Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Sultan HB X Berbicara Ngoko, Ini Reaksi Peserta Javanese Diaspora

#BeraniGundul

Lautan Jilbab

FestivalJomblo

Pemuitaran Film Siti

Unguarded Guards

Festival Sholawat 2015

Festival Adiluhung Kabupaten Sleman

Festival Adiluhung Kabupaten Bantul

Festival Adiluhung Kabupaten Gunung Kidul

Menyajikan data ke- 1-10 dari 72 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Upacara Perkawinan Adat Jawa
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 28507 kali

Kembang Mayang. Disebut juga sebagai sekar mayang, adalah salah satu perlengkapan untuk orang mengawinkan putra-putrinya. Kembang mayang mempunyai bentuk tertentu yang indah karena dibuat oleh seorang ahli atau orang yang sudah tua, namun ada kalanya juga dibuat oleh para wanita mua yang datang membantu (rewang) dalam hajatan tersebut.

              Pengambilan Sekar Mayang setelah selesai dibuat, harus memakai upacara karena dipercaya mempunyai tuah keselamatan. Caranya: diambil oleh 2 orang ibu, semuanya masih bersuami dan setengah baya, membawa sindur (sejenis kain selendang) yang digunakan untuk menggendong Sekar Mayang, percakapan transaksi pengambilan Sekar Mayang antara si pengambil dan si pembuat yang ucapannya sudah ditentukan, Sekar Mayang dibayar dengan uang yang sudah disiapkan, Sekar Mayang digendong dengan sindur menuju rumah calon pengantin wanita. Dengan berjalan berjajar, diserahkan kepada salah seorang yang sudah tua dengan membaca sebuah kidung.


Nyantri. Adat dalam upacara perkawinan yang mengharuskan calon pengantin pria untuk datang dan bermalam di rumah calon mertua pada waktu midodareni, satu hari sebelum upacara nikah dan panggih. Calon pengantin pria mengenakan pakaian kasatriyan yang terdiri atas: jarik (kain panjang), jas takwa yang terbuat dari sutera, ikat kepala jebehan, belum memakai bunga, memakai sumping berlian atau intan. Pada saat sekarang ini calon pengantin, kalau nyantri hanya memakai pantalon dan jas lengkap saja. Menurut tata cara kuno, calon pengantin sudah bisa disebut pengantin.

Midodareni. Rangkaian peristiwa upacara perkawinan yang dilaksanakan pada malam hari, satu hari menjelang acara panggih (temu pengantin). Kata midodareni berasal dari kata dasar widadari atau bidadari. Pada saat itu, menurut kepercayaan masyarakat Jawa, banyak bidadari yang turun dari khayangan untuk memberikan doa restu kepada calon pengantin wanita, sehingga wajahnya cantik jelita seperti bidadari.

              Perlengkapan yang diperlukan diantaranya adalah sepasang kembar mayang, 2 buah mayang, 2 buah kelapa muda (gading), sepasang kendi berisi air yang berasal dari 7 sumber mata air, nasi gurih beserta lauk pauknya, sepasang ingkung ayam, rujak degan, minuman kopi, teh tanpa gula, juplak, roti tawar, gula jawa setangkep, kamar pengantin diberi sesajian (mayang jambe, 7 macam kain bermotif letek dan suruh ayu).

              Biasanya orangtua calon pengantin wanita mengundang tamu, yang merupakan teman-teman dekat, kerabat dekat dan tetangga dekat untuk jagong midodareni. Setelah pukul 24.00, perlengkapan midodareni di atas yang berupa hidangan dibagikan kepada tamu yang jagong midodareni.

Ijab. Yang dimaksud dengan upacara ijab atau akad nikah pada dasarnya adalah ikrar dari kedua calon pengantin kepada Tuhan yang disaksikan oleh umum dan diwakili oleh pejabat yang berwenang, orang tua, dan saudara-saudara calon pengantin. Ijab juga merupakan pernyataan resmi bahwa perkawinan tersebut tidak ada paksaan dari siapa pun.

