Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Tata Nilai Budaya
Trah Jawa

Tokoh-tokoh, tempat-tempat dan Sesajen Upacara Adat Kraton Yogyakarta

Upacara Selamatan di Yogyakarta

TATA NILAI BUDAYA YOGYAKARTA, 2009

pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat berbasis adat dan tata nilai budaya lokal

Semangat Gotong Royong 2012

Menyajikan data ke- 1-6 dari 6 data.

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Upacara Selamatan di Yogyakarta
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 33757 kali

Bersih Desa. Salah satu tradisi selamatan yang dilakukan oleh petani pada waktu setelah selesai mengerjakan sawah atau setelah seluruh panenan selesai dipanen. Selamatan ini diselenggarakan secara massal oleh seluruh masyarakat desa. Dalam selamatan disediakan begrbagai jenis makanan yang bahannya bersaral dari semua hasil panenan. Selamatan ini biasanya dilaksanakan di rumah kepala dusun atau di rumah kepala desa atau di balai desa. Upacara selamatan ini disebut juga gumbrengan. Istilah lain yang sama arti dan fungsinya dengan upacara bersih desa ini adalah sedekah bumi dan majemuk untuk masyarakat petani sawah. Sedangkan pada masyarakat nelayan disebut sedekah laut. Inti upacara bersih desa adalah ucapan syukur dan terima kasih kepada Tuhan atas rejeki atau panen yang telah diterima selama ini.

              Biasanya dalam upacara bersih desa, disertai dengan acara pementasan wayang kulit. Lakon-lakon yang sering dipentaskan adalah Sri Sadana atau Sri Kondur. Cerita Sri Sadana mengisahkan tentang Dewi Sri dan Raden Sadana anak Prabu Maha Punggung Raja Kerajaan Pedang Kamulyan. Dewi Sri meninggalkan istana karena murka ayahandanya. Kemudian Raden Sadana, adik Dewi Sri menuyusul kepergian kakaknya. Keduanya tidak bisa langsung bertemu, masing-masing berkelana dulu dari desa ke desa sambil bercocok tanam. Lama berkelana, akhirnya mereka dapat bertemu kembali namun hanya sebentar saja karena Dewi Sri harus ke kahyangan dan Raden Sadana diambil menantu oleh Raja Wiratha. Sementara Sri Kondur menceritakan tentang kembalinya Dewi Sri ke negara Wiratha. Pada waktu Dewi Sri berada di kerajaan Pratalaretna yang dikuasai oleh Raja Darmasara, Dewi Sri menjadi rebutan raja-raja dan pangeran-pangeran yang ingin memperistrinya. Nagatatmala, putra Sang Hyang Ananta Bogalah yang berhasil memboyong Dewi Sri ke Wiratha atas bantuan begawan Abiyasa.

Gumbrengan. Lihat Bersih Desa.

Sedekah laut. Lihat Bersih Desa.

Sedekah bumi. Lihat Bersih Desa.

Wiwit. Upacara khusus untuk memulai acara panenan padi. Panen merupakan rahmat yang paling berharga bagi petani dari pemberi rejeki (bahwa padi melimpah karena pemberian Dewi Sri). Maka acara panenan harus dimulai dengan upacara khusus yang pada dasarnya berisi pernyataan penghormatan terhadap sumber kehidupan. Maksud dari upacara ini adalah mengundang Dewi Sri untuk memohon ijin dan perlindungannya serta keselamatan dalam memetik hasil panen. Disamping itu juga, merupakan suatu pengharapan atau permohonan agar Dewi Sri berkenan untuk tetap menjaga kelestarian padi. 

Tanggap Warsa. Adalah salah satu upacara yang terdapat dalam bulan Sura yaitu bulan pertama dalam Tahun Jawa. Inti upacara tanggap warsa ini adalah penyambutan datangnya tahun baru. Di dalam menyelenggarakan tanggap warsa ini biasanya disertai dengan pementasan wayang kulit dengan lakon-lakon yang mengandung cerita-cerita tentang kelahiran dan perkawinan.

Pencucian Pusaka. Pelaksanaan pencucian pusaka di lingkungan kraton dikenal dengan istilah siraman pusaka (lihat siraman pusaka). Di dalam rumah tangga, tiap-tiap keluarga di luar lingkungan kraton orang juga menyelenggarakan pencucian pusaka yang merupakan warisan nenek moyang mereka masing-masing.

Suran. Acara selamatan dalam masyarakat Jawa untuk memperingati meninggalnya Baginda Kasan-Kusen (Hasan dan Husein cucu Nabi Muhammad). Selamatan ini diselenggarakan oleh masing-masing keluarga pada masyarakat Jawa diantara tanggal 1-10 Sura.

