Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : kraton
Begawan Ciptoning Mintorogo

Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

Pusaka Kraton Yogyakarta Dan Pura Pakualaman

Makna Benda Di lingkungan Kraton Yogyakarta

Tokoh-tokoh, tempat-tempat dan Sesajen Upacara Adat Kraton Yogyakarta

Benda-Benda Perlengkapan Upacara Adat Kraton Yogyakarta

Filosofi dan Nilai Budaya Keraton Yogyakarta

Kanjeng Raden Tumenggung Madukusumo

B.P.H. Suryodiningrat

Raden Wedono Larassumbogo

Menyajikan data ke- 1-10 dari 22 data.
Halaman 1 2 3 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Benda-Benda Perlengkapan Upacara Adat Kraton Yogyakarta
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 77690 kali

Plangkah. Pemberian sekandung yang lebih muda kepada saudara yang lebih tua sebagai tanda mohon izin untuk mendahului menikah/berumah tangga, karena dalam melaksanakan berumah tangga pada adat masyarakat Jawa biasanya dilakukan berurutan dari saudara yang paling tua terlebih dahulu kemudian diikuti oleh yang lebih muda. Fungsi pemberian plangkah ini untuk menjaga kerukunan dalam lingkup keluarga dan rasa terima kasih karena telah diizinkan untuk menikah terlebih dahulu.

Pelara-lara. Wanita remaja yang dicalonkan sebagi selir raja di keraton tetapi masih belum dapat diangkat sebagai “piyantun dalem” atau selir karena usianya yang masih kanak-kanak (belum mengalami haid). Menurut tradisi keraton, raja-raja Mataram mempunyai sejumlah selir di bawah garwa prameswari. Untuk cadangan calon selir tersebut, para adipati dan kepala desa sekitar kerajaan mempersembahkan putri atau kemenakannya yang berusia 7-10 tahun sebagi penari bedhaya-srimpi. Gadis-gadis kecil tersebut magang sebagai penari, pesinden atau ahli-ahli upacara keraton di bawah asuhan Nyai Tumenggung Sedhahmirah dan Nyai Tumenggung Soka. Mereka dididik secara terus-menerus untuk mengenal lika-liku tatacara keraton secara rinci. Biasanya, bagi yang memilki bakat pesinden, akan dikirim ke Dalem Kadipaten Anom (rumah putra mahkota) atau ke Dalem Kepatihan untuk dididik lebih intensif. Akan tetapi, bila para gadis tersebut belum berusia 14 tahun, dan para raja berkenan mempersuntingnya, langsung dibawah asuhan garwa padmi (permaisuri/prameswari). Palara-lara memperoleh sekedar honorarium dari pengasuhnya, yang ditabung untuk membeli perhiasan (emas dan berlian).

Gondhangkasih. (1) Nama jenis gantal yang dipegang oleh pengantin laki-laki pada tangan kanannya dan dilemparkan kepada pengantin wanita pada acara balangan gantal dalam upacara panggih (temu pengantin), sedangkan gantal yang dipegang pada tangan kanan pengantin wanita dan dilemparkan kepada pengantin laki-laki pada acara balangan gantal dalam upacara panggih itu disebut Gondhangtutur. (2) Dua orang bersaudara sekandung yang berbeda dalam penampilan fisik. Misalnya, yang seorang berkulit putih kekuning-kuningan, sedangkan seorang lagi berkulit hitam, seperti yang terdapat dalam perwajahan wayang kulit purwa Kakasrana dan Narayana.

Gondhangtutur. Lihat Gondhangkasih.

Ukel, Welah Sawelit. Jenis sanggul tradisional yang dibentuk dengan cara mengikat seluruh rambut ke belakang, ujung rambut diikat, dan dinaikkan ke atas (ke bagian bawah rambut), diikat dan dihias dengan kokar (pita). Sanggul ini merupakan kelengkapan busana tradisional sabukwala (lihat juga tapih).

Srah-srahan. Disebut juga pasok tukon, adalah sejumlah uang yang diberikan oleh keluarga calon mempelai pria kepada pihak calon mempelai putri sebagai pernyataan tanggung jawab atas biaya pernikahan.

Gantal. Gulungan daun sirih yang diikat dengan lawe. Fungsi gantal sebagai kelengkapan untuk sesaji dan sarana dalam upacara balangan gantal untuk mengawali upacara panggih pengantin (temu pengantin). Isi dalam gulungan daun sirih (gantal) tersebut terdiri dari pinang dan kapur. Gantal bersama isinya yang diikat dengan lawe itu melambangkan kesentosaan, keutamaan dan kebulatan tekad kedua mempelai dalam menempuh hidup baru.