              Di dalam upacara perkawinan di linglungan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, upacara ijab atau akad nikah selalu dilaksanakan di Kagungan Dalem Masjid Panepen. Pada saat ini upacara ini hanya dihadiri oleh para pria saja dan yang bertindak untuk menikahkan adalah Sultan sendiri. Sedangkan abdi dalem Lurah Punakawan Kaji bertindak sebagai saksi dan petugas KUA Kecamatan Keraton Yogyakarta bertindak melayani penandatanganan surat-surat untuk Sri Sultan dan pengantin pria. Cara seperti ini sampai sekarang masih tetap berlangsung.

              Pada upacara ijab yang dilaksanakan di Masjid Keraton Yogyakarta, calon pengantin pria mengenakan busana seperti yang dipakai para pangeran atau bupati, hanya saja tidak mengenakan perhiasan rantai, kerteb dan sebagainya. Sedangkan para pangeran dan bupati yang hadir pada upacara itu mengenakan kelengkapan pakaian berupa kuluk (biru untuk para pangeran dan putih untuk para bupati). Kampuh atau dodot, celana dan moga warna biru putih. Keris dan wedhung, perhiasan rantai dan kerteb, dan seterusnya. Para tamu wanita mengenakan perhiasan dan paesan, baju kebaya panjang bersulam, dan kain batik panjang.

              Akad nikah diawali dengan khotbah oleh Kanjeng Raden Pengulu. Khotbah tersebut sangat singkat, menggunakan bahasa Arab dan diakhiri dengan dzikir sebanyak 3 kali yang diikuti oleh semua yang hadir. Setelah selesai barulah Ngarsa Dalem Sri Sultan mengucapkan lafaz ijab. Kemudian pengantin pria mengucapkan lafaz qabul sebagai jawaban. Kemudian pengantin pria meletakkan kerisnya untuk maju melakukan penandatanganan administrasi pernikahan dan caos bekti dengan memberi penghormatan kepada Sultan. Setelah itu acara ijab qabul diakhiri dengan doa nikah oleh Kanjeng Raden Pengulu. Setelah selesai Sri Sultan mempersilahkan kepada pengantin dan saksi-saksi untuk meninggalkan tempat ijab. Dengan demikian upacara ijab qabul telah selesai dan pengantin pria kembali ke kesatriyan untuk dirias dan mengenakan busana pengantin Yogyakarta paes ageng.

 

 

Panggihing Pengantin. Upacara panggih yaitu bertemunya pengantin pria dan pengantin wanita serta “dhauping pengantin” merupakan puncak upacara dari seluruh rangkaian prosesi perkawinan adat Jawa.

              Setelah ijab-qabul, untuk menunggu pelaksanaan panggih dan dhaup, pengantin putri dengan mengenakan busana dan rias paes ageng Yogyakarta, menghadap ke bangsal Prabayeksa sebelah timur, dan pengantin pria dengan mengenakan busana dan rias paes ageng menuju bangsal Prabayeksa sebelah barat.

              Prosesi dhauping pengantin dimulai ketika Sri Sultan sudah berada di Bangsal Kencana. Pada saat yang bersamaan di Bangsal Kesatriyan telah dipersiapkan sanggan, pangombyong dan empat pasang edan-edanan, sedangkan di Bangsal Prabayeksa pengantin wanita ditemani patah empat pasang.

              Pengantin pria mengenakan raja Kaputren,kuluk biru, tidak memakai baju, tidak memakai cenela, kampuhan, dan celananya cindhe. Pengantin wanita mengenakan raja keputren, paes ageng, kampuhan, tidak memakai baju, tidak memakai cenela.