Saparan. Salah satu upacara yang diselenggarakan pada bulan Sapar tahun Jawa. Sapar adalah nama salah satu bulan (kalender) Jawa yang merupakan ucapan bahasa Jawa untuk kata bahasa Arab bulan Safar. Saparan merupakan selamatan dalam bulan Sapar. Upacara selamatan Saparan yang sangat terkenal ialah Saparan yang diselenggarakan di kelurahan Ambar Ketawang, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, sebelah barat kota Yogyakarta. Upacara Saparan merupakan peninggalan dari penyelenggaraan upacara korban manusia, namun sekarang korban manusia yang disembelih sudah digantikan dengan tiruan manusia atau disebut juga bekakak (lihat bekakak). Dalam upacara Saparan ini juga ada pembagian apem.

Muludan. Upacara yang diselenggarakan pada bulan Maulud. Upacara ini dipusatkan di kraton artinya masyarakat umum tidak menyelenggarakan upacara khusus melainkan kratonlah yang menyelenggarakan upacara Muludan. Sehingga upacara Muludan ini disebut juga Hajat Dalem (Hajat Sultan). Dalam bulan Maulud ini orang tidak menyelenggarakan hajat (mantu, sunatan, dan lain-lain) karena dipercaya akan mendatangkan hal yang tidak baik. Namun kalau memang terpaksa harus meyelenggarakan hajat pada bulan ini, maka ia harus mengatakan ndherek hajat dalem (mengikuti atau menumpang Hajat Sultan).

              Upacara Muludan di kraton disertai dengan perayaan Sekaten yaitu pesta yang diselenggarakan Sultan untuk rakyatnya. Pada tanggal 12 Maulud diadakan upacara Garebeg (lihat Garebeg). Masyarakat turut serta memeriahkan perayaan tersebut dengan pergi ke Alun-alun Utara kraton untuk ngalap berkah (mencari berkah). Mereka membeli pecut (cambuk) untuk binatang ternaknya agar panennya kelak melimpah. Ada juga yang membeli kinang untuk nginang agar awet muda.

Ngirim. Disebut juga ziarah kubur. Dalam tradisi, kata ziarah kubur diartikan menabur bunga di makam pada saat berziarah di makam para leluhur sehingga disebut juga dengan nyekar (dari kata sekar yang berarti bunga). Jenis bunga yang biasa digunakan untuk ngirim adalah bunga telasih, kenanga, mawar, melati dan kanthil. Namun jenis bunga yang diutamakan adalah bunga telasih dan kanthil.

              Ziarah kubur menurut tradisi Jawa dilakukan pada bulan Ruwah. Ruwah berasal dari kata arwah, maksudnya membuka arwah bagi para leluhur. Menurut kepercayaan Jawa, pada bulan Ruwah ini arwah orang yang telah meninggal hilang untuk menengok familinya yang masih hidup; dan sebagai ucapan terima kasih, familinya pergi ke makam untuk mendoakannya.

              Upacara ziarah kubur yang berkaitan dengan jumenengan dalem Sri Sultan, diselenggarakan menjelang penobatan beliau menjadi sultan. Upacara ziarah kubur ini diselenggarakan di dua makam yaitu makam Kotagede dan makam Imogiri. Waktu pelaksanaan selama dua hari yaitu hari pertama di makam Kotagede dan hari kedua di makam Imogiri. Upacara ini diikuti oleh pangeran calon Sultan berserta istri dan anaknya serta kerabat Keraton yang terdiri dari Gusti Bendara Pangeran/Bendara Putra, Sentana Dalem Kakung, Klangenan Dalem Suwargi, Gusti Bendara Putri dan Sentana Dalem Putri.

              Untuk ziarah ke makam, baik ke makam Kotagede maupun makam Imogiri, perlengkapan yang dibutuhkan antara lain nampan tempat bunga tabur, pedupaan untuk membakar kemenyan, dan bunga mawar, melati, kenanga serta telasih. Penyelenggara teknis upacara adalah abdi dalem kanca kaji yang memimpin upacara tahlilan sebelum dilakukan penaburan di atas nisan para leluhur.

              Pakaian yang dikenakan untuk ziarah ke makam menurut adat Keraton adalah:

1)         Peziarah khusus wanita diwajibkan mengenakan kain, kemben, tanpa baju dan sanggul gulung tekuk

2)         Peziarah khusus pria mengenakan kain, ikat kepala, blangkon dan baju pranakan, atau dapat pula tidak mengenakan baju saja

 

 

Nyadran. Di desa-desa biasanya masyarakat menyelenggarakan upacara sadranan pada bulan Ruwah di tempat-tempat tertentui yang dianggap menjadi tempat tinggal makhluk halus. Mereka memulainya dengan membersihkan tempat-tempat tersebut lebih dahulu, kemudian memberi sesaji sajian (caos dhahar atau sajen). Ditujukan kepada dewa-dewi, roh-roh nenek moyang, dhanyang sing mbaurekso (makhluk halus penunggu), dan makhluk halus lainnya. Sesuai dengan arti istilah, caos dhahar (memberikan makanan), maka sajen-sajen yang disajikan tersebut berupa makanan-makanan dan benda-benda yang dianggap merupakan kegemaran makhluk-makhluk halus tersebut. Biasanya sesaji ini berupa nasi gurih, rokok, kinang, wedang kopi, dan lain-lain.

