Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Tari Tradisional Kraton
Begawan Ciptoning Mintorogo

Beksan bedhaya Sri Kawuryan

Istilah- Istilah Gerakan Tari  Gaya  Yogyakarta

Tari Srimpi :Serimpi Cina,Serimpi Pistol,Serimpi Padhelori,Serimpi Merak Kasimpir,dll

Bedhaya : Wiwaha Sangaskara, Sang Amurwabhumi,Bedhaya Kakung,Bedhaya Madiun

Tari Bedhaya

Tari Serimpi

Tari Golek Lambangsari

Tari Golek Menak

Klana Raja

Menyajikan data ke- 1-10 dari 23 data.
Halaman 1 2 3 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Klana Raja
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 33459 kali

 

Salah satu tari tunggal Gaya Yogyakarta yang lahir di lingkungan istana, sering ditampilkan sebagai seni pertunjukan tersendiri yang klasik. Disebut Klana Raja karena figur Raja adalah manifestasi penguasaan mayapada dan alam astral yang hadir. Sebutan ”Klana” adalah bagi tokoh besar pengelana yang datang dari luar, yang dapat pula berkonotasi pada manusia-manusia yang suka mengikuti imajinasi terhadap hal-hal yang besar, cita-cita tinggi,yang kadang-kadang berasosiasi pada romantisme suatu ke” gandrungan ” yang tidak mesti bersifat erotis atau cenderung seks, melainkan pada idealisme yang estetis. Ada suatu kegagahan dalam pengeJawantahan.

Motif hiasan kepada klana Raja adalah”tropong”, seperti yang dipakai oleh Prabu Baladewa- Suteja yang terasa paling agung di antara hiasan kepala raja jenis lainnya, seperti ”songkok ”Duryudana yang masih dimungkinkan dipakai. Sedangkan ketu Narpati Basukarna, ”keling” Wibisana kurang lazim dikenakan. Berbeda dengan wayang pada umumnya, penari klana menambah sampurnya melingkar di leher, yang banyak berfungsi dibandingkan dengan penggunaan sampur pinggang.

Dalam penampilannya klana raja merupakan suatu penggambaran keagungan raja, dengan gaya tari gagah”kalang kinantang raja ” yang berbeda dengan ” kalang kinantang” biasa, terutama pada waktu ” ngunus ” kaki kiri, tangan kiri sejajar gerak kaki kemudian melanjutkan kearah badan, lengkung kekiri atas, kemudian ”coklek ” pergelangan tangan disambung ”pacak gulu ” yang menyelesaikan phrase gerak itu secara manis dan jantan. Demikian pula pose tangan kiri diperuntukkan pada ” ngoyong kanan” maupun pada saat ”tancep” yang memberikan ekspresi kesebaran. Di tingkat Irama gendhing ”lung gadung ” pelog bem, maka tarian ini mengumandangkan keagungan keagungan. Pada bagian ”nglana” iringan membawakan suasana erotik yang ”sakral” seperti diupacara temanten, berbeda dengan ”bendrong” pada klana topeng yang menggelitik secara profan, bahkan pada golek ”lambang sari” menimbulkan rangsangan tingkat tinggi karena kehalusannya.

 

 

 

 
 
Statistik
00210169
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945