              Di emper bangsal Prabayeksa, pengantin pria diantar oleh seorang abdi dalem menghadap seorang sentana dalem petugas penerima untuk menyerahkan syarat sanggan lampah panyuwuning pengantin (permintaan pengantin wanita) dan senggan tebusan pengantin serta meminta izin untuk membawa pengantin wanita. Perangkat sanggan ini berupa hadiah pada waktu calon pengantin pria meminang calon istrinya. Tebusan pengantin berupa: pisang ayu, sirih dan gambir, kapur sirih, jambe, tembakau Kedhu, kembang telon (kanthil, melati, kenanga), mawar, kisi (alat tenun), minyak “sundhul langit” satu cupu, sisir, cermin, kunyit asam, cikal-kelapa, kemenyan dan sejumlah uang receh.

              Setelah pengantin wanita diserahkan, abdi dalem keparak dan abdi dalem Sahositi yang membawa kembar mayang membuang kembang mayang di tempat yang telah ditentukan. Pembuangan kembar mayang ini melambangkan pemberitahuan kepada masyarakat luas bahwa telah terjadi perkawinan. Pada saat yang bersamaan dilaksanakan ritual edan-edanan dimaksudkan sebagai tolak bala. Ritual ini dilaksanakan di halaman sebelah timur Bangsal Kotak Utara. Sebelah barat Gedong GongsaUtara, dan di timur Gongsa Kidul.

              Setelah semuanya selesai dipersiapkan, upacara dhaup dimulai dengan diiringi Kagungan Dalem Gangsa (gamelan). Panggih dilanjutkan dengan ritus balangan gantal (lihat balangan gantal), ritus mijiki (lihat mijiki), mecah tigan (lihat mecah tigan), tampa kaya atau kacar kucur (lihat tampa kaya), dan dhahar klimah atau nasi walimah (lihat dhahar klimah).

              Sesudah upacara panggih selesai lalu dilanjutkan dengan pidato ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih ini ada yang diwakilkan ada yang diucapkan sendiri oleh ayah pengantin wanita. Setelah itu dikeluarkan hidangan untuk para tamu. Pada saat itu pengantin dikirap melewati para tamu agar semua tamu yang duduk di belakang dan semua yang membantu dapat melihat dengan jelas kedua pengantin. Kemudian pengantin berganti pakaian dan kembali ke pelaminan. Jika keseluruhan rangkaian acara sudah selesai, kedua pengantin bersama orang tuanya masing-masing dan para pinisepuh menuju ke muka pendapa untuk menghormat tamu-tamu yang akan pulang. Setelah tamu pulang semua, kedua pengantin harus makan jambu bersama.

              Tiga hari setelah upacara perkawinan, orang tua pengantin pria pergi ke rumah besan untuk menengok anaknya dengan membawa bermacam-macam makanan. Setelah sepasar (5 hari) kedua pengantin diantar ke orang tua pengantin pria. Istilah bagi orang tua pengantin pria adalah ngundhuh (mengambil mantu). Pengantin bermalam di rumah orang tua pengantin pria, orang tua pengantin wanita datang menengok dengan membawa bermacam-macam makanan.

              Setelah upacara panggih, di Keraton Yogyakarta sebagai rangkaiannya adalah “boyongan”. Dalam upacara ini besan akan berpamitan kepada Sri Sultan Hamengku Buwana beserta Garwa Dalem Parameswari. Namun sebelumnya, Sri Sultan akan memberi wejangan kepada kedua pengantin dan kemudian dilanjutkan dengan sungkeman.

              Setelah itu, selesailah sudah upacara pamitan besan dan sungkeman, kemudian dengan kendaraan yang sudah disiapkan, kedua pengantin dan seluruh rombongan baik dari pihak keraton maupun besan secara beriring-iringan menuju ke rumah besan.

              Upacara ini diadakan di “Gedong Jene” terletak di sebelah utara kagungan dalem Bangsal Parabayeksa. Mereka yang boleh masuk ke Gedong Jene hanyalah besan beserta mempelai berdua. Sementara itu, Sri Sultan hamengku Buwana beserta permaisuri sudah berada di dalam Gedong Jene.

