Sekar Layon. Disebut juga layon sekar, bunga bekas sajian pusaka-pusaka keraton yang telah layu dan kering. Bunga-bunga tersebut dikumpulkan selama satu tahun untuk disertakan dalam upacara labuhan sebagai benda labuhan.

              Sekar layon dibedakan atas dua macam, yaitu sekar layon yang khusus dari bekas sajian pusaka Kanjeng Kiai Ageng Plered, dan sekar layon yang berasal dari bekas pusaka-pusaka yang lain. Sekar layon yang pertama, walaupun jumlahnya hanya sedikit, tetap dalam tempat tersendiri berupa petadhahan. Sedangkan sekar layon kedua jumlahnya cukup banyak, dan dimasukkan ke dalam karung bagor.

Parangkusuma. Pantai Samudra Indonesia yang terletak di Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Parangkusuma merupakan tempat pertemuan pertama kali antara Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Parangkusuma juga mrupakan pintu gerbang bagi Penembahan Senopati jika akan bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul di kerajaan dasar laut. Parangkusuma dipilih sebagai salah satu tempat labuhan karena Parangkusuma merupakan tempat penting bagi Panembahan Senopati dan Raja-raja lainnya.

Tunggul Wulung. Nama seekor ikan yang menawarkan jasa baiknya kepada Panembahan Senopati. Pada waktu itu Panembahan Senopati sedang bertapa di muara Sungai Opak yang terletak di pantai Parangkusuma. Tunggul wulung menawarkan kepada Panembahan Senopati untuk mengantarnya sampai ke dasar laut. Panembahan Senopati menolak tawaran Tunggul wulung tersebut. Panembahan Senopati memerintahkan Tunggul wulung untuk menepi, kemudian Panembahan Senopati melanjutkan bertapa diatas Sela Gilang dengan memejamkan mata, melipat tangannya dan menyebut-nyebut nama Tuhan. Seketika itu juga terjadi angin taufan besar, pohon-pohon tumbang, air laut mendidih, ikan-ikan terlempar dan mati. Kemudian Kanjeng Ratu Kidul segera muncul dari dalam laut untuk menghadap panembahan Senopati di Parangkusuma. Terjadi perundingan antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul, dan Kanjeng Ratu Kidul sepakat untuk memberi bantuan kepada Panembahan Senopati dalam menjaga keamanan dan keselamatan seluruh Kerajaan Mataram. Dan sebagai imbalannya, Panembahan Senopati dan anak keturunannya harus memberikan persembahan kepada Kanjeng Ratu Kidul yang diwujudkan dalam upacara labuhan.

Nawang Wulan. Nama seorang bidadari Kahyangan yang menjadi istri Jaka Tarub. Namun karena suatu hal, Nawang Wulan harus meninggalkan Jaka Tarub untuk kembali ke Kahyangan. Pada waktu Nawang Wulan bermaksud kembali ke Kahyangan, ia ditolak oleh para bidadari lainnya karena telah menikah dengan seorang manusia dan mempunyai anak. Dengan terpaksa Nawang Wulan meninggalkan Kahyangan dan pergi tanpa tujuan. Di suatu saat dan tempat Nawang Wulang bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul. Ia memutuskan untuk mengabdi kepada Kanjeng Ratu Kidul, karena ia tidak mungkin kembali lagi ke dunia atau ke kahyangan. Kemudian nawang Wulan diangkat sebagai patih Kanjeng Ratu Kidul dengan gelar Nyai Riya Kidul.

Ratu Kidul, Kanjeng. Penguasa lautan sepanjang Pulau Jawa Bagian Selatan. Menurut legenda, Kanjeng Ratu Kidul adalah penjelmaaan dari Ratna Suwidi, salah satu putri raja Pajajaran yang bernama Prabu Mundingsari. Ratna Suwidi sangat mementingkan kehidupan kerohanian sehingga ia selalu bertapa. Hal ini membuat ayahnya prihatin dan murka karena Ratna Suwidi menolak untuk dinikahkan, padahal sudah banyak pangeran dan raja yang datang melamarnya. Akhirnya Ratna Suwidi diusir dari istana Pajajaran. Kemudian Ratna Suwidi mengembara sendirian hingga sampai di Gunung Kombang untuk bertapa.

