Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Kategori : Lainya
Ganda Werdaya

Kanjeng Raden Tumenggung Jayadipura

Sudharso Pringgobroto

Sejarah Mataram Kotagede

Sejarah Pra Mataram

G.B.P.H. Suryobrongto

K.P.H Brongtodiningrat

Kanjeng Raden Tumenggung Purbaningrat

B.P.H. Tedjokusumo

PENINGKATAN KUALITAS KOTA PUSAKA (YOGYAKARTA)

Menyajikan data ke- 61-70 dari 72 data.
Halaman « 1 2 3 4 5 6 7 8 »

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Sejarah Mataram Kotagede
« Kembali

Tanggal artikel : 4 Maret 2014
Dibaca: 25101 kali

 


      KI AGENG  PEMANAHAN yang  juga disebut KI AGENG MATARAM III mengelola  Mataram    pada tahun 1568 – 1575, dulu menjadi Lurah Tamtomo Prajurit Pajang dan mendapat anugerah Tanah Mataram  dari Sultan Pajang , lalu  diambil menantu  Pangeran Sungeb di Saba , dinikahkan dengan  kakak perempuan Pangeran Juru

JURU MERTANI  di Mataram  dan  berputera Raden Danang Bagus Subruk lalu ganti nama : BAGUS DANANGJOYO,  ganti lagi : NGABEHI SUTAWIJAYA LORING PASAR.  Setelah menggantikan ayahandanya di Mataram, atas kehendak Sultan Pajang dinamakan : PANGERAN HARYO MATARAM SENOPATI ING NGALOGO , diangkat sebagai Pangeran pada tahun ALIP 1531,9 tahun kemudian naik Tahta bergelar

PANEMBAHAN SENOPATI . sebagai pendiri  dan Raja Pertama di  Mataram mulai tahun : 1575 – 1601 dan setelah wafat dimakamkan seatap dengan Ayahandanya di Astana Kotagede pada tahun 1601.

            Tampuk pimpinan Kerajaan Mataram kini  dipercayakan kepada puteranya yang kesebelas, yakni Raden Mas Jolang 

Menurut tradisi ,Mahkota Raja biasanya jatuh pada Putera Sulung laki-laki dari  isteri utama /Permaisuri.  Tetapi dalam prakteknya, Raja biisa  menentukan lain apabila  ada

pertimbangan –pertimbangan khusus.

            Demikianlah Raden Mas Jolang naik tahta Kerajaan Mataram sebagai Sultan ke II

dengan gelar : SUNAN PRABU HANYOKROWATI  sejak tahun : 1601 – 1613 M.

Sementara itu kakandanya (yang lebih tua ) RM.Kentol sudah agak lama ditugaskan oleh ayahandanya menjadi Adipati Puger di Demak dan kakandanya yang lain RM.Gatut juga telah ditugaskan menjadi Adipati Joyorogo di Ponorogo.

           Meskipun Panembahan Senopati telah lama meletakkan batu besar kekuasaan Kerajaan Mataram  dengan kerja keras tak mengenal waktu melalui perang-perang fisik untuk mempersatukan daerah-daerah yang dulu tunduk pada Kerajaan Pajang , namun daerah-daerah itu belum dapat diandalkan sepenuhnya.

Ketika terjadi pergantian Sultan di Pusat Mataram, daerah-daerah itu memberontak lagi.

          Mula-mula yang memberontak justru Demak, Propinsi Demak yang dipimpin oleh Adipati PUGER itu meliputi kabupaten-kabupaten Pati dan Sokawati (daerah Grobogan sampai Blora Selatan).  PUGER merasa diperlakukan tidak adil, mengapa sesudah wafat ayahandanya tidak menyerahkan Mahkota Mataram kepadanya sebagai putera laki-laki   yang tertua …?  Kenapa kepada Mas Jolang yang jauh lebih muda …?   Karena itu sang kakak  tidak sudi seba  ( menghadap ) pada sang adik.

          Tentara Pusat Mataram yang kuat dibawah  Pimpinan  Raden Mas Jolang sendiri    berangkat dari Kotagede menyerbu Demak di Utara,pada tahun 1602 M.Demak dikepung rapat, tetapi tentara Demak dibawah pimpinan Raden Mas Kentol alias Adipati Puger yang perkasa, dalam tempo pendek berhasil memukul mundur Tentara Mataram.

Sunan Prabu Hanyokrowati pulang ke Kotagede dengan menderita kekalahan,dia sangat kecewa.  

Kini Adipati Puger yang salah ukur, dengan pengalamannya berhasil memukul mundur tentara Pusat Mataram dari Demak Th.1602, dia menyangka pasti bias menundukkan Pusat Mataram.

 

sds

 

 

 

 

          Sebuah Pasukan besar dari Demak segera diberangkat ke selatan menuju Kotagede, dibawah pimpinan Adipati Puger untuk menundukkan Raden Mas Jolang pada

Tahun 1603 M. Tetapi baru tiba didekat Prambanan, Pasukan Pusat Mataram yang besar

Jumlahnya telah menghadang dan menghancurkan tentara Demak sampai kocar-kacir  ,   tentara Mas Jolang  ternyata lebih unggul  daripada tentara Puger.

