Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Upacara Adat
Rebo Pungkasan

SaPARAN Dusun Plumbon

Labuhan Hondodento

Upacara Nguras Enceh

Kirab Budaya Imogiri

Labuhan Nelayan Mina Bahari 45 Depok

Labuhan Pantai Goa Cemara

Jumuduling Mahesa Sura

CREATIVE SEMINAR PINASTHIKA

Menyajikan data ke- 1-10 dari 86 data.
Halaman 1 2 3 4 5 6 7 8 9 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Upacara Wiyosan Kanjeng Kiai Tunggul Wulung
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 40324 kali

Upacara ini diselenggarakan oleh bangsawan (keraton) di Yogyakarta. Kata wiyos (bahasa Jawa) adalah bentuk kata kerja (tanduk) dari kata wiyos. Dalam kalimat wiyosan/miyosan, Kanjeng Kiai Tunggul Wulung terkandung arti keluarnya kanjeng Kiai Tunggul Wulung dari dalam keraton. Pusaka ini berupa bendera yang termasuk pusaka yang dikeramatkan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Diberi nama wulung karena benda pusaka tersebut berwarna dasar biru tua kehitam-hitaman. Warna dalam bahasa Jawa disebut wulung.

              Dalam pelaksanaan upacara ini selalu didampingi oleh sebuah bendera pusaka lain yaitu Kanjeng Kiai Pare Anom yang dibuat pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana V. pelaksanaan upacara ini melalui dua tahap.

-       Tahap pertama disebut “mbusanani”. Artinya memberi busana atau mengenakan busanane Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dan Kanjeng Pare Anom.

-       Tahap kedua disebut “miyosaken” artinya mengeluarkan dari dalam lingkungan keraton untuk diarak keliling kota.

Upacara ini bermaksud untuk membasmi wabah penyakit menular yang melanda kota Yogyakarta. Dan terakhir dilaksanakan pada tahun 1943 sewaktu ada wabah penyakit pes. Waktu penyelenggaraan:

-       Untuk tahap pertama dilakukan pada senja hari sesudah sholat Maghrib di serambi Masjid Keraton yang disebut Masjid Panepeh.

-       Untuk tahap kedua pada malam hari sesudah waktu sholat Isya. Dan harus bertepatan pada hari Jumat Kliwon. Sesudah ada dhawuh dalem dan dilakukan di halaman (pelataran) bangsal Sri Manganti di pagelaran di Alun-alun Utara. Kenduri selamatan dilakukan di Serambi Masjid Panepeh dan di serambi Masjid Besar.

Penyelenggaraan teknis upacara adalah punggawa keraton (abdi dalem) golongan Suronoto, kaji, somatali, gladhog, prajurit-prajurit, pihak-pihak yang terkait dalam upacara ialah Sri Sultan, keluarga Sri Sultan yang menjadi pejabat-pejabat tinggi keraton, abdi dalem dan masyarakat. Lima hari sebelum upacara dilakukan para abdi dalem yang bersangkutan harus bersuci dahulu dengan menjalani puasa kemudian mandi dan keramas. Untuk para abdi dalem golongan Suronoto, baju beskap warna hitam, celana panji-panji dan samir.

              Perlengkapan upacara diantaranya :

-       Dua pucuk tombak pusaka yaitu Kanjeng Kiai Slamet (Kanjeng Kiai Duda) dan Kanjeng Kiai Santri. Bendera pusaka Kanjeng Kiai Tunggul Wulung dipasang pada tombak Kanjeng Kiai Anom dipasang pada tombak Kanjeng Kiai Santri

-       Dua buah payung kebesaran untuk memayungi kedua bendera pusaka

-       Puluhan obor

-       Dua buah pedupaan lengkap dengan kemenyan

-       Beberapa ekor kuda

-       Sebilah pisau jagal

-       Beberapa buah pacul dan linggis

-       Sebuah ancak

-       Bangunan tratag untuk tempat sesajen

 

Sesajen ini dapat dibagi beberapa macam:

-       Dahahar rasulan nasi wuduk dengan lauk pauk

-       Dhahar ambengan

-       Dhahar gaong

-       Dhahar anep

-       Tumpeng tulak

-       Tumpeng jure

-       Tumpeng pasar

-       Bubur abang

-       Bubur putih

-       Jenang baro-baro

-       Berupa buah-biuahan: buah kelapa, pisang

-       Berupa bahan pangan: gula jawa

-       Berupa benda-benda lain: cuplak, kemenyan, seekor kebo bule betina, kulit punggung seekor penyu, kulit punggung seekor kura-kura, sepasang mimi mintuna, sebilah pisau baja, sepotong besi selindik berukuran 2 meter.

 

Urutan perarakan “miyosan” Kanjeng Kiai Tunggul Wulung adalah:

-       Barisan terdepan pasukan prajurit Jogokaryo dan Patangpuluh.

-       Kelompok abdi dalem golongan Kaji, diiringi Kiai Kanjeng Pangulu atau wakil dengan naik kuda.

-       Kelompok para petugas pembawa obor an pembawa perdupaan.

-       Kedua bendera pusaka, diapit oleh kurang lebih lima puluh abdi dalem Suronoto.

-       Kelompok para pembesar keraton sebanyak 13 orang.

-       Kelompok penduduk Yogyakarta.

Kemudian diarak keliling kota Yogyakarta itu berlangsung semalam suntuk dan baru berakhir di pintu pagelaran keraton pada saat fajar menyingsing. Sri Sultan dan para pejabat tinggi keraton serta sejumlah anggota keluarga Sri Sultan semalam suntuk berjaga dengan melakukan dzikir. Sesudah kedua bendera pusaka itu ditaruh kembali ke Gehong Hinggil, Sri Sultan memerintahkan agar nasi makanan kenduri dibagi-bagikan kepada para pejabat tinggi keraton. Di alun-alun utara masih ada kegiatan dalam rangka upacara ini yaitu menyembelih hewan korban bakar, kerbau bule betina yang dilaksanankan diantara kedua pohon beringin (waringin kurung). Kepala kerbau, darahnya dan benda sesajen

 
 
Statistik
00206146
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945