Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /homeclient/jmn4505/public_html/contentdetil.php on line 312
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Cari : di :
www.tasteofjogja.org
 

Daftar Artikel
Menyajikan data ke- 1-0 dari 0 data.

Kategori Artikel
*Pendampingan Budaya di Desa (10)
*PERATURAN (13)
2013 : konggres pewayangan II (5)
Bangunan Cagar Budaya (33)
Basa Jawa (8)
Benda Cagar Budaya (9)
Budaya (119)
Busana Adat (2)
Desa Budaya (9)
Dolanan Anak (19)
Dongeng (0)
Drama (1)
Film (3)
Gamelan (6)
Karawitan (6)
Kawasan Cagar Budaya (20)
Kotagede (1)
kraton (22)
Lainya (72)
Lembaga Budaya (32)
Lembaga Pendidikan Budaya (8)
Makanan Tradisonal (2)
Museum (38)
Musik (12)
Organisasi Seni (10)
Pakualaman (5)
Properti Budaya (0)
sambutan (2)
Sejarah (21)
Seni (26)
Seni Pertunjukan (39)
Seni Rupa (2)
Situs (10)
Tari (30)
Tari Tradisional Kraton (23)
Tata Nilai Budaya (6)
Teater (2)
Tokoh Seniman Budayawan (108)
Upacara Adat (86)
Upacara Tradisi (21)
Wayang (17)
Konsepsi Kosmo Filosofi Kraton
« Kembali

Tanggal artikel : 1 April 2012
Dibaca: 23306 kali

Secara Umum Karaton Yogyakarta adalah bagian dari mata Rantai kesinambungan pembangunan karaton-karaton di Jawa sehingga terdapat satu keterkaitan Tipologis yang mengaitkan Karaton Yogyakarta dengan tata Fisik Karaton Jawa sebelumnya bahkan pada skala yang lebih makro terdapat kaitan tipologis dengan istana-istana di Asia Tenggara dari kurun sebelumnya.
Kesamaam tipologi ini terjadi karena latar belakang presepsi kosmologi yang sama, mewarisi tradisi Hindu tentang Jagad Purana yang berpusat pada suatu benua bundar Jambudwipa yang dikelilingi tujuan lapis daratan dan samudera. Pada Benua terdapat gunung Mahameru tempat para dewa bersemayam. Untuk menjaga keselarasan jagad, maka lingkungan binaanpun disusun secara konsentrik, membentuk istana sebagai replika jagad tersebut.
Gambar Jagad Purana, Jambu dwipa
Dalam tatanan ini kedudukan titik pusat sangatlah dominan, sebagai penjaga kesetabilan keseluruhan tatanan. Pada skala negara tatanan memusat terwujud dalam kota yang berpusat pada Kuthagara yang dikelilingi Negara Agung, Mancanegara dan Pesisiran pada lingkaran terluar
Dengan luas 1,3 km2 , kraton dibagi menjadi 7 bagian, sesuai dengan anggapan yang diwarisi dari agama Hindu , bahwa angka 7 merupakan angka yang sempurna. Hal ini sesuai dengan prinsip kosmologi Jawa yaitu bahwa dunia terbagi dalam 3 lapisan, yaitu dunia atas, tempat bersemayamnya para dewa dan supreme Being, dunia tengah tempat manusia, dan dunia bawah yang mewakili kekuatan-kekuatan jahat di alam. Dari susunan ini, dunia atas dan bawah terbagi dalam 3 bagian, sehingga lapisan dunia inipun menjadi 7 lapis.
Pembagian Kraton Yogyakarta menjadi 7 bagian (seven steps to heaven), antara lain :
Lingkungan I : Alun-alun Utara sampai Siti Hinggil Utara
Lingkungan II : Keben atau Kemandungan Utara
Lingkungan III : Sri Manganti
Lingkungan IV : Pusat Kraton
Lingkungan V : Kemagangan
Lingkungan VI : Kemandungan Kidul
Lingkungan VII : Alun-alun Selatan sampai Sitihinggil Selatan