 

 

Balangan Gantal. Gantal adalah gulungan daun sirih yang diikat dengan benang lawe. Balangan gantal merupakan ritual pertama upacara panggih di bangsal Kencono. Kedua pengantin diminta saling melempar gantal secara bergantian sebanyak empat kali (sumber lain menyebut sebanyak 3 kali). Ritus ini diiringi musik gamelan ladrang pengantin.

              Balangan gantal melambangkan pertemuan cinta kedua mempelai. Namun ada juga yang memakai lain yaitu dari ritus tersebut bisa dilihat kekuatan rumah tangganya nanti. Pihak yang lemparan cepat mengenai sasarannya akan mendominasi urusan-urusan rumah tangga. Gantal bentuknya berupa gulungan kecil sirih yang berwarna hijau yang melambangkan kesempurnaan. Gantal tersebut diisi dengan jambe yang melambangkan kesempurnaan. Gantal tersebut diisi dengan jambe yang melambangkan suara, yang indah, kapur sirih berwarna putih melambangkan bau yang harum, gambir berwarna kuning yang melambangkan kecantikan, tembakau warna hitam yang melambangkan kecocokan hati, benang lawe berwarna putih merupakan tanda pengikat. Upacara ini dilakukan tanpa diberi aba-aba dan melemparnya dengan tangan kanan dan kiri secara bergantian. Setelah ritus balangan gantal selesai dilajutkan mecah tigan (menginjak telur) dan mijiki.

 

 

Mijiki. Ritus mijiki (membasuh kaki) dilaksanakan setelah balangan gantal. Dalam ritus ini pengantin wanita membasuh kaki pengantin pria sebanyak 3 kali dengan air bunga sritaman yang ditempatkan di bokor. Upacara ini melambangkan pelayaran dan kesetiaan pengantin wanita sebagai istri terhadap suaminya. Selain itu juga maksudnya untuk membersihkan kaki pengantin pria yang kotor setelah menginjak telur.

 

 

Mecah Tigan. Mecah tigan atau memecah telur, jika dalam tradisi Keraton Yogyakarta, dilakukan setelah ritus mijiki (membasuh kaki). Telur yang diletakkan di dalam bokor air sritaman diambil oleh yang diberi wewenang untuk disentuhkan pada larapan (dahi) kedua pengantin, kemudian dibanting pada ranupada. Pada masyarakat Jawa diluar keraton telur tersebut diinjak oleh pengantin pria. Setelah itu tangan kedua pengantin bergandengan dan dilanjutkan dengan upacara pondongan (lihat pondongan).

              Upacara memecah telur melambangkan bahwa pengantin pria sudah mempersiapkan diri untuk keturunan melalui seorang wanita yang menjadi istrinya. Dengan pecahnya telur tersebut melambangkan bahwa sejak saat itu status keduanya bukan lagi jejaka dan gadis. Jadi, telur sebagi simbol benih kehidupan, merupakan pengungkapan suatu reproduksi simbolik.

 

 

Pondongan. Tidak setiap upacara perkawinan adat Jawa baik di lingkungan keraton maupun di luar keraton diadakan upacara pondongan. Upacara pondongan hanya dilakukan bila pengantin wanita merupakan putra-putri Sri Sultan yang sedang bertahta, dan mempelai pria dari lingkungan yang derajad kebangsawanannya di bawah pengantin wanita. Atau bahkan, pengantin pria bukan berasal dari kalangan darah biru.

              Pondongan dimulai dari tratag/emper bangsal kencana. Pelaksanaannya, pengantin wanita duduk di atas kedua tangan pengantin pria dibantu oleh salah satu kerabat yang diberi wewenang. Kedua tangan mempelai pria bergandengan dengan tangan kerabat keraton tersebut dengan posisi berhadapan, dan pengantin pria berada di sebelah kiri pengantin wanita. Sementara itu, kedua tangan pengantin wanita merangkul bahu pengantin pria untuk tangan kirinya, dan tangan kanannya merangkul bahu dari kerabat keraton tersebut.