Puput Puser, Slametan. Selamatan yang diadakan pada malam hari setelah tali pusar bayi terlepas. Pada zaman dahulu sehelai benang panjang dibentangkan di sekeliling rumah, daun nanas atau pandan berduri yang dicat putih digantungkan di atas pintu masuk rumah, bagian depan dan belakang rumah dipasangi penerangan (obor), di sekeliling bayi dibuatkan pagar yang terbuat dari sapu ijuk, sejumlah benda warna-warni, serta beberapa jenis mainan anak-anak. Sebuah batu penggiling bumbu (gandhik) yang dihias dengan pakaian bayi diletakkan di tempat yang dikelilingi oleh benda-benda tersebut, dengan maksud untuk mengacaukan roh-roh jahat yang ingin mengambil bayi tersebut. Kemudian setiap orang yang hadir, secara bergantian memangku bayi tersebut sampai ia tertidur.

              Selama tali pusar bayi belum terlepas, ayah bayi dan para anggota rumah tangga yang sudah dewasa harus berjaga pada malam hari (lek-lekan) dengan ditemani oleh para kerabat, teman, dan tetangga sambil bermain kartu atau mengobrol. Ketika tali pusar bayi sudah terlepas dan mengering, kemudian dibungkus dalam sepotong kain bersama beberapa buah rempah-rempah untuk dijadikan sebagai jimat karena dianggap mempunyai kekuatan gaib. Kemudian sebagai rasa syukur orang tuanya, maka dibuatlah selamatan dengan jalan membagi-bagikan nasi beserta lauknya kepada tetangga dan saudara.

Kancing Gelung.  (1) Seperangkat perlengkapan dalam upacara temu pengantin yang dipakai oleh pengantin laki-laki, berupa keris yang berasal dari pemberian pengantin wanita. Keris tersebut dilengkapi dengan untaian bunga melati yang dikalungkan pada leher keris. (2) Alat yang terbuat dari tanduk, logam, atau dari benda yang berfungsi sebagai tusuk sanggul.

Kecohan. Benda perlengkapan upacara Garebeg milik Keraton Yogyakarta berupa tempat ludah. Kecohan terbuat dari emas dan mempunyai alat penyangga yang disebut songo kecohan. Jadi kecohan ini diletakkan di atas songo kecohan, yang terbuat dari emas juga. (lihat Benda Upacara dan lihat juga Benda Ampilan).

Ginondhong. Benda perlengkapan upacara Garebeg milik Keraton Yogyakarta yang berupa kotak besar, namun bentuknya agak oval, dan terbuat dari perak. Fungsi Ginondhong sebagai tempat untuk menyimpan pakaian bayi dan mainan Sultan ketika masih kanak-kanak. (lihat benda Upacara dan lihat juga Benda Ampilan).

Dhampar Cepuri. Sebuah benda yang menyeruapai singgasana tetapi bentuknya lebih rendah dan lebih kecil. Dhampar cepuri terbuat dari emas dan digunakan untuk meletakkan cepuri. Cepuri merupakan tempat (wadah) untuk sirih dan pinang, terbuat dari emas, termasuk dalam benda ampilan (lihat Benda Ampilan).

Ardawalika. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik keraton Yogyakarta, terbuat dari emas dan bebentuk naga. Naga adalah binatang sejenis ular yang hanya ada di dalam mitos. Dalam mitologi India disebutkan bahwa ular naga mempunyai kekuatan untuk mendatangkan air demi kemakmuran semua makhluk. Jadi, Ardawalika (naga) disini melambangkan kekuasaan kerajaan dan raja sendiri sebagai penyangga dunia, yang diharapkan dapat memelihara dunia sehingga rakyatnya menjadi makmur (lihat Benda Upacara).

Galing. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik keraton Yogyakarta yang berbentuk burung merak dan terbuat dari emas. Dalam mitologi Hindu, burung merak merupakan wahana dewa perang, yaitu dewa skanda yang gagah. Bentuk burung merak juga memperlihatkan keanggunan dan kewibawaan sehingga galing (burung merak) untuk melambangkan kewibawaan dan kegagahan Sultan (lihat Benda Upacara).

Sawung. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik keraton Yogyakarta yang berbentuk seekor ayam jantan dan terbuat dari emas. Ayam jantan (sawung) dimasukkan kedalam benda upacara kerajaan untuk melambangkan keberanian Sultan, karena didalam suatu pertarungan, ayam jantan tidak akan pernah menyerah (lihat Benda Upacara).