Pada Karaton-karaton dinasti Mataram keberadaan pusat ini dalam wujud Bangsal Purbayeksa/Prabusuyasa sebagai persemayaman pusaka kerajaan dan tempat tinggal resmi Raja. Bangsal ini dilingkupi oleh pelataran Kedathon yang selanjutnya dilingkupi oleh pelataran Kemagangan, Kemandhungan dan Alun-alun pada lingkup terluar
Tata Ruang Karaton (pola konsentrik)
Lapis Terluar terdapat :
Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan dengan segala atributnya, yang terdiri dari :
Alun-alun Utara dengan Masjid Agung, Pekapalan, Pagelaran dan Pasar yang membentuk Catur Gatara Tunggal
Alun Alun Selatan dengan Kandang Gajah
Kepatihan sebagai prasarana Birokrasdan Benteng sebagai prasarana Militer
Lapis ke dua
Siti Hinggil - suatu halaman yang ditinggikan pelataran ini berada baik pada sisi utara dan selatan
Siti Hinggil Utara - terdapat bangsal Witana dan bangsal Manguntur Tangkil - tempat Sultan mengadakan upacara kenegaraan
Siti Hinggil Selatan - dipergunakan untuk kepentingan sultan yang lebih privat seperti menyaksikan latihan keprajuritan hingga adu macan dengan manusia (rampogan) atau banteng
Supit Urang / Pamengkang adalah jalan yang melingkari Siti HInggil
Lapis ke Tiga
Pelataran Kemadhungan Utara dan Pelataran Kemandhungan Selatan.
Suatu ruang transisi menuju pusat pada pelataran Kemadhungan Utara terdapat bangsal Pancaniti dan di pelataran Kemandhungan Selatan bangsal Kemandhungan.



Lapis Ke Empat
Pelataran Sri Manganti dengan bangsal Sri Manganti yang merupakan ruang tunggu untuk menghadap raja. Bangsal Trajumas berada di sisi utara
Pelataran Kemagangan dan Bangsal Kemagangan berada di sisi selatan
sebagai ruang transisi akhir sebelum ke pusat Istana
Pusat Konsentrik
Pelataran Kedhaton - pusat konstelasi tata ruang di kraton pada tengah pelataran ini terdapat susunan tata bangunan Jawa pada umumnya yang terdiri dari Tratag, Pendhopo, Peringgitan, Dalem.


Kasatriyan dan Dalem Kasatriyan terletak di timur komplek Kedaton


Keputren berada di sisi Barat komplek Kedaton

Setiap pelataran tersebut dilingkupi oleh Benteng yang membentuk enclosure yang cukup kuat dan antar pelataran dihubungkan oleh Gerbang sehingga ada 9 (sembilan Gerbang karena ada 9 (sembilan) pelataran
1.Gerbang Pangurakan
2.Gerbang Tarub Agung
3.Gerbang Brajanala
4.Gerbang Srimanganti
5.Gerbang Danapratapa
6.Gerbang Kemagangan
7.Gerbang Gadung Mlathi
8.Gerbang Kemandhungan
9.Gerbang Gadhing

Simbolisasi angka sembilan (9) dilihat dari jumlah pelataran, dan jumlah Gerbang karena memiliki arti simbolik kesempuranan sebagai alegori dari sembilan lubang yang ada pada manusia.
Pembangunan Karaton ini juga memiliki sumbu imajener Utara-Selatan sebagai sumbu Primer dan sumbu barat-timur sebagai sumbu sekunder
Tata ruang dan Kesakralan
Dalam kehidupan keraton. Sultan adalah figur sentral, wakil Tuhan di Bumi , pemegang kuasa militer dan keagamaan (Senapati Ingaaga Nagabdul Rahman Sayidina Panatagama Kalipatullah) sehingga Sultan dianggap sakral, begitu pula semua kegiatan resmi Sultan . Sehingga kesakralan ruang-ruiang dapat diindikasikan dari frekuensi serta intensitas kegiatan sultan pada aarea tersebut.
Alun-alun, Pagelaran, Siti Hinggil pada tempat ini Sultan hadir hanya 3 kali satu tahun yaitu pada saat Pisowanan Ageng Grebeg Mulud, Sawal dan Besar. Serta kesempatan yang sangat insidental yang sangat khusu misal pada saat Penobatan Sultan dan Penobatan Putra Mahkota / Pangeran Adipati Anom .
Kemandhungan kegiatan Sultan disini lebih intensif . Pada Pelataran ini terdapat Bangsal Pancaniti yang secara harafiah berarti (memeriksa lima) di sini Sultan melakukan pengadilan (khusus perkara yang ditangani Raja) bangsal ini digunakan pula oleh sebagian Abdi Dalem menunggu untuk menghadap Raja.
Pelataran Srimanganti tingkatan berikutnya. Pada area ini Sultan sering menerima tamu yang tidak terlalu formal dan semi formal. Di Bangsal ini Sultan Hamangkubuwana II menulis dan membacakan, buku kramat, Serat Suryaraja dihadapan para punggawa.

Pelataran Kedaton merupakan pelatran yang paling dalam dan sakral. Di pusatnya terdapat rumah segala pusaka milik Karaton, Prabayeksa dan bangsal Kencana tempat dimana Sultan bertahta memerintah sepanjang tahun. Ditempat ini Sultan menerima tamu paling penting setara Residen dan Gubernur.
 
 
Statistik
00210169
akses sejak 01 Januari 2012
Kontak :
copyright © 2012
Dinas Kebudayaan Provinsi DIY
Jl. Cendana 11 Yogyakarta, 55166
Telp. (0274) 562628 Fax. (0274) 564945