Sekarang  giliran  Mas Jolang  yang menentukan  sejarah.

 

          Dengan pengalaman bertempur dua kali melawan tentara pemberontak Demak itu,

Tahulah Mas Jolang dimana kelemahan siasat militernya dan kelemahan Prajurit Demak.

Dengan perhitungan militer secara cermat,tentara Pusat Mataram dibawah pimpinan Sultannya sendiri pada th.1604 M.  berangkat ke Utara ( Demak ).

Dalam  pertempuran jarak dekat yang dahsyat,Demak sungguh-sungguh dihancurkan. Bukan saja tentara Demak yang morat-marit,prajurit-prajurit berguguran , tetapi  sawah- sawah yang sedang akan panen dibakar habis, perkampungan militer dibakar habis. Lumbung-lumbung padi ikut terbakar habis. Pendek kata Demak kehilangan persediaan makan.

 

       Sejak itu daerah Demak mengalami kemunduran yang mengerikan. Paceklik datang karena sawah-sawah telah rusak berantakan, rakyat menderita dan berbondong-bondong mulai mengungsi ke daerah tetangganya.

Adipati Puger ditangkap hidup-hidup,kemudian dijatuhi hukuman pengasingan dibuang

Ke daerah Kudus, hidup sebagai tawanan.

 

         Namun sewindu  (8 tahun) kemudian daerah-daerah pesisir memberontak    Gresik dan   Jaratan  di  sebelah Utara  Surabaya  menyatakan  berpisah  dengan  Pusat Mataram, mereka  merasa  kuat.       Gersik dan Jaratan waktu itu memang mengalami zaman emas , mencapai kemakmuran yang tinggi berkat perdagangan semakin maju.  Karena itu Gersik dan Jaratan membangun tentara lokal yang besar dan kuat.  Melihat ini Mas Jolang tidak menunggu waktu lagi.

Pada th.1612 M. itu pula sebuah pasukan besar berangkat ke timur, menggempur Gersik dan Jaratan dari daratan. Mataram mendapat kemenangan yang gemilang.  Kota Jaratan

Rusak  bosah – baseh  hamper  rata  tanah.  Penduduknya  yang  selamat  melarikan  diri mengungsi  keluar  daerah  dan  takut  kembali.    Sehingga sejak th.1612 M.Kota Jaratan lenyap namanya dari sejarah karena menjadi kota mati.

 

 

 

 

 

 

       sds

 

 

 

          Tetapi pekerjaan belum selesai. Adipati Kediri menyediakan diri untuk memimpin pemberontakan baru. Kediri menolak kekuasaan Mas Jolang. Adipati Jogorogo (Kakanda Mas Jolang sendiri yang menjadi Adipati Ponorogo) mengikuti Adipati Puger Demak tidak menyukai Mas Jolang. Dia Mendukung Adipati Kediri, dengan dukungan itu maka  sebuah pasukan gabungan dari Kediri, Kertasana (Wirosobo) dan Ponorogo  puluhan battalion lengkap dengan senjata berangkat menuju ke barat untuk menggempur Ibukota Mataram Kotagede. 

 

           Pasukan yang besar ini memang berhasil meninggalkan batas Jawa Timur untuk menundukkan Pusat Mataram, tetapi berhenti ditengah perjalanan karena dihambat hujan deras (musim penghujan).Wabah penyakit mulai menyerang kemah-

kemah prajurit, sementara itu rangsum ternyata kurang memenuhi kebutuhan. Tentara Jawa Timur ini terpaksa kembali ke asalnya tanpa membawa hasil.

 

          Pada tahun 1602 M. Mataram mempunyai pabrik-pabrik kapal di Kota-kota pantai

,Pabrik kapal besar di Banjarmasin dan pabrik kapal kecil di Lasem,Gersik dan Jaratan.

 

          Sayang sekali Raden Mas Jolang wafat sebelum mencapai usia panjang    sewaktu bercengkerama menghibur diri,berburu mencari kijang menjangan di hutan Krapyak ( hutan tutupan yang ditetapkan oleh Raja sebagai tempat perburuan binatang),  Mas Jolang mengalami suatu kecelakaan, sehingga gugur pada tahun 1612 M.

 Jenazahnya segera dibawa pulang ke Keraton Kotagede dan dimakamkan di Astana  Makam Kotagede dekat makam ayahandanya Panembahan Senopati.

 

           Krapyak terletak disebelah selatan Kota Yogyakarta kurang lebih 1 km.dari   alun-alun Selatan , masih dapat kita jumpai didesa Krapyak.

 Sampai sekarang masih dapat kita temui Krapyak   sebagai peninggalan bangunan kuno yang tinggi, tetapi bangunan itu bukan warisan zaman Sunan Prabu Hanyokrowati.

Bangunan tersebut dibuat oleh   Sri  Paduka  Sultan Hamengku Buwono I   ( Sinuwun Kabanaran atau Gusti Mangkubumi ) sebagai peringatan berdirinya Keraton Yogyakarta pada tahun 1682 Jawa = atau 1755 tahun Masehi.

 

 

 

 
 
Statistik
00209340
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945