Punggahan. Upacara ini diselenggarakan pada akhir bulan Ruwah. Dalam upacara ini juga dilakukan ngirim kepada arwah leluhur, tetapi tidak dilakukan di makam-makam lainnya, di rumah masing-masing penduduk. Sesajian yang dibuat, diletakkan di atap rumah untuk semua arwah yang telah meninggal, baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

              Meniurut kepercayaan, upacara punggahan ini juga berfungsi untuk mengantarkan arwah-arwah tersebut munggah (naik kembali ke asalnya) pada keesokan harinya. Oleh karena itu, pada keesokan harinya, yaitu memasuki bulan pasa (puasa), kuburan menjadi kosong karena arwah-arwah tersebut sedang munggah selama satu bulan. Maka pada bulan puasa tidak ada orang berziarah ke makam. Pada hari pertama setelah bulan Pasa, yaitu pada hari pertama bulan sawal (Syawal), dimana arwah-arwah kembali lagi ke kuburnya masing-masing, banyak orang yang pergi ke makam pagi-pagi sekali untuk menyambut kedatangan arwah-arwah tersebut.

Padusan. Upacara padusan ini diselenggarakan pada hari terakhir di bulan Ruwah. Upacara ini wujudnya adalah mandi atau membersihkan segala sesuatu, bukan hanya membersihkan tubuh, tetapi juga alat-alat rumah tangga (tikar, tampah, lesung dan lain-lain). Serangkaian upacara padusan ini merupakan pesta air di umbul-umbul (sumber air). Semua orang baik laki-laki dan perempuan ramai-ramai mandi di tempat tersebut. Makna dari padusan ini sebenarnya adalah pensucian diri untuk mempersiapkan untuk menghadapi bulan puasa atau bulan suci Ramadhan.

Megengan. Hari pertama dalam bulan puasa. Dalam bulan puasa ini orang melaksanakan puasa dari semua hawa nafsu dari fajar hingga senja hari. Bukan hanya menahan hawa nafsu makan dan minum saja, melainkan semua hawa nafsu. Megengan bagi masyarakat yang peduli terhadap bulan suci Ramadhan biasanya mengadakan persiapan-persiapan khusus untuk menghadapi hari pertama bulan puasa dengan cara dan kebiasaan masing-masing. Biasanya mereka melakukan mandi keramas atau padusan (lihat padusan) serta menyediakan sajian khusus untuk para leluhur (punggahan).

 

 

Selikuran. Upacara selamatan selikuran yang diselenggarakan pada tanggal 21 bulan Pasa tahun Jawa. Sajian utamanya adalah buah-buahan dan jajan pasar, termasuk pisang raja. Pada selamatan selikuran ini lampu-lampu dinyalakan di berbagai tempat, misalnya di sudut rumah, di pintu-pintu rumah, di sumur dan sebagainya. Maksudnya penyalaan lampu ini adalah untuk mengusir roh-roh jahat.

              Ada juga tradisi malam slikuran yang diselenggarakan oleh Keraton Yogyakarta. Pada hakikatnya disebut Lailatul Qodar atau malam Kemuliaan, karena Sultan memeluk agama Islam.

              Berkenaan dengan malam Lailatul Qodar ini umat Islam dari seluruh lapisan masyarakat di Kesultanan Yogyakarta mempunyai tradisi “malam selikuran” yaitu dengan menyelenggarakan selamatan pada tanggal-tanggal gasal sesudah tanggal 20 bulan Pasa dan menyelenggarakan pasowanan selikuran dengan tirakatan serta pengajian.

              Upacara malam selikuran (21) adalah mejadi hak monopoli sultan; untuk malam 23, 25, 27 adalah kewajiban bagi bupati Nayaka; sedang malam terakhir (29) adalah kewajiban bagi pepatih dalem. Upacara tersebut diselenggarakan di alun-alun Keraton dengan menggelar tikar untuk tempat duduk. Urutan acara malam selikuran ini adalah :

1)         Pembuatan dan pemasangan tiang (lampu minyak)

2)         Sri Sultan melakukan inspeksi keliling di wilayah Keraton

3)         Selamatan atau hajat dalem, yaitu acara buka puasa bersama

4)         Pasowanan yang artinya mengadakan jamuan atau berkunjung menghadap Sultan (pasowanan ini diselenggarakan selama 5 hari yaitu pada tanggal 21, 23, 25, 27 dan 29 Ramadhan)

5)         Tuguran atau tirakatan untuk mengaji bersama.