              Selanjutnya berjalan pelan-pelan dimulai dari tratag sebelah timur yang semula telah digunakan untuk upacara wijikan, menuju ke arah utara/ke Tratag Utara dan setelah sampai di sudut Bangsal Kencana sebelah utara kemudian menuju Tratag Prabayeksa.

              Sesampai di Tratag Prabayeksa, yang letaknya di sebelah barat bangsal Kencana ini kedua pengantin duduk di tempat yang sudah disiapkan.

              Perlu diketahui bahwa upacara pondongan telah terjadi perubahan. Pada zaman Sri Sultan Hamengku Buwana VIII, pondongan dimulai dari Tratag Bangsal Kencana sebelah timur sampai Kagungan Dalem Bangsal Kesatriyan. Jarak yang ditempuh sangat panjang karena harus melewati Kuncung Bangsal Kencana. Kemudian melewati Regol Gapura dan Regol Kasatriyan dan masuk ke Dalem Kesatriyan. Namun pada pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana X, pondongan hanya dilakukan di Tratag Bangsal Kencana menuju ke arah utara dan berhenti sampai di sudut Kagungan Dalem Bangsal Kencana. Jarak yang ditempuh hanya sekitar 15 meter saja dengan waktu kurang lebih 2 menit.

 

 

Tampa Kaya/Kacar-Kucur. Menurut adat Jawa, upacara tampa kaya yang disebut “kacar-kucur” atau “bebak-kawak” adalah suatu upacara penerimaan “guna kaya” dari pengantin wanita yang berupa: kacang tanah, kedelai, jagung, gabah, beras, bunga siraman, uang logam, dlingo-bengle.

              Upacara Tampa Kaya dilakukan di Senthong Tengah Kagungan Dalem Purworukmi di dalam Kasatriyan. Dalam upacara ini disaksikan oleh para kerabat dalem/para pengombyong dan dipandu oleh seseorang yang diberi wewenang.

              Pelaksanannya: pengantin pria duduk di kursi yang sudah disiapkan, sedang pengantin wanita duduk simpul (bersila) di bawah pengantin pria dengan alas tikar dan kain bantalan yang telah tersedia, diapit oleh seorang juru paes dan seorang pemandu dari keraton, dengan arah duduk berhadapan dengan pengantin pria.

              Sebelumnya pengantin wanita menyiapkan sehelai kain mori berwarna putih, berukuran 25 x 25 cm, dibentangkan diatas kedua tangannya dengan dibantu kedua orang tersebut. Selanjutnya pengantin pria menuangkan tampa kaya ke dalam mori tersebut, kemudian oleh pengantin wanita diberikan kepada kedua orang yang ditugasi membantunya.

              Makna yang terkandung dalam upacara ini adalah suatu lambang bahwa seorang suami tidak boleh curang, semua kekayaan hasil jerih payahnya harus diserahkan keapda istrinya. Sebaliknya seorang istri harus pandai mengatur ekonomi rumah tangganya, jangan sampai terjadi pemborosan. Dengan kata lain, pengantin pria bertanggungjawab mencarikan harta benda untuk hidup bersama dan pengantin wanita harus menerimanya dengan senang hati dan menyimpannya dengan baik.

              Pada zaman sekarang, upacara tampa kaya yang diluar keraton telah, mengalami perubahan, yaitu posisi pengantin pria pada waktu memberikan tampa kaya berdiri, sedangkan pengantin wanita menerima duduk di kursi. Hal ini karena kedua pengantin tersebut duduk sejajar di kursi.