              Pada suatu ketika didalam semedinya Ratna Suwidi didatangi dewa dan ditanya tentang keinginannya karena bertapa terus. Ratna Suwidi menjawab ia ingin hidup sepanjang masa. Dewa menasehati Ratna Suwidi bahwa manusia tidak mungkin hidup selamanya, namun jika Ratna Suwidi ingin hidup sepanjang jaman maka ia harus berubah menjadi makhluk halus. Akhirnya Ratna Suwidi berubah menjadi makhluk halus dan menjadi penguasa laut selatan dengan nama Kanjeng Ratu Kidul. Kanjeng Ratu Kidul dalam menjalankan pemerintahannya dibantu oleh Nyai Riya Kidul dan Rara Kidul.

Rara Kidul. Makhluk halus yang berwujud raksasa putri. Rara Kidul sudah berada di lautan selatan sebelum Kanjeng Ratu Kidul berkuasa di laut selatan. Tugas Rara Kidul adalah membawahi dan memimpin para prajurit makhluk halus.

Riya Kidul, Nyai. Lihat Nawang Wulan.

Gunung Merapi. Tempat kedua dimana dilakukan labuhan. Gunung Merapi terletak di Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, DIY. Gunung Merapi dipilih sebagai lokasi labuhan karena mempunyai peran penting bagi Panembahan Senopati dalam melepaskan diri dari Pajang. Paman dari Panembahan Senopati, Ki Juru Martani, ketika bertapa di Gunung Merapi memperoleh petunjuk gaib bahwa apa yang diinginkan oleh Panembahan Senopati akan terwujud.

              Pada waktu tentara Kerajaan Pajang menyerang Mataram, Gunung Merapi meletus dan laharnya mengalir sampai ke Prambanan. Saat itu tentara kerajaan Pajang sedang berada di Prambanan, sehingga mereka harus mundur dan kembali ke Pajang. Dengan demikian Mataram selamat dari serangan Pajang, yang dipercayai oleh Mataram karena bantuan dari roh halus penjaga Gunung Merapi.

              Wujud tempat labuhan di Gunung Merapi adalah suatu tempat yang dipagari tumbuh-tumbuhan yang letaknya di kendhit (lereng tengah) Gunung Merapi bagian selatan.

Sapu Jagad, Gusti Panembahan. Penguasa roh halus di Gunung Merapi. Pada mulaya Gusti Panembahan Sapu Jagad adalah seorang abdi dalem juru taman di keraton Mataram. Abdi dalem juru taman tersebut diperintahkan oleh Panembahan Senopati untuk memakan telur pemberian Kanjeng Ratu Kidul. Semula telur tersebut akan dimakan sendiri oleh Panembahan Senopati, namun dilarang oleh pamannya, Ki Juru Martani. Jika Panembahan Senopati memakan telur tersebut, maka ia akan menjadi roh halus. Telur itu kemudian dimakan oleh abdi dalem juru taman, dan ia berubah menjadi roh halus. Panembahan Senopati memerintahkan roh halus penjelmaan abdi dalem itu di Gunung Merapi sebagai penguasa roh, dengan gelar Gusti Panembahan Sapu Jagad.

Gunung Lawu. Salah satu tempat dimana dilakukan upacara labuhan. Gunung Lawu terletak di Kecamatan Karang Pandan, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Upacara labuhan di Gunung Lawu ditujukan kepada Sunan Lawu I (Prabu Brawijaya V) dan Sunan Lawu II (Raden Gugur, putra dari Prabu Brawijaya) yang

 
 
Statistik
00199298
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945