 

 

Sungkeman. Halal bihalal setiap tanggal 1 Syawal atau pada hari Idul Fitri. Orang mengenakan pakaian yang bagus-bagus (dalam arti bersih dan suci), lalu pergi ke lapangan untuk sholat Ied dan kemudian ke makam leluhur. Setelah itu mereka melaksanakan upacara sungkeman di rumah masing-masing kepada orang tua atau orang yang lebih tua di dalam rumah tangganya. Kemudian barulah mereka saling memaafkan pada semua tetangga dan kenalan.

              Upacara sungkeman terdapat juga pada empat cara adat perkawinan. Disini sungkeman berarti “pernyataan hormat dan bakti” pengantin baru kepada mertua dan orang tua. Sungkeman dilakukan sesudah upacara panggih yang dipandu oleh seorang juru paes pengantin. Kedua pengantin bersama-sama berdiri meninggalkan pelaminan untuk memberikan sembah sungkem kepada kedua orang tua pengantin. Sungkeman ini disertai dengan lolos duwung (melepas sementara keris pengantin pria) dan diiringi dengan gending ladrang Mugi Rahayu.

Ngabekten. Istilah ngabekten berasal dari ngabekti, yang artinya sama dengan sungkem (lihat sungkeman). Upacara ini diselenggarakan di bangsal Kencono Keraton setiap tanggal 1 Syawal (Idul Fitri). Upacara ini sebenarnya merupakan tatacara adat keratom untuk melakukan acara halal bihalal dengan Sultan. Menurut tradisi, Sultan duduk di singgasana emas (dalam bahasa Jawa disebut Dampar Kencono). Namun untuk saat sekarang Sultan tidak lagi duduk di singgasana emas dan tidak mengenakan busna kebesaran.

Ruwatan. Upacara yang dilakukan untuk membebaskan atau melepaskan seseorang yang dari nasib sial karena menjadi mangsa Bethara Kala. Upacara ini disertai dengan pementasan wayang kulit dengan lakon Murwa Kal atau Manik Maya. Orang-orang sial yang menjadi mangsa Bethara Kala diantaranya : 1) ontang anting (anak tunggal Laki-laki); 2) anting benting (anak tunggal perempuan); 3) uger-uger lawang (dua anak laki-laki); 4) pandawa lima (lima anak laki-laki); 5) pandhawa ngayomi (lima anak perempuan); 6) pandhawa madhangake (lima anak, empat laki-laki dan satu perempuan); 7) pandhawa apil-apil (lima anal, empat perempuan dan satu laki-laki); 8) kembang sepasang (dua anak perempuan); 9) gedhana-gedhini (dua anak, laki-laki dan perempuan); 10) gedhini-gedhana (dua anak, perempuan dan laki-laki).

              Perlengkapan sesaji dalam upacara ruwatan atau dikenal dengan upacara Ngruwat terdiri dari 7 jenis, yaitu :

1.          Hasil pertanian, meliputi pala gumantung (lihat pala gumantung), pala kasimpar (lihat pala kasimpar), pala kapendhem (lihat pala kapendhem).

2.          Alat pertanian meliputi: garu, bajak, cangkul, kapak, linggis, pisau, sabit, parang, capung dan lain-lain.

3.          Alat dapur, meliputi: dandang, kenceng, kendhil, kuali, gentong, wajan, kukusaan, tampah, irik, entong, siwur, irus, solet, serok dan anga.

4.          Ternak atau unggas, meliputi: sapi, kerbau dan angsa.

5.          Kain batik motif paleng, gadhung mlathi, bango tulak, tuluh watu, dringin dan pandhan binedhot.

6.          Alat tidur, meliputi: tiklar, bantal, dan mori.

7.          Makanan, meliputi: tumpeng robyong, tumpeng uriping dhamar, sekul suci, ambengan dengan lauk pauk lengkap, nasi liwet, nasi golong, nasi wuduk, golong sewu, ingkung ayam, lutut dari ketan, macam-macam jenang, jajan pasar, trujak-rujakan, pisang sanggan, kembang dan kemenyan.

Slup-slupan. Upacara atau selamatan yang diselenggarakan pada waktu akan menempati rumah baru. Dalam bahasa Jawa disebut nglesupi omah. Maksud dari nglesupi omah ini adalah untuk permisi atau meminta ijin pada penunggu tempat tersebut agar diperbolehkan menempati rumah baru dan mohon keselamatan keluarganya. Biasanya dalam acara selamatan ini diadakan acara kendhuren atau kendhuri atau ngepung ambeng. Yang biasa diundang hadir adalah para tetangga laki-laki. Setelah pembacaan doa, mere

 
 
Statistik
00199925
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945