 

 

Dhahar Klimah. Pelaksanaan Dhahar Klimah di Gadri Dalem Kasatriyan secara lesehan. Sebelumnya disiapkan peralatan yang berupa dua buah piring kosong dan gelas air putih untuk minum, sepiring nasi kebuli warna kecoklatan dengan lauk pauk yang telah dicampur dalam nasi tersebut. Dan dua mangkok berisi air. Semua perlengkapan tersebut diletakkan di depan pengantin berdua.

Upacara Dhahar Klimah dipandu oleh orang yang diberi wewenang dan disaksikan oleh para pengombyong dan besan. Posisi duduk semua lesehan, pengantin berdua duduk berdampingan, dan para pengombyong duduk di belakangnya. Pelaksanaannya dimulai dengan lebih dulu pengantin pria mencuci tangan kanannya ke dalam mangkuk air, kemudian mengambil nasi, dikepal-kepal membuat tiga bulatan kecil, satu persatu diletakkan di piring kosong, dan diberikan kepada pengantin wanita untuk dimakan semua. Setelah itu pengantin wanita melakukan hal yang sama. Keduanya kemudian mencuci tangan kembali. Upacara ini diakhiri dengan minum air putih.

              Upacara Dhahar Klimah mempunyai makna bahwa seorang suami harus mempunyai keteguhan hati dan seorang istri harus dapat menyimpan rahasia. Makna lainnya adalah perpaduan antara dua hati dan satu kehendak, satu tekad yang bulat dalam bahasa Jawa disebut “nunggil kareb”. Setelah upacara Dhahar Klimah selesai, pengantin berdua dan besan kembali ke Dalem Kasatriyan untuk istirahat, dan semua pengombyong yang meninggalkan tempat tersebut.

 

 

Penunggul. Riasan pada dahi pengantin wanita, letaknya ditengah-tengah dahi dan bentuknya seperti daun sirih. Sebelumnya, dibuat cengkorongan dahulu. Penghitam cengkorongan menggunakan pidih kental dan tata rias Paes Ageng di bagian tengahnya diberi hiasan yang bermotif kinjengan bersayap sehingga memperindah riasan.

              Untuk menentukan ujung penunggul dengan cara mengambil ketentuan dari ketinggian alis ditarik lurus ke atas selebar 3 jari. Untuk menentukan lebar penunggul, dengan cara mengambil titik tengah pada tepi rambut bagian depan dan mengukur penunggul selebar 3 jari. Untuk menentukan lebar penunggul, dengan cara mengambil titik tengah pada tepi rambut bagian depan dan mengukur penunggul selebar 3 jari. Kemudian dari ketentuan tersebut, penunggul dibentuk seperti daun sirih.

              Penunggul mengandung arti sesuatu yang paling tinggi, paling besar dan paling baik. Bentuknya mengandung makna agar kedua pengantin menjadi manusia sempurna.

 

 

Penitis. Riasan pada dahi pengantin wanita, yang letaknya di sebelah luar pengapit dan di atas bentuk godheg, yang bentuknya seperti daun sirih. Cara menghiasnya yaitu menentukan lebar penitis dengan cara mengambil jarak dari pangkal penunggul selebar 3 jari, kemudian lebar penitis diukur 2,5 jari. Setelah itu ditentukan lebar penitis, dan dari titik tengah tersebut dibuat garis lurus ke arah ujung hidung; untuk menentukan ujung penitis diambil jarak dari alis selebar 1 ibu jari. Dari ketentuan tersebut penitis dibentuk seperti daun sirih. Setelah diberi warna hitam dengan pidih kental, pada bagian tengahnya diberi hiasan kinjengan bersayap. Penitis merupakan simbol kearifan dan harapan agar kedua pengantin mempunyai tujuan hidup yang tepat.


Pengapit. Riasan pada pengantin wanita, yang letaknya diantara penunggul dan penitis, berbentuk seperti “ngudhup kanthil” (kuncup bunga kantil). Cara membuatnya, yaitu: menentuk

 
 
Statistik
00209780
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945