Dhalang. (1) Orang yang memainkan wayang dengan membawakan sebuah lakon. Kata dhalang telah digunakan sejak abad ke-13, pada zaman Majapahit. Berdasarkan fungsi, tujuan, kedudukan dan sikapnya, jenis dhalang digolongkan menjadi lima yaitu : dhalang sejati, yaitu dhalang yang mengutamakan cerita tentang hakikat hidup; dhalang purba, yaitu dhalang yang besar pengaruhnya terhadap penonton sehingga penontonnya memperoleh sesuatu yang berguna setelah menonton pertunjukan wayangnya; dhalang wisesa, yaitu dhalang yang pandai menarik perhatian para penontonnya; dhalang guna, yaitu dhalang yang hanya dapat memainkan wayang atau mendalang berdasarkan pakem pewayangan; dan dhalang wikalpa, yaitu dhalang yang hanya memikirkan upah. (2) Dhalang merupakan sebutan untuk orang yang menjadi otak terjadinya suatu peristiwa. (3) Benda perlengkapan upacara kerajaan milik keraton Yogyakarta yang berbentuk seekor kijang dan terbuat dari emas. Dhalang (kijang) untuk melambangkan sifat kegesitan dan kebijaksanaan yang diharapkan ada pada diri Sultan agar dapat memerintah dengan adil. Seorang raja harus senantiasa berpikir secara tepat dan bijaksana dalam mengambil tindakan-tindakan serta keputusan-keputusannya (lihat Benda Upacara). (4) Menurut Folketymologi (kereta basa) menyebutkan dhalang berasal dari kata weda dan wulang, weda berarti semacam kitab suci yang memuat peraturan dan pedoman hidup dan kehidupan manusia menuju ke arah kesempurnaan. Wulang berarti pelajaran. Jadi dhalang ialah orang yang memberi pelajaran tentang weda. Pekerjaan didasarkan atas tradisi yang berabad-abad dan selalu diturunkan secara lisan, umumnya dari ayah kepada anak laki-laki. Pengetahuan dan ketrampilan yang harus dikuasai misalnya: tentang cerita, gendhing yang dimainkan gamelan pengiring, suluk dan teknik pergelaran, juga sekian banyak pengetahuan ghaib lainnya. Pengetahuan ini mengenai doa-doa dan mantra-mantra khusus dan tata cara tertentu dalam hal ini tingkah laku yang dapat memberikan kekuatan dhalang menghadapi kejadian-kejadian penting dalam kehidupan masyarakat.  Pengetahuan yang keduniawian dan yang ghaib ini berpadu dan membentuk apa yang dinamakan pedhalangan yaitu ilmu atau seni dhalang. (5) Disebut juga sutradara. Istilah tersebut muncul karena mengacu kepada kaidah teater modern atau dramartugi. Istilah dhalang diganti sutradara karena ada keterlibatan seniman teater modern dalam pembinaan ketoprak, namun makna keduanya mendekati tugas yang sama yaitu untuk menyebut seseorang sebagai pemimpin rombongan dan pengatur seni pertunjukan ketoprak. Pada hakekatnya antara sutradara dan dhalang memiliki fungsi yang sama pada pertunjukan ketoprak maupun teater modern yaitu harus orang-orang yang pinilih (mempunyai kemampuan lebih) dalam bidangnya.

Pedhalangan. Lihat dhalang.

Banyak. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik keraton Yogyakarta, berbentuk seekor angsa dan terbuat dari emas. Banyak (angsa) merupakan lambang kesucian dan kewaspadaan.

Kacu. (1) Kacu (dalam bahasa Jawa) berarti sapu tangan. (2) Benda perlengkapan upacara kerajaan milik Keraton Yogyakarta yang berbentuk kotak sapu tangan dan terbuat dari emas. Kacu merupakan lambang penghapusan segala macam kekotoran, maksudnya adalah bahwa raja harus bisa menegakkan keadilan dan kebenaran dalam memerintahkan kerajaannya (lihat Benda Upacara).

Kutuk. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik Keraton Yogyakarta berupa tempat bedak yang terbuat dari emas. Kutuk (tempat bedak) sebagai lambang daya penarik seorang raja. Maksudnya bahwa seorang raja harus mempunyai daya tarik sehingga seluruh rakyatnya akan bersimpati kepadanya.

Kandhil. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik Keraton Yogyakarta, berupa lentera yang terbuat dari emas kandhil (lentera). Ini sebagai lambang penerangan bagi hati seluruh rakyat kasultanan Yogyakarta, sehingga diharapkan rakyat dapat hidup dengan tenang dan tenteram.

 

Saput. Benda perlengkapan upacara kerajaan milik Keraton Yogyakarta berupa sebuah tempat (wadah) segala macam alat, yang terbuat dari emas. Saput (wadah segala macam alat) ini merupakan lambang kesiap-siagaan seorang Sultan dalam menghadapi segala macam hal dalam keadaan apapun.

Kain Bangun Tulak. Disebut juga Kain Bango Tulak. Satu jenis kain dengan motif kuno yang menurut kepercayaan memiliki daya tangkal terhadap segala macam gangguan kekuatan gaib yang jahat. Kain ini berwarna biru dengan warna putih di tengahnya terbentang di atas jodhangan untuk menutup bermacam-macam makanan yang terdapat pada tiap-tiap sudut jodhangan. Kain bangun tolak melambangkan sebagai penolak bala, warna biru merupakan lambang dari bumi, sedangkan warna putih merupakan lambang langit. Kata langit dihubungkan dengan surga yang merupakan tujuan hidup menusia. Apabila seseorang ingin mencapai surga, maka sebelumnya ia harus menyingkirkan (menolak) segala rintangan yang ada di bumi. Kehidupan di surga penuh kedamaian dan kebahagiaan.

              Motif warna atau kombinasi warna kain ini (lihat gadhung mlati), untuk pakaian Wayang Wong gaya Yogyakarta sering dipakai untuk motif rampek (lihat rampek) para punakawan. Warnanya terdiri dari warna biru tua seperti hitam dan warna putih.

 
 
Statistik
